
Aku menggeliat merasakan hangat nya terpaan sinar mentari yang menghangat kan tubuh ku. Namun aku sama sekali tak berniat membuka mata ku. Karna kepala ku masih saja berdenyut, aku hanya ingin istirahat seharian ini. Tak peduli aku akan di marahi atau bagaimana, aku hanya ingin mengistirahatkan tubuh ku. Dan benar dugaan ku, pintu kamar ku di buka secara kasar oleh seseorang. Namun aku tak berani membuka mata ku, aku hanya menggenggam lengan ku di balik selimut.
"Anak gak ada otak!!" Teriak ayah ku yang membuat ku terlonjak kaget dan langsung duduk meski aku jadi agak limbung karna kepala ku berdenyut hebat
"Gak di liat udah jam berapa?? Jangan pikir gak sekolah terus males malesan!!" Teriak ayah ku, aku hanya menunduk sembari menahan getaran di tubuh ku.
"Kalo udah gak mau sekolah berenti aja sana!!" Lagi suara tinggi itu memekakan telinga ku.
Tes
Tanpa terasa setetes air mata jatuh luruh begitu saja tanpa bisa ku cegah.
"Bangun!!" Ayah ku langsung menarik ku kasar sehingga aku langsung terjungkal ke lantai. Hati ku sudah menangis meraung Raung namun itu semua tak ku tunjukkan.
"Masak sana!!" Titah ayah ku sembari meninggalkan aku yang masih terduduk di lantai.
"Hikss... Hikss..." Tangis ku pecah saat itu juga.
Kepala ku yang terus saja berdenyut di tambah dengan teriakan dan makian ayah ku membuat keadaan ku semakin parah. Namun aku tak berlarut larut karena takut ayah ku kembali lagi. Dengan keadaan yang sempoyongan aku berjalan tertatih tatih ke arah dapur. Segera ku lihat bahan bahan yang bisa ku masang. Aku memilih untuk membuat sayur asam saja karena itu yang paling gampang dan cepat.
Aku ingin cepat cepat menyelesaikan segala nya, tak butuh waktu lama masakan ku selesai. Aku kembali menuju kamar, namun bukan untuk kembali tidur melainkan untuk mengambil handuk dan pakaian ganti. Setelah itu aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri ku. Setelah membersihkan diri, aku segera mengambil piring dan mengisi nya dengan nasi dan juga lauk nya tak lupa aku juga membawa air minum. Kemudian beranjak kembali ke kamar ku.
Ku lihat keranjang pakaian yang semalam sudah ku setrika sudah tiada lagi. Aku sangat yakin, ibu ku yang sudah membereskan nya. Yah meski pun ucapan ibu ku terkadang menyakitkan, dan sikap nya seolah tak peduli. Namun batin seorang anak tak mungkin salah, ia begitu menyayangi ku. Hanya saja yang tak aku mengerti mengapa sikap nya berbeda dengan anak nya yang lain.
"Bismillah.." Aku segera memakan makanan ku.
__ADS_1
Meski pahit sekali terasa di lidah ku, namun aku tetap harus makan karena aku butuh tenaga. Hanya beberapa menit aku sudah menghabiskan makanan ku. Niat ku, aku ingin istirahat sebentar menyandarkan diri di tembok setelah itu baru beres beres. Namun baru saja bersandar lagi lagi pintu kamar ku di buka secara kadar. Membuat seluruh tubuh ku gemetar melihat sosok yang sangat aku takuti dan mungkin sudah tertanam rasa benci di hati ku.
"Aa.. Aaa... Aayahh..." Lirih ku dengan gagap.
"Masih gak bangun juga!!" Teriak ayah ku yang langsung menarik ku.
Aku meronta ronta meminta ampun, namun sama sekali tak di dengar. Teriakan raungan ku seakan tak terdengar saat kembali sosok yang di puja banyak anak perempuan ini kembali menghadiahi ku cetak hitam merah dan biru di sekujur tubuh ku.
Suara ku bahkan sudah habis untuk berteriak, tenaga yang baru saja ingin aku kumpulkan seakan lenyap. Tatapan ku kosong seperti tak lagi hidup, cahaya di mata ku pun meredup. Aku memejamkan mata ku sembari meringkuk di lantai yang dingin itu. Air mata ku tak lagi mengalir karna sudah terlalu banyak terbuang.
"Aku ingin mati..." Batin ku.
"Aku ingin mati..."
Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku bangkit dan menuju laci lemari ku. Di sana terdapat alat alat tulis ku, juga ada beberapa karton dan barang lain nya. Aku mengambil cutter yang ada di sana, dengan tatapan kosong terus menatap cutter itu..Tanpa berpikir lagi aku segera menyayat nadi ku menggunakan cutter itu. Bahkan sudah tak terasa sakit lagi rasa nya, sakit di tubuh ku kalah sakit dengan sakit di hati ku.
Tak lama kepala ku terasa berputar putar aku pun ambruk di lantai. Namun Kesadaran ku masih sedikit samar samar, dan pendengaran ku masih jelas. Terdengar jelas suara langkah kaki yang menuju kearah ku. Ada juga samar samar suara yang memanggil nama ku namun sudah tak begitu jelas. Perlahan namun pasti kesadaran ku menghilang, dan semua nya menjadi hitam.
Suara ricuh membuat ku terusik, aku mencoba membuka mata ku namun tak bisa. Rasa nya begitu berat, meski aku terus saja memaksakan mata ku terbuka namun nihil mata ku tetap terpejam. Telinga ku cukup tajam untuk mendengar suara ribut itu.
"Sekarang puas kamu!! Bunuh aja tuh anak jangan di siksa kayak kamu nyiksa aku!!"
Deg
Begitu nyaring ku dengar suara ibu ku berteriak.
__ADS_1
"Kamu cuma bisa nya mukulin istri sama anak!! Guna kamu jadi suami apa!! Kerja nggak!! Cuma bisa marah marah di rumah!! Bahkan anak pun harus jadi korban hah!!" Terdengar sekali suara teriakan ibu ku yang mengisyaratkan emosi yang luar biasa.
Namun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut orang yang di ajak nya bicara. Tapi aku sangat yakin bahwa orang itu pasti lah ayah ku. Aku menghela nafas kasar, karena percobaan bunuh diri ku gagal dan justru tubuh ku serasa tak ada tenaga. Bahkan untuk membuka kelopak mata ku pun tak ada tenaga sama sekali.
"kenapa aku gak mati aja sih!!' Batin ku.
"Aku tau ini dosa!! Tapi aku bener bener udah gak mau hidup lagi" Batin ku kembali berkecamuk, hari ku sudah meraung Raung ingin menangis.
Namun air mata ku seakan kering dan sudah tak sanggup lagi menetes.
"Begini lah rasa nya terluka tapi gak berdarah!!" Batin ku.
Aku terus mendengar teriakan teriakan ibu ku yang terus memakai. Entah sudah berapa lama waktu berlalu sampai ibu ku pun mengakhiri ucapan nya. Kemudian terdengar suara yang cukup keras.
Brakkkk
Suara pintu yang tertutup begitu kencang, aku yakin ibu ku yang melakukan nya. Aku hanya dia karna memang belum bisa membuka mata ku. Tak ku sangka sebuah tangan mengusap pelan Surai rambut ku yang membuat hati ku bergetar.
"Ibu..." Batin ku.
Ku rasa kan hangat di puncak kepala ku saat bibir itu mengecup lembut di sana. Ia tak berkata apapun lalu ku dengar langkah nya mulai menjauh dari ku. Suara pintu yang di buka membuat ku semakin yakin bahwa ia meninggalkan ku. dengan segala keterkejutan ku.
"Apa ibu sayang sama aku??" Entah lah pertanyaan konyol itu tiba tiba terlintas di benak ku.
Padahal aku tahu tidak ada seorang ibu pun di dunia ini yang tidak menyayangi anak nya. Bahkan singa yang huas sekali pun tak pernah menyakiti anak nya sendiri. Namun semua orang memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan kasih sayang pada anak nya.
__ADS_1