
Sebuah ruangan kantor megah dengan penataan ekslusif dan mewah ditambah dengan barang branded menambah kesan sosialita sang pemilik ruangan.
Bunyi pintu terbuka, tampak sosok cantik berambut pendek yang terlihat modis dan rapi memasuki ruangan dan ditemani seorang pria yang tak kalah elegan lengkap memakai jas dan outfit yang cukup berkelas.
" Halo.....aku Nindy Sanjaya, kamu Dins Atmajaya ?? " sambil mengulurkan tangan kepada Dins untuk berjabat tangan.
Dins mengganguk dan menjabat tangan Nindy dengan cepat dan kembali duduk.
" jadi kamu pria dengan golongan darah yang sama dengan suami saya kan..."
"udah tau jumlah imbalan yg akan kamu terima dan konsekuensi pekerjaan kamu nantinya...udah paham kan ? " kata Nindy menatap Dins dengan dingin.
Namun dalam hati Nindy, Dins adalah pria mempesona dan misterius yang sedikit membuat hatinya tertarik.
Perasaan itu secepat mungkin dia tepiskan dan kembali fokus untuk membuat sebuah perjanjian yang telah ia siapkan bersama Ary, sekretaris Reno.
" Silahkan di baca dulu dan ditanda tangani dengan baik, jangan salah paraf ya..." kata Nindy.
" Baik Bu, saya akan baca dulu...setelah setuju kemudian sy kan paraf "
" Jangan panggil aku Ibu, aku belum punya Anak dan seperti nya umur kita tidak jauh berbeda, panggil saja aku Nindy " dengan sedikit melirik Dins penuh makna.
Dins menanggapi perkataan Nindy dengan datar dan tetap fokus membaca kertas kontrak yang diberikan padanya.
" okee, aku setuju dengan pernyataan di surat ini....kapan darah saya mulai di ambil, agar saya mempersiapkan diri terlebih dahulu " kata Dins sambil menandatangani surat kontrak.
" Mulai besok pagi kamu ke Rumah sakit tempat mas Reno di rawat dan langsung bertemu dengan dokter atau perawat yang ada disana "
Nindy kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sebuah kertas cek yang sudah dia tanda tangani sebelumnya.
Cek sejumlah 30 juta terlihat jelas di kertas kecil itu. " sisanya akan saya berikan, jika Reno sudah betul2 sembuh dan pulih kembali " kata Nindy sambil memberikan kertas cek tersebut kepada Dins.
__ADS_1
" Okee, baik... " Dins mengulurkan tangan tanda setuju kepada Nindy, dan segera di sambut oleh Nindy dengan senyum mempesona.
Dins kemudian keluar dari ruangan tersebut ditemani Ary yang sedari tadi menunggu di depan pintu.
Dins menoleh kebelakang dan tersenyum meninggalkan Nindy yang terdiam didalam ruangan.
Ary berjalan mengantar Dins keluar dari kantor agar Dins tidak memasuki ruangan yang salah, karena kantor perusahaan yang besar dan megah itu memiliki puluhan lantai dan ruangan yang sangat banyak.
Bagi seorang Dins, memasuki kantor dengan ruangan yang sangat besar itu adalah pertama kali untuknya.
Keinginan Dins sejak dibangku SMA adalah dapat bekerja di sebuah perusahaan besar dan meraih kesuksesan.
Namun takdir berkata lain, Ayahnya meninggal di saat usianya masih sangat kecil...sehingga menguburkan dalam2 keinginan nya tersebut.
Dapat memenuhi kebutuhan ibunya dengan bekerja apa saja sudah cukup buat Dins, karena yang terpenting buat dirinya adalah selalu bisa membahagiakan Ibunya.
..........
" haaii ibuuu...." sapa seorang perawat yang sejak Ibu Dins dirumah sakit dia selalu datang dan memberikan kebutuhan atau keperluan apapun untuk ibu Dins.
" Maafkan ibu nak, belum bisa membalas kebaikan kamu...sejak Ibu di Rumah Sakit..kamu selalu ada dan mengurusi semua keperluan Ibu ".
Perawat manis itu tersenyum dan merangkul Ibu Dins....
" nggak kok Bu, Ina iklas bantu ibu..karena ibu juga baik sama Ina, tapi buuu....boleh nggak Ina dekat sama kak Dins "
" Jujur Ina suka sama kak Dins Bu, sejak pertama kali Ina melihatnya "
Ibu Dins tersenyum dan membelai rambut Ina.
" boleh kok nak, ibu senang kalau ada gadis manis dan sebaik kamu dekat sama anak ibu"
__ADS_1
" tapi kamu tau kan Dins seperti apa, dia cuek dan kadang kasar sama wanita..."
" Ibu harap kamu memakluminya ya nak " kata ibu Dins sambil sesekali menepuk tangan Ina.
" Aku nggak kasar kok bu, aku hanya menjaga hatiku untuk ibu selalu " tiba- tiba Dins muncul dari arah pintu kamar rawat inap, membuat Ina kaget dan tersipu malu.
Ibunya memeluk Dins dengan erat tanda rindu dan bahagia karena akan segera pulang kembali.
Ina meminta pamit kepada ibu Dins dan segera buru2 keluar, namun tanpa sengaja menabrak bahu Dins karena terburu-buru.
" maaf kak, sehat selalu ya ....ibu juga, ina akan merindukan ibu dan juga kak Dins " kata Ina dengan wajah sedih.
Dins meraih tangan Ina dan memegangnya.
Ina berdebar tak karuan dan wajahnya merona tanda malu dan salah tingkah.
" terima kasih ya dek, untuk semuanya....karena kamu, ibu saya jadi tidak kesepian dan merasa bahagia setiap harinya " kata Dins sambil menatap wajah Ina.
Ina yang ditatap begitu tajam oleh Dins merasa malu dan kikuk.
" Sama2 kak Dins...jangan lupakan Ina ya...kapan2 boleh main kerumah kak Dins dan ibu kan ???" kata Ina.
" boleh kok nak, ibu akan senang jika ina datang ke rumah Ibu ".
Telpon Dins berdering......
" halooo....iya benar saya Dins, maaf dengan siapa ?? "
" RENO SANJAYA ..." sayup2 terdengar suara pria dibalik telpon.
...............
__ADS_1