
Dins memegang tangan Medina dan membawa nya keluar untuk membuatnya merasa lebih baik, dia mengambil jaket yang tergantung dibelakang pintu dan juga topi.
Dia memasang topi di kepala Medina untuk menutupi wajahnya yang sembab karena tangisan.
" aku akan mengajakmu ke suatu tempat, tidak apa- apa kan? "
" kemana aja... asalkan bukan dalam rumah "
Dins kemudian menjalankan mobilnya dan Medina duduk di sampingnya.
" aku tidak mau duduk di belakang, aku merasa sendirian jika duduk disana " kata Medina sambil memakai seat belt.
Sepanjang perjalanan, Dins sengaja diam agar Medina merasa lebih baik. terkadang seseorang yang sedang sedih butuh waktu untuk berpikir dan menyendiri agar permasalahan yang dihadapi cepat reda dengan sendirinya.
Medina menghela nafas " dari tadi kamu diam aja, nggak nanya apa gitu... "
Dins tersenyum " gimana... udah merasa lebih baik?? atau perlu kita keliling lagi "
Medina membuka jendela mobil agar udara dingin menerpa wajahnya dan matanya yang sembab mulai berkurang.
" makasih ya... kamu udah membuat aku merasa lebih baik "
" aku ingin ke suatu tempat, kebetulan aku udah lama tidak kesana... kamu mau ikut atau kita balik aja ke apartemen kamu " kata dins.
" aku ikut... aku belum mau pulang sekarang " kata Medina.
" oke... kita kesana ya, tapi aku ingin singgah membeli sesuatu " kata dins.
Dins berhenti di depan Alfamart dan memarkir mobilnya. Medina tidak ingin masuk ke dalam, akhirnya dins kemudian turun dan membeli sesuatu.
__ADS_1
Medina melihat Dins dari belakang, sosok yang terkadang membuat hatinya terusik, ahh kenapa aku selalu memikirkan dia dan terasa nyaman ketika berada di dekatnya.
Dins yang masuk kedalam Alfamart dengan tampilan cuek dan kece membuat kasir Alfamart terpana melihatnya.
Beberapa sembako dia beli dan aneka makanan serta cemilan pun dibelinya, Dins kemudian ke kasir untuk membayar.
" kak ada nomer WA nggak? kata gadis penjaga kasir.
" Ohh... untuk apa dek " kata Dins sambil tersenyum
Medina masuk dan mengambil belanjaan Dins membuat Dins sedikit kaget, " dia punya nomer WA mbak... tapi dia udah punya pacar, paham kan?? ayo sayang, usah bayar kan? buruan jalan " Medina menarik tangan Dins membuat dia salah tingkah.
Gadis penjaga kasir tersipu malu dan setelah diluar, Medina memberikan kembali kantung belanjaan Dins padanya.
" nih bawa... enak aja, berat tau... kamu jadi cowok itu jangan murahan, nomer WA kamu jangan dikasih sama sembarang cewek " kata Medina dengan wajah sedikit kesal.
Dins tersenyum dan berjalan menuju arah mobil
Medina berbalik menatap Dins, matanya yang sendu membuat hatinya bergetar " akun nggak cemburu... aku hanya ingin kamu selalu profesional dalam pekerjaan kamu, itu aja kok ".
" okeee, baik... aku akan mengingat itu selalu, bu Medina " Dins mengedipkan matanya kepada Medina sambil naik ke dalam mobil.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah permukiman yang kumuh dan agak gelap, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.50 WIB.
Dins mengetuk pintu rumah tersebut, Medina yang sedari tadi berdiri merasa iba melihat kondisi rumah tersebut.
Seseorang membuka pintu..." nak Dins kamu datang? apa kabarnya, lama tak jumpa ya... silahkan masuk, eh ada bu Medina juga "
Orang tua yang dulu menjadi nasabah Dins ketika bekerja di koperasi ilegal, mempunyai anak cacat yang bernama Fikar.
__ADS_1
dia tidak lupa dengan Medina di usianya yang sudah menua itu. Medina pun tersenyum dan menyapa orang tua itu " apa kabarnya pak...fikar gimana? sehat kan "
" Alhamdulillah mbak.. sejak mbak dan mas Dins membantu pengobatan di Rumah Sakit, fikar sampai saat ini belum sakit lagi, dia masih tidur mbak ".
Bunyi azan berkumandang, Dins kemudian meminta ijin untuk sholat di masjid yang dekat dengan rumah orang tua fikar.
" Aku sholat dulu ya pak, tolong titip Medina...oh ya ini ada sedikit makanan dan cemilan untuk bapak dan fikar " Dins memberikan belanjaannya kepada orang tua itu.
" MashaAllah...kenapa mas Dins repot bawakan ini semua, datang kerumah bapak saja sudah Alhamdulillah..." orang tua itu berkata dengan mata yang sedih.
" nggak apa- apa pak, ini rejeki Bapak dan Fikar.. semoga berkenan ya pak, saya ijin sholat dulu "
Dins kemudian berjalan keluar menuju masjid terdekat, Medina tertegun melihat sikap Dins yang baik hati dan selalu berbagi dengan orang lain.
Selama ini dia dan Reno selalu hidup dalam kemewahan dan kesenangan, tanpa melihat disekeliling nya banyak orang yang membutuhkan.
Hati Medina tergerak melihat sikap Dins yang selalu berbagi dengan orang-orang susah walaupun dia sendiri kurang mampu.
Bapak tua itu menyuguhkan teh manis kepada Medina " maaf mbak, hanya ini saja yang ada dirumah kami... silahkan di minum mbak ".
" Terima kasih pak, nggak usah repot- repot.. " kata Medina.
" mas Dins sangat baik padaku dan Fikar mbak... nggak tau sy mau balas pakai apa " orang tua itu berbicara dengan mata berbinar.
" maksud Bapak gimana... " kata Medina
" mas Dins sudah banyak membantu kami mbak, pengobatan dan rawat jalan Fikar dia semua yg bayar... utang saya di bos koperasi yang belum terbayar, mas Dins juga yang bayar semuanya "
Medina kaget dengan apa yang dikatakan oleh Bapak tua itu... " kamu benar-benar orang baik Dins " Medina berbisik dalam hatinya.
__ADS_1
............