
"Lu tau, dari sekian banyak cewek yang ngantri sama gua baru ku yang bilang gua rese!!" Ujar Reno menatap ku tajam.
"Lah emang kenapa?? Harus gitu aku ngikutin jejak fans fans kamu yang gak jelas itu!!" Ujar ku sembari membalas tatapan tajam nya.
"Terserah deh!!" Reno pun akhir nya turun dari ranjang dan bergegas keluar dari UKS.
"Huh...." Aku menghela nafas kasar.
"Akhir nya pergi juga tuh makhluk aneh, gak jelas, gunung es, rese, dih kok aku makin emosi!!" Gerutu ku sendiri.
Aku kembali membaringkan tubuh ku namun, aku memilih untuk kembali melanjutkan tidur ku. Entah mengapa rasa nya aku sangat lelah sekali, lagi pula aku harus menyiapkan diri ku untuk bekerja nanti. Yah kepalang nanggung sudah lewat jam pelajaran, lagi pula mungkin pelajaran masih tentang pengenalan karna baru mulai tahun ajaran baru.
"Na.... Na..."
Samar samar aku mendengar seseorang memanggil nama ku, perlahan ku coba membuka mata ku. Rupa nya ia adalah Sisil dan Weni, terlihat mereka sudah memakai tas mereka. Seperti nya sudah jam pulang sekolah, dan ternyata aku tertidur begitu pula sampai lupa waktu. Aku bangkit dan duduk sembari mengucek mata ku yang masih mengantuk karna efek baru bangun tidur.
"Lu udah gak papa kan??" Tanya Sisil.
"Udah kok.." Sahut ku sembari tersenyum.
"Syukur deh!!" Ujar Sisil.
"Eh, Na?? Lu masih mau kerja??" Tanya Weni sembari menyerahkan tas ku yang ia bawa, aku pun segera menerima nya.
"Iya.. Lagi pula aku dah gak papa kok!!" Ujar ku sembari turun dari ranjang.
"Ya udah yuk!!" Ajak Sisil sembari menggenggam tangan ku.
Aku Sisil dan juga Weni pun berjalan ke parkiran mobil, rupa nya Sisil membawa mobil kali ini. Kami segera masuk ke dalam mobil, dan bergegas menuju cafe tempat ku bekerja. Setelah sampai kami langsung turun, aku mengantar mereka sampai di meja nya.
"Mau pesen apa??" Tanya ku pada Sisil dan Weni.
mereka pun menyebutkan pesanan, dan aku mengingat nya dengan baik. Setelah itu aku pamit untuk menjalankan pekerjaan ku, sampai di dapur aku langsung menulis pesanan Sisil dan juga Weni. Aku menyerahkan nya pada koki, dan bergegas berganti pakaian. Setelah mengganti pakaian aku di minta oleh koki mengantarkan pesanan untuk nomor 35.
__ADS_1
Aku pun bergegas melaksakan nya, namun tanpa di duga lantai di sana sedikit licin dan aku sedikit ceroboh sampai akhir nya aku terjatuh di depan meja pelanggan itu.
Prankkkkk
Suara geas dan piring pecah sungguh terdengar nyaring sekali.
"Kyaaaaa....." Teriak pelanggan itu.
Rupa nya ia sedikit terkena percikan makanan yang berserakan, raut wajah nya sudah merah padam.
"kamu bisa kerja gak sih!! Liat baju saya jadi kotor!!" Cerca sang ibu pelanggan, tanpa memperdulikan aku yang masih terduduk di lantai meringis menahan sakit.
"Maaf Bu, saya gak sengaja, tadi..." Belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku Ibu itu sudah melayangkan tangan nya.
Plakkk...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri ku, yang membuat ku terdiam seribu bahasa. Riuh piuh orang orang yang menyaksikan pun terdengar jelas di telinga ku. Namun tatapan ku kosong seketika, hanya bisa tertunduk lesu.
"Cafe berkelas kayak gini, bisa bisa nya punya karyawan gak becus kayak kamu..." Teriak Ibu itu.
Namun tiba tiba ada yang merangkul ku, yang membuat ku menoleh ke arah nya. Ternyata itu adalah Sisil yang sudah berjongkok di samping ku sedangkan Weni berdiri dengan berkacak pinggang menghadap ibu itu.
"Eh Mak lampir, udah congor gak di jaga main nampar nampar anak orang, mau saya laporin ke polisi sekalian biar jadi kasus!!" Ujar Weni dengan nada yang cukup tinggi.
"Anak jaman sekarang makin gak ada sopan santun gak ada didikan nya!!" Teriak ibu itu.
"Didikan, ngaca Bu!! Emang ibu udah sebener apa sampe menilai didikan orang!! Orang dia udah bilang gak sengaja kan, dia udah Mina maaf lagi pula liat lantai nya tuh basah gara gara anak ibu maen Aer dari tadi!! Ibu malah maraharah sampe nampar dia, yang gak ada didikan itu siapa!!" Seru Weni dengan nada penuh penekanan.
"Kamu!..."
"Apa?? Emang bener salah anak ibu, dan salah ibu juga biarin anak nya main seenak nya jadi nyelakain orang!!" Kesal Weni.
"Ada apa ini??" Tiba tiba suara mbak Gita memecahkan ketegangan.
__ADS_1
"Astaga Na!!" Panik mbak Gita saat melihat ku yang masih terduduk di lantai sambil di rangkul oleh Sisil.
"Kamu kenapa??" Tanya mbak Gita yang mulai menelisik keadaan sekitar.
Aku hanya diam tak berani berkata apapun, hanya menunduk kan kepala dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terisak. Weni pun menceritakan semua nya pada mbak Gita, meski ibu itu berusaha mengelak namun banyak saksi yang menyaksikan. Mbak Gita pun dengan tegas memanggil orang untuk mengusir keluar ibu dan anak nya itu. Ibu itu terlihat begitu kesal, dan terus menggerutu bahkan berteriak teriak akan menuntut. Namun mbak Gita menghiraukan nya dan berjongkok ke arah ku.
Kamu gak papa Na??" Tanya Mbak Gita, aku hanya menggeleng sembari menahan air mata ku yang sudah menggenang.
Sisil dan mbak Gita membantu ku untuk berdiri, rupa nya beberapa bagian tubuh ku berdarah terkena serpihan gelas dan piring. Namun rasa perih itu tak sebanding dengan mental ku yang mendadak jatuh karna masalah ini. Sisil, Weni dan mbak Gita membawa ku ke ruangan mbak Gita. Aku duduk di sofa bersama dengan Sisil dan Weni sedangkan mbak Gita pergi mengambil obat.
"Ya ampun Na, luka nya SAMPE gini!!" Ujar Weni yang memperhatikan luka di beberapa bagian tubuh ku.
"Aku gak papa, makasih udah belain aku..." Ujar ku yang berusaha untuk tetap tegar.
"Na..." Panggil Sisil yang detik kemudian langsung memeluk ku.
"Hikss.... Hikss..." Sisil terisak sembari memeluk ku yang membuat ku bingung harus apa.
Setelah beberapa saat ia melepaskan pelukan nya.
"Lu tau gak sih, pas tadi liat lu di tampar hati gua sakit banget Na!!" Ujar Sisil sembari menghapus jejak air mata nya.
"Lu bisa bisa nya cuma diem aja!!" Seru Weni memandang ku dengan tatapan yang sulit di arti kan.
"Maaf bikin kalian khawatir, tapi aku bener bener gak papa kok!!" Seru ku berusaha menghibur mereka.
"Kadang jadi terlalu baik juga gak baik Na!!" Peringat Weni.
"Iya Na... Kalo lu gak salah seharus nya Lo lawan jangan diem aja!!" Sahut Sisil membenarkan ucapan Weni.
"Aku cuma takut gak bisa kerja lagi di sini, karna cuma di sini yang gaji nya lumayan dan bisa kerja dari pulang sekolah!!" Ujar ku sembari menunduk.
"Tapi aku seneng punya temen kayak kalian berdua, makasih udah hadir dalam hidup aku!!" Ujar ku sembari menatap lekat Sisil dan juga Weni.
__ADS_1
"Itu guna nya temen Na..."
"Udah ambil hikmah nya aja dari insiden gak terduga ini..." Ujar Sisil.