
Jam pelajaran pun di mulai, selang beberapa waktu hadir guru perempuan yang bernama Sarah. Ia merupakan wali kelas kami, ia menentukan perangkat kelas dan juga jadwal piket serta membagikan jadwal pelajaran pada kami. Aku hanya duduk diam, mengikuti semua instruksi sedangkan untuk perangkat kelas aku sama sekali tidak tertarik. Ya seperti ini lah diri ku, aku slalu menutup diri ku, tak ingin terlalu terlibat.
Pagi ini berjalan dengan sangat lancar, karena ini baru hari pengenalan jadi di jam berikutnya kami di bebaskan untuk lebih mengenal daerah sekolah. Sekarang aku sedang berjalan sendiri menyusuri koridor demi koridor kelas. Sisil?? Jangan di tanya dia seperti nya sudah banyak teman, ia terus saja di ajak oleh teman teman nya entah kemana. Itu bagus juga, seperti nya aku memang butuh sedikit menjauh dari orang orang.
Tak terasa langkah ku membawa ku ke halaman belakang sekolah, di sana ada sebuah pohon besar yang cukup rindang. Aku memilih duduk bersandar di pohon itu sembari membaca novel ku. Yah aku memang membawa sebuah novel bersama ku, memang tujuan nya untuk membaca tanpa di ganggu. Namun baru beberapa saat aku membaca, aku merasa seperti tengah di awasi seseorang. Ketika aku menoleh tak ada siapa pun di sana.
"Mungkin perasaan aja..." Ujar ku sembari melanjutkan membaca novel.
Kryyuuuukk
Kryuuukkk
"Aisshhh perasaan aku udah sarapan tadi, tapi dah laper..." Ujar ku menghela nafas sembari memegang perut ku.
"Udah lah ke kantin aja kali yah..." Baru saja aku ingin ke kantin depan namun aku melihat sebuah koridor di mana ada siswa yang datang sembari membawa makanan.
Aku pun menjadi penasaran, aku segera menuju ke sana dan benar saja rupa nya itu adalah kantin belakang. Di sini tersedia banyak jajanan juga, yang membuat ku senang karena tak perlu capek berjalan ke depan. Jarak dari halaman belakang ini ke kantin depan memang lumayan jauh, karna sekolah kami yang terbilang sangat luas bagi ku. Aku segera menghampiri salah satu kedai yang menarik perhatian ku. Rupa nya di sini menjual mie, dengan harga 3 ribu rupiah yang membuat ku tersenyum senang. Sangat ramah di kocek dan lagi dari bau nya sangat menggugah selera.
"Bu, pesen mie satu pake kuah yah..." Ujar ku antusias.
"Di tunggu yah..." Ujar yang ibu penjual mie.
Tak lama mie pun jadi, ternyata isi nya satu mangkok ini luar biasa untuk ku. Dan lagi di sediakan saus kecap serta beberapa cabai rawit yang bebas di ambil.
"Apa gak rugi??" Pikir ku.
"Ah udah lah makan aja...." Ujar ku sembari menambahkan saus dan juga beberapa cabai rawit yang ku penyet dengan sendok, memang tak begitu halus Tapi itu sudah cukup.
Aku sangat menikmati karna mie nya memang sangat enak di tambah dengan rasa pedas yang sesuai dengan selera Ku. Tak lama aku menyelesaikan makan ku, dan meminum sebuah air mineral cangkir yang ada di hadapan ku.
"Bu berapa??" Tanya ku.
"makan apa aja neng??" Tanya Bu Laras sang pemilik kedai.
__ADS_1
"Mie satu sama air satu udah di minum sama ini satu lagi..." Yah aku memang membawa satu cangkir air untuk ku bawa, siapa tahu aku haus lagi.
"4 ribu aja neng..." Jawab Bu Laras.
"Ini Bu..." Ujar ku sembari mengeluarkan uang 4 ribu dari saku ku.
Setelah membayar aku segera beranjak dari sana, aku kembali menuju pohon rindang tadi.
"Akhir nya bisa santai, eh mendung??" Lirih ku menatap langit yang sedikit di tutupi awan hitam.
"Semoga gak ujan deh, repot ntar..." Harap ku.
Aku kembali melanjutkan membaca novel, sampai aku menjadi lupa waktu.
Tes
Tes
Brukkk...
"Awww..." Ringis ku saat aku jatuh terduduk setelah menabrak seseorang.
Orang yang ku tabrak mengulurkan tangan nya pada ku, aku mendongakkan kepala untuk melihat. Dan seketika senyum ku melebar mengetahui siapa itu.
"Ceroboh nya gak ketulungan lu.." Seru nya membantu ku berdiri sedangkan aku hanya bisa menyengir kuda menanggapi nya.
Namun pandangan ku tertuju pada lelaki di sebelah nya, yang sedari tadi menatap ku dengan dingin.
"Woyy.. Mikirin apaan Yunaaa...." Aku terkaget mendengar teriakan pemuda di hadapan ku ini.
"Isss Di, mau bikin jantung ku copot..." Kesal ku.
"Abis nya malah melamun..." Seru nya sembari merangkul bahu ku dan mengajakku berjalan bersama nya.
__ADS_1
Dia Aldi teman sepermainan ku sedari kecil bisa di bilang kita ini sahabat karib. Aku begitu nyaman berada di dekat nya, karena ia tak pernah memandang ku dari segi materi. Yah dia termasuk keluarga kaya namun ia tak pernah memandang rendah diriku. Ia juga sering membantu ku saat ke sulitan bahkan selama sekolah dasar, ia terkadang membayar biaya buku ku atau pun mentraktir ku jajan.
"Eh di, dia siapa??" Tanya ku lirih setengah berbisik pada Aldi.
"Ahh iya lupa... Na, kenalin ini temen sekelas aku nama nya Rega, Rega Argantha..." Jelas Aldi.
"Ohhh... Ayuna.." Aku tersenyum manis pada pemuda yang bernama Rega ini.
Namun yang ku dapat hanya deheman, gumaman tak jelas yang membuat senyum ku yang tadi nya tulus menjadi kecut.
"Udah abaiin aja dia emang gitu... Lagi pula masa lu gak kenal dia sih..." Ujar Aldi.
"Lah?? Emang harus gitu aku kenal sama dia..." Sewot ku memalingkan muka.
"Astaga dia iyu kan tetangga elu ogep... Kuper amat jadi orang!!" Kesal Aldi menggeleng geleng kan kepala nya.
"Hah??" Aku di buat berkedip beberapa kali untuk mencerna ucapan dari Aldi.
"Tetangga??" Tanya ku memastikan.
"Iya, dia kan tetangga sebelah rumah lu... Bahkan kamar nya sama elu itu hadapan, lu liat keluar jendela kamar lu itu kamar dia!!" Jelas Aldi.
"Astaga apa aku se kuper itu... Kemana aja aku selama ini..." Batin ku tertekan karna memang tak tahu sama sekali tentang pemuda di samping Aldi ini.
"Aisshhh Na.. Na... Lu gak pernah berubah, dulu aja kalo buka gara gara gua yang terus nempel sama lu, lu mana mau temenan sama gua, bahkan nama pun gak tau kayak nya..." Kesal Aldi.
"Hehe, tapi tuh sadar lu nempel mulu kayak perangko.." Kekeh ku.
"Eh, nah tuh bisa bahasa gaul... Pake lu gua aja na, biar lebih nyaman..." Ujar Aldi.
"Isss gak biasa aku, tapi ntar coba terus biar gak ketinggalan jaman ...." Ujar ku sembari menunjukkan deretan gigi ku.
Namun perhatian ku teralihkan dengan Rega yang sedari tadi diam hanya mendengarkan celotehan ku dan Aldi. Aku benar benar tidak tahu kalau dia tetangga ku, sepertinya aku memang kurang perhatian pada lingkungan sekitar ku.
__ADS_1