Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 6. Menjual Diri


__ADS_3


Menjual Diri



"Sierra!"


Perempuan yang sedang menerima pesanan pun menoleh, dia terkejut sekaligus kaget melihat seseorang yang memanggilnya, dengan semangat Sierra menghampirinya.


"Aku, tak percaya kau datang kemari!" seru Sierra merasa takjub.


Perempuan manis itu mengerucutkan bibirnya. "Aku, memang sangat ingin bertemu denganmu! Apa, kau berharap aku berbohong?!"


Sierra terkekeh kecil. "Tidak, tidak! Aku justru, senang bisa bertemu denganmu lagi!"


Rena melambaikan lengannya, seperti menyuruhnya pergi. "Cepatlah, minta izin pada bosmu! Aku, ingin sekali mengobrol denganmu, Ra."


"Tapi, mana mungkin aku meminta izin dijam kerja? Kau, ingin aku segera dipecat ya?!"


Rena tersenyum. "Tidak, aku tidak mengatakannya!"


Sierra menatap sebal ke arah sahabatnya itu, bisa-bisanya perempuan itu malah tertawa.


"Baiklah, tunggu."


Sierra pergi ke ruangan bos Cafe ini, yang tak lain adalah Kevino sendiri. Perempuan itu, mengetuk pintu beberapa kali, lalu terdengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya masuk.


"Ada, apa?" tanya Kevino, dia bertanya tanpa melihat ke arah Sierra. Pria itu malah sibuk dengan beberapa buku, yang berserakan di meja, hal itu membuat Sierra menatap Kevino sedikit sinis.


'Sok, sibuk sekali dia,' batinnya.


"Kau, tak lihat aku sedang sibuk? Jika, tak ada hal penting, lebih baik kau pergi saja!" Intonasinya, memang tak seperti bentakkan, tapi mampu membuat perempuan itu gugup.


"Temanku datang berkunjung, dan aku ingin meminta izin untuk menemaninya, apa kau akan mengijinkannya? Aku, berjanji akan melakukan apapun."


Kevino terlihat berhenti membaca kertas-kertas itu, pria blasteran Amerika itu terdiam sebentar.


Sierra semakin gugup, ia takut tak diperbolehkan. Jika dirinya menyuruh Rena menunggu sampai ia pulang, Sierra rasa perempuan itu tak akan mau menunggu.


"Bilang saja, kau ingin bolos bekerja. Baru satu hari saja, kau sudah berani begini, ck!"


Sierra menelan salivanya kuat-kuat, walaupun diluar ia seperti tak menghormati atasannya ini, namun ketauhilah, Kevino termasuk seseorang yang ia takuti, lebih lagi. Dirinya, baru mengenalnya beberapa bulan.


"Aku akan mengijinkannya, tetapi apa kau siap, jika nanti malam kau harus, mengantarkan lebih dari satu orang?"


"Aku tak keberatan, asalkan--"


"Aku juga tak akan memberimu, upah lebih. Bagaimana, kau setuju?"


Sierra menghembuskan nafasnya gusar. Apa, ia harus menyetujuinya? Mengatarkan satu penumpang saja sudah melelahkan, apalagi lebih dari satu.


"Baiklah, aku setuju," jawab Sierra dengan yakin.


"Oke, pintu keluar ada di sebelah sana!"


Sierra juga tahu! Kevino memang menyebalkan, tetapi dia juga termasuk orang yang harus ia waspadai.


Dengan sedikit kesal, Sierra berjalan ke arah pintu, bahkan saat menutupnya, ia membanting pintu dengan keras.

__ADS_1


"Bagaimana, kau dijinkan?" tanya Rena yang menunggu jawabannya.


Sierra semakin kesal, bagaimana tidak? Dia belum duduk sudah ditanya seperti itu, ditambah pekerjaannya yang semakin banyak.


Sierra duduk, tangannya meraih jus milik Rena, lalu meminumnya hingga tuntas.


"Kau, memang tak berubah! Selalu saja mengambil makanan orang lain! Tetapi, aku senang kau masih Sierra yang kukenal," jelas Rena dengan raut wajah yang sedih.


"Oh tidak! Kau, tak pantas memasang ekspresi seperti itu," kritik Sierra.


Rani semakin memajukkan bibirnya.


"Aku tak akan mengerti, jika kau tak cerita," ucap Sierra. Baru kali ini, ia bertemu kembali dengan sahabatnya setelah lulus, rasanya begitu banyak pertanyaan yang ingin ia katakan.


"Aku, ingin bekerja."


Sierra menahan mulutnya, yang ingin bersuara. 'Tidak! Tidak! Ini, bukan waktu yang pas untuk menghujatnya,' batin Sierra.


"Sebenarnya, aku kuliah di kota Bandung. Aku mengambil jurusan, bahasa."


"Lalu, mengapa kau ingin bekerja? Keluargamu tak bangkrut 'kan?" lontar Sierra.


Mendengar itu, wajah Rena semakin memelas. "Keluargaku, tak bangkrut karena kami kaya tujuh turunan plus tujuh tanjakkan, tapi tidak ada belokan."


Sierra geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya Rena bercanda dengan wajah yang begitu menyedihkan.


"Lalu, apa alasanmu ingin bekerja?" tanya Sierra yang berusaha sabar.


Satu detik itupula, wajah yang tadinya memelas berubah menjadi ceria. "Aku, hanya butuh uang untuk pergi ke klub. Ayahku, membatasi kartu rekeningku. Jika dia tahu, aku suka datang ke klub, nyawaku akan terancam!"


Sierra tersenyum paksa, dia tak tahu harus sedih atau senang. "Jadi, kau datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk membicarakan ini?!"


"Lalu?"


"Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu. Aku ke klub."


Sierra mengusap keningnya sendiri. Merasa tertekan.


"Tidak, dengarkan dulu!" seru Rena yang paham dengan raut wajah Sierra.


"Baiklah, lanjutkan!"


"Aku memiliki banyak teman di sana. Namun suatu hari, aku terkejut melihat wallpaper ponsel teman priaku, yang selalu datang ke klub. Kau, tahu foto apa?"


"Pasti, perempuan yang memakai pakaian minim!" tebak Sierra yang mulai semangat dengan arah pembicaraan ini.


"Tepat, sekali! Tetapi kau pasti terkejut, jika aku menyebutkan namanya!" balas Rena.


"Tunggu? Kau mengenalnya?"


"Tentu, saja! Bahkan, kau mengenalnya juga!"


Sierra sedikit bingung. "Aku? Aku mengenalnya?"


"Yap!" jawab Rena dengan penuh semangat.


"Siapa?" tanya Sierra.


Namun, Rena tak menjawabnya, dia hanya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ayolah, Ren. Siapa?" imbuh Sierra yang mulai prustasi.


"Bila," jawab Rena dengan wajah serius. "Sumpah, demi apapun aku tak berbohong, foto perempuan yang memakai pakaian minim itu, Bila. Adik sahabat kita, Bela."


Sierra menutup mulutnya, matanya membulat sempurna, dirinya terlalu terkejut. "Serius? Apa, kau tak salah liat?"


"Aku tidak salah lihat, foto itu jelas-jelas Bila. Aku, tak mungkin salah," pungkas Rena.


"Kau punya fotonya?"


"Tidak, temanku tak mengijinkannya. Dia, hanya bilang jika foto perempuan yang ia jadikan walpapernya adalah pacarnya, selebihnya dia tidak mau menjelaskan apapun."


Sierra diam. Dia tak bisa berkata apapun.


"Jika, itu memang Bila. Kenapa ia berfose seperti itu? Apa Bela, mengetahuinya? Bagaimana, jika--"


"Jika, apa?" tanyanya Sierra yang memotong perkataan Rena.


Rena menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tetapi, jika ada kabar tentang Bela, kau harus memberi tahuku!"


"Kabar terakhir yang kudengar. Dia, di kota ini. Tapi, aku tak pernah bertemu dengannya, setelah lulus pun, aku kehilangan kontaknya," jelas Sierra.


***


Malam pun tiba, Sierra sudah siap dengan mobilnya, dia mulai berangkat untuk menjemput para penumpangnya.


Satu persatu, Sierra mulai mengantarkan mereka secara berututan, ada yang minta ke klub, hotel, atau bahkan rumah mewah.


Sierra tak sepolos itu sampai tidak bisa membaca situasi.


"Apa aku bekerja, untuk mengantarkan para wanita yang akan menjual diri?" tanyanya pada diri sendiri.


Sierra menggelengkan kepalanya. Dia harus fokus! Tinggal satu penumpang lagi, Sierra harus menjemputnya dan mengantarnya.


"Tak peduli, seberapa kotor pekerjaanku. Toh, aku sudah terlanjur dibenci. Lagi pula, pakaian ini melindungi identitasku," lirihnya pelan berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Mobil yang dikendarai Sierra berhenti, ia menunggu penumpang terakhirnya.


Beberapa saat kemudian, seorang perempuan yang memakai pakaian minim masuk ke mobilnya, tanpa banyak kata, ia menjulurkan tangannya ke arah Sierra.


Sierra terdiam membeku, matanya fokus pada kaca.


"Pak! Ini, alamatnya!"


Bentakkan itu membuat Sierra tersadar, dia dengan cepat menoleh ke belakang untuk menerima kertas berisi alamat tujuan.


Namun, Sierra malah menatap lekat sosok itu, seolah-olah ia ingin memastikan sesuatu.


"Pak! Kenapa, diam saja! Ayo, berangkat!"


Sierra segera mengambil kertas itu, lalu langsung membalikkan badan. Dia mulai, menyalakan mesin dan berangakat.


Sepanjang jalan, tangan Sierra yang memegang kendali stir terasa dingin.


"Pak! Bisa lebih cepat!"


Sierra hanya mengangguk saja. Walaupun hatinya, ingin menghentikkan mobil ini, tetapi ia tak bisa.


'Apa itu, memang dia? Mengapa, dia bisa di sini? Apa dia bekerja seperti penumpangku yang lain?' batin Sierra.

__ADS_1


__ADS_2