Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 35. Ucapan Maaf


__ADS_3

"KENAPA IBU MELAKUKAN ITU!" Riva berteriak kencang pada Ibunya yang tiba-tiba datang dan langsung menembak Sierra. Riva berjongkok, menahan darah yang keluar dari perut Sierra.


"Kalau ibu tidak melakukan itu! Kamu yang akan dia tembak, Riva!" Wanita paruh baya itu menatap nyalang pada putrinya.


"Sierra nggak sekejam Ibu! Dia tidak akan membunhku!" seru Riva dengan nada khawatir, jika Sierra tidak diselamatkan saat ini juga, dia akan mati. Riva berniat menggendong Sierra.


"Jika kau membawanya pergi, ibu akan menembaknya lagi!"


"Ibu mau apa? Ibu mau dia mati, hah?!"


"Dia berengsek, Riva! Dia melaporkan ayahmu ke kantor polisi, dan bisnis ibu juga ikut ditutup oleh pemerintah! Dia juga anak dari Savia! Jangan lepaskan perempuan itu, Ibu ingin membunuhnya!"


Riva tersenyum simpul. Baru ingat jika bisnis Ibu kandungnya ini bekerja sama dengan geng mafia milik ayah angkatnya. Hidup ini memang terasa aneh bukan? Bahkan hal ini bisa terjadi.


"Bagaimana Ibu tahu bahwa, dia adalah ayahku?!"


Cora menatap ke arah lain. Menghindari tatapan mematiikan dari putrinya.


"Mengapa diam? Apa Ayah mengetahuinya!"


"Tidak! Dia tidak tahu apappun! Ayolah, Riva! Kemarikan Sierra pada Ibu!"


Riva mencodongkan pistol itu pada Ibunya sendiri. "Aku yang melaporkan itu. Aku yang melaporkan semua perbuatan bejat kalian!"


"Kau... "


"Kenapa Ibu terkejut? Apakah Ibu tidak percaya, jika aku sudah menghancurkan hidupmu?"


Cora tiba-tiba mencodongkan pistol pada Riva. "Aku percaya. Kau memang tak tahu malu. Aku menyesal karena telah melahirkanmu!"


Dor!


Dor!


Suara tembakan serta serine polisi pun membuat anak dan ibu itu terkejut, apalagi dengan kedatangan belasan polisi yang mengepung tempat ini.


"Jangan bergerak! Turunkan senjata kalian!"


***


Serla yang berada dipelukan Rena terus menangis histeris. Dia khawatir dengan keadaan Ibunya, dirinya juga takut terjadi sesuatu pada Kakaknya. Kenapa ini semua bisa terjadi pada keluarganya? Mengapa takdir suka sekali membuat keluarganya terluka.


Maldi yang mondar-mandir, hatinya terasa tak tenang setelah menelepon temannya yang berstatus polisi itu. Tiba-tiba deringan ponsel membuat Maldi langsung mengangkat panggilan itu. "Apa, Sierra terluka?!"


Serla pun semakin menjerit histeris, ibunya yang masih belum sadar, lalu sekarang kakaknya yang terluka.


Sierra dibawa ke rumah sakit yang sama, tak lupa dengan Riva yang ikut mendorong biankar. "Kumohon, jangan pernah. Kak Saga masih ingin melihatmu bahagia di dunia."


Riva meninggu di depan ruangan UGD. Perempuan itu ketakutan, air matanya tidak bisa berhenti sedikit pun. "Maafkan aku, Kak. Karena telah menyakiti Bundamu dan adikmu. Aku sungguh menyesal!" Riva tulus mengatakan itu, dari hatinya dia sangat menyesal karena telah menembak Savia. Riva pikir setelah menembak Ibu Sierra, dirinya akan merasa bahagia, nyatanya tidak, rasa bersalah mulai menghantuinya.


"Berengsek! Apa kau lakukan pada Kakakku??!" Serla datang dan langsung menarik Riva untuk berdiri, menghadapnya.


"M-maafkan aku..."

__ADS_1


"APA YANG KAU LAKUKAN! MENGAPA KAKAKKU TERLUKA!" Serla berseru dengan sekencang-kencangnya.


Plak! Plak!


Bahkan gadis itu menampar Riva beberapa kali, agar perempuan itu mau menjawabnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Rena yang baru saja datang langsung menghentikan Serla yang membabi buta itu, menenangkannya agar tenang. Rena juga berusaha untuk menenangkan Riva yang menangis. Dia juga terpukul dengan apa yang mereka rasakan.


Hingga beberapa saat kemudian, ketika Riva mulai tenang dia menceritakan semuanya, mulai dari obrolannya dengan Sierra dan Ibunya yang ditangkap polisi karena menembak Sierra, Riva juga akan menyerahkan diri karena telah membuat Savia terluka.


***


Beberapa tahun kemudian, di hari yang panas karena terik matahari, awan yang cerah menampilkan warna biru yang indah serta senyuman yang tak kalah manis dari seseorang perempuan. Dia berjalan sendirian dengan rasa rindu yang mendalam. Namun tiba-tiba rengkulan dari seseorang membuatnya menoleh.


"Aku kira, kamu tidak akan datang."


"Tentu saja, aku akan datang!"


Beberapa saat kemudian, para penjaga meminta untuk mengikuti ke ruangan kunjungan.


Seseorang yang sudah lama dipenjara itu, tak bisa berkata apa-apa saat putrinya tersenyum manis ke arahnya.


"Sierra... "


Yah, perempuan itu Sierra. Dia tersenyum manis pada sosok yang beberapa minggu lalu ia temui. "Apa, Ayah merindukanku?"


"Tentu saja! Aku sangat merindukanmu!"


Beberapa kesalahpahaman telah reda di antara keduanya. Tak ada lagi rasa benci dan kesal yang tersisa hanya kasih sayang. 


"Mengapa, kau ikut kemari?" tanya Septian pada seseorang yang duduk di samping Sierra dengan senyuman yang tak pernah pudar.


Septian menggelengkan kepalanya pelan. Akhir-akhir ini, pria itu selalu mengikuti putrinya, membuatnya sedikit iri. "Bagaimana kabar, Serla?"


"Dia baik, Ayah. Bahkan dia sedang mempersiapkan pendaftaran untuk masuk ke perguruan tinggi! Dia tak mau bertemu Ayah, sebelum pengumuman tes nya."


Septian tersenyum tipis mendengarnya. "Apa, Serla masih bekerja di dunia hiburan?"


"Ya, dia masih aktris kebanggan keluarga kita!"


"Syukurlah."


"Ayah, aku ingin meminta izin untuk bertemu dengannya."


Septian yang melihat wajah Sierra langsung paham, Septian pun menoleh ke samping. "Maldi, bisakah kau menemani putriku?"


"Tidak perlu, Ayah. Aku ingin sendiri."


"Hati-hati oke? Jika dia berbuat macam-macam, panggil petugas yang sedang bertugas!"


"Ayah, tenang saja."


Sierra pergi ke ruangan satunya, di mana seseorang menunggu dengan kepala yang menunduk.


"Permisi," kata Sierra. Perempuan itu perlahan duduk dan mendonggakkan kepala, tak peduli dengan bulu tangannya yang mulai berdiri, tak peduli dengan rasa gugup yang mulai menghantuinya, Sierra akan melawannya! Dia harus menghilangkan rasa takut ini, bagaimanapun caranya.

__ADS_1


"Aku tak menyangka, kau akan berkunjung."


Sierra menelan salivanya kuat-kuat. Kedua tangannya mulai bertautan untuk mengilangkan rasa gugup.


"Kenapa, kau tak bertanya tentang siksaanku waktu itu? Apa kau sudah melupakannya?"


Sierra mengatutupkan bibirnya. Bagaimana dirinya bisa melupakan hal yang mengerikan itu? Walaupun ingin, tetapi tidak bisa.


"Kau tahu, rasanya aneh sekali berhadapan dengan seseorang yang sudah aku anggap pembunuh. Tetapi, aku tak menyesal melakukannya, Sierra... "


Ekspresi datar Sierra membuat Rico terkekeh pelan. "Waktu itu, aku hanya ingin melempiaskan semua amarahku yang terpendam ini. Aku hanya ingin menyalahkahkan seseorang. Hidupku juga berubah saat Saga pergi dengan menenaskan..."


Rico adalah pria yang mmenyukai sesama jenis, awalnya dia hanya menjadikan itu sebagai hobi, namun suatu hari dia bertemu dengan Saga, sosok yang berubah karena dirinya. Rico senang bisa bertemu dengan Saga bahkan sampai mengadopsi Riva untuk menjadi pelengkap keluarga kecil ini. Namun saat mendengar kematiannya, membuat amarah Rico naik, dia bahkan melakukan organisasi seperti menjual senjata api, narkoba bahkan bekerja sama dengan bisnisnya Cora.


Sampai akhirnya. Rico menyuruh Kevino untuk mendekati Sierra dan mulai mempermainkan hidupnya. Hingga saat putrinya berkunjung dan menjelaskan semuanya, tak membuat Rico menyesal sedikitpun.


"Walaupun kau tidak membunuhnya, kau tetap bersalah."


Sierra menganggukkan kepalanya. Dia setuju tentang pernyataan itu.


"Tetapi aku yang lebih bersalah. Karena jika dia tidak bertemu denganku, dia tidak akan mati mengenaskan seperti ini," jelas Rico, sebelum akhirnya berdiri menatap Sierra dengan pandangan merasa bersalah?


"Maafkan aku." Rico mundur beberapa langkah lalu pergi. Sedangkan Sierra hanya diam. Namun matanya sudah berkaca-kaca.


Sesudah kunjungan, mobil berwarna merah datang menjemput Sierra dan Maldi. Membawa mereka pergi, ketika sampai, mereka berlima keluar dari mobil. Pemandangan yang indah dan tentram, angin sepoy-sepoy membuat rambut mereka menari indah. Mereka pun melangkahkan kakinya menuju tempat paling istimewa.


"Siang, Bunda. Sebelum tes masuk ke perguruan tinggi, aku ingin bertemu denganmu, meminta doa agar diberi kelancaran." Serla berbicara sambil mengusap batu nisan bundanya, dia sangat rindu sekali dengan Bundanya.


"Bunda, baik-baik saja kan? Kami rindu," kata Sierra.


Yap. Di kejadian itu hanya Sierra yang selamat, sedangkan Savia tidak. Takdir memang misteri.


Maldi, Rena, dan Serla mulai berjalan pergi ke mobil dengan tangisan. Apalagi Serla, gadis itu tak tega jika harus berada di sini.


"Kamu baik-baik saja?" ujar Bela pada Sierra. Yah, mereka sudah berbaikan. Bela menjadi sahabatnya lagi. Selama ini Bela selalu salah paham dengan kebaikan Sierra, ia pikir Sierra hanya mengejeknya dan mencacinya di belakang, tetapi dirinya salah. Sierra maupun Rena sangat tulus berteman dengannya.


Sierra mengatakan ia baik-baik saja. Bela berusaha mengerti. Mungkin Sierra, membutuhkan waktu, Bela pun pergi meninggalkan Sierra yang tak berniat beranjak sedikit pun.


"Bunda, baik-baik saja kan? Bunda tak perlu khawatir dengan kami. Kami diurus oleh Nenek. Dia sangat menyangiku. Aku bahkan merasa bersalah karena pernah membencinya... Namun semua rasa bahagia ini tak cukup jika tidak ada Bunda. Bunda bahagia selalu ya di sana. Kami akan selalu menyayangi Bunda."


Sierra berdiri, berniat pergi dari sana. Namun tarikan seseorang membuatnya sedikit oleng, hingga pelukan tiba-tiba ini membuat Sierra tak bisa berkata apa-apa.


"Aku merindukanmu Sierra!"


Mata Sierra berkedip pelan. Suaranya terasa tak asing.


"Aku Kevino. Calon suamimu. Maukah kau menjadi istriku?" ujar Kevino sambil melepaskan pelukannya secara perlahan.


Sierra mematung. Wajah itu benar-benar terpampang jelas di hadapannya. Wajah yang selalu ia rindukan, Sierra bahkan selalu bertanya-tanya tentang keberadaan Kevino, katanya dia dibebaskan, tetapi kenapa tidak pernah muncul di depannya?


"Ayo istriku, jawab."


Ini terlalu tiba-tiba, lagipula hatinya ini masih telalu abu-abu. Hingga akhirnya, sebuah benda merah mengenai bibirnya, menciumnya dalam. Hanya satu kecupan.

__ADS_1


"Mau. Aku bersedia menjadi istrimu."


END


__ADS_2