Malaikat pelindung (best secret of my life)

Malaikat pelindung (best secret of my life)
Mimpi Buruk


__ADS_3

Karna sudah hampir jam masuk kelas kami pun kembali ke kelas dan langsung menuju loker. Yah kami mengambil seragam kami untuk berganti, setelah itu langsung menuju toilet. Tak butuh waktu lama untuk ku mengganti seragam, setelah selesai aku langsung keluar dari bilik. Aku mencuci wajah ku di wastafel agar sedikit fresh.


"Eh Na?? Gak takut luntur make up??" Tanya Weni yang tiba tiba ada di belakang ku yang membuat ku berjengit kaget.


"Astaga, Wen... Jantungan aku!!" Seru ku sembari mengusap dada ku.


"Hehe maaf maaf!!" Kekeh Weni.


"Lagian lu Napa cuci muka??" Tanya Weni.


"Lah emang di larang??" Tanya ku balik.


"Yah nggak sih, cuma ya itu loh gak luntur??" Tanya Weni lagi.


"Ya nggak lah!! Kan aku gak pernah pake make up Wen!! Paling pake ini!!" Seru ku sembari menunjukkan lipgloss kecil berwarna peach pada Weni.


"Really??" Tanya Weni.


"UMM..." Aku hanya mengangguk.


"Ya ampun Na, segini aja lu dah cantik alami lah gimana kalo dandan!! Bisa bisa satu sekolah tergila gila sama lu!!" Seru Weni antusias.


"Apaan sih Wen!!" Ujar ku tersenyum malu.


"Nah kan!! Bener kata ku, lu tuh emang cantik banget Na!!" Seru Sisil yang baru saja keluar dari bilik kamar mandi.


"By the way lu pake lip apa sih itu?? Gua liat bibir lu gak pernah kering dan lagi warna nya kayak alami banget gitu...." Tanya Sisil.


"Oh ini??" Aku menyerahkan lipgloss ku pada Sisil.


"Itu merek Yu, harga nya terjangkau kok cuma 15 ribu, tahan lama juga!! Aku suka karna warna nya tuh natural, yang warna pink pun bagus!!" Jelas ku.


"Serius?? Cuma 15 rebu!! Wah wah gua harus punya nih!!" Seru Weni antusias.


"Ho oh nih!! Mana bagus warna nya!!" Seru Sisil.


"Kalo mau pake aja!!" Tawar ku.


"Serius?? Gak papa nih??" Tanya Sisil memastikan.


"Dih... Kamu kayak sama siapa aja, aku aja udah gak jaim jaim kamu traktir, ya kali lipgloss doank aku pelit!!" Ujar ku sembari tersenyum.


"Oke, minta yah!!" Ujar Sisil dan mulai mengeluarkan alat make up kecil dari saku nya.


"Lu gak mau Na??" Tawar Sisil.


"Gak deh, gak biasa!!" Kekeh ku.

__ADS_1


Sisil dan Weni pun sibuk merapikan riasan mereka sedangkan aku mulai mengurai rambut ku. Menambahkan beberapa jepit lidi di bagian kiri rambut ku sebagai pemanis. Setelah memakai lipgloss ku, Sisil mengembalikan nya pada ku. Sebenarnya bukan hanya Sisil melainkan Weni pun ikut turut memakai nya. Namun aku justru senang bisa berbagi dengan teman teman ku.


"Wah... Na... Warna nya bagus banget!!" Seru Sisil sembari berkaca memperhatikan bibir nya yang membuat ku terkekeh.


"Iya nih... Lipgloss yang biasa gua pake aja lewat sih, warna nya soft tapi bagus bikin glow tapi gak berlebihan!!" Seru Weni.


"Bagus deh kalo kalian suka..." Ujar ku.


"Suka donk..." Seru Sisil sembari memeluk ku.


"Eh ikut!!" Ujar Weni yang turut ikut berpelukan.


"Oke fiks, kita sahabatan yah!!" Seru Weni antusias.


"Hehe iya..." Kekeh ku tak mampu menolak.


Kami pun segera kembali ke kelas, namun baru setengah jalan aku kembali merasakan nyeri di bagian perut ku. Aku memegang perut ku, peluh dingin mulai bercucuran dari dahi ku. Rupa nya hal itu tak luput dari penglihatan Sisil, Sisil pun menghentikan langkahnya.


"Na, lu gak papa kan??" Tanya Sisil yang keliatan cemas.


"Eh?? Yuna kenapa??" Tanya Weni seketika langsung menoleh ke arah ku.


"Perut aku... Nyeri banget!!" Lirih ku sembari menahan rasa nyeri.


"Lah, emang kamu punya magh Na?? Tapi perasaan kita dah makan tadi!!" Ujar Weni sedikit panik.


"Lah terus lu kenapa Na??" Tanya Sisil khawatir.


"emmm... Itu anu... Aku itu..." Ujar ku gagap.


"Anu apaan Na??" Tanya Sisil.


"Aku lagi dapet!!" Lirih ku takut ada yang mendengar.


"Dapet apaan Na??" Tanya Weni memicingkan mata nya.


"Itu lho... Anu... PMS.." Bisik ku pada Sisil dan Weni.


"Oalah... Eh lu dah dapet!!" Tanya Weni.


"Iya.." Ujar ku sembari mengangguk.


"Emang sesakit itu yah Na??" Tanya Weni lagi yang hanya bisa ku jawab dengan anggukan.


"ISS udah ngobrol nya, yuk Na!!" Seru Sisil membantu ku berjalan.


"Eh mau kemana??" Tanya Weni.

__ADS_1


"Yah ke UKS lah nganterin Yuna,, ya kali di biarin!! Kan ada dokter Desi di UKS, mungkin ada cara buat redain sakit nya!!" Seru Sisil sembari terus melangkahkan kaki nya sambil menuntun ku.


"Oh iya .." Ujar Weni menepuk dahi nya.


Tak butuh waktu lama kami pun sampai di UKS, aku Sisil dan juga Weni langsung masuk ke dalam. Dan langsung di sambut oleh Dokter Desi, yang sedang memeriksa berkas berkas.


"Loh ini kenapa??" Dokter Desi langsung menghampiri ku karna mungkin melihat wajah ku yang sudah sangat pucat.


"Sini sini..." Dokter Desi pun langsung mengarahkan ku ke salah satu ranjang yang ada di sana.


"Kenapa??" Tanya Dokter Desi.


"Itu perut nya Yuna sakit dok, gara gara PMS!!" Ujar Weni.


"Ohhh...." Dokter Desi pun mengangguk paham.


"Baru pertama kali yah??" Tanya dokter Desi pada ku.


"Iya donk, baru kemarin!!" Seru ku yang bertepatan suara bel berbunyi.


"Yah dah masuk!!" Ujar Weni.


"Na, kita ke kelas yah!! Ntar kita izinin lu!!" Seru Sisil.


"Iya makasih yah!!" lirih ku.


"Udah kalian balik ke kelas aja, biar dia saya yang jaga!!" Seru dokter Desi yang membuat Weni dan Sisil pamit untuk segera ke kelas.


Setelah kepergian Sisil dan Weni, Dokter Desi langsung beranjak mengambil sebuah kantung dari salah satu laci yang ada di sana. Lalu ia pergi ke ruang kecil yang berada di sana, tak lama ia pun kembali menghampiri ku.


"Buka perut nya coba!!" Ujar Dokter Desi dan aku menurut saja.


Dokter Desi pun meletakkan kantung itu di atas perut ku, dan aku baru tau itu adalah kantung air yang di isi air hangat untuk kompres. Setelah merasa hangat menjalar di perut ku, rasa nyeri pun sedikit berkurang. Setelah itu dokter Desi memberiku minum obat, itu adalah tablet tambah darah.


"Ini kamu simpen!!" Ujar dokter Desi memberi ku satu keping tablet tambah darah.


"Satu hari minum satu, tiap dapet!! Itu bagus!!" Seru Dokter Desi yang membuat ku mengangguk paham.


Tak lama ada seorang siswi yang masuk, yang membuat ku menutup perut ku yang sedang di kompres dengan selimut. Yah aku tetap saja malu jika ada yang melihat.


"Dok, di panggil Bu Alya di kantor nya!!" Seru Siswi itu.


"ah?? Oke!!" seru dokter Desi.


"Saya tinggal sebentar gak papa kan?" Tanya dokter Desi.


"Iya..." Aku segera mengangguk.

__ADS_1


Dokter Desi pun segera beranjak pergi dari sana bersama siswi tadi yang tak ku tahu nama nya karna terlalu banyak murid di sekolah ini. Aku yang di tinggal sendiri pun hanya bisa menerawang langit langit, tak terasa air mata tiba tiba mengalir. Aku memejamkan mata ku, aku menngis bukan karna sakit di perut ku. Melainkan rasa sesak di dada ku, entah mengapa aku malah teringat setiap perlakuan ayah ku. Yang kerap kali menjadi mimpi buruk dalam hidup ku, rasa takut itu kembali menyerang sampai akhir nya aku terlelap.


__ADS_2