
Lelah dan letih, itu lah yang aku rasakan saat ini... Aku memasuki rumah dengan keadaan wajah pucat, mungkin karna terlalu memporsir tenaga Ku. Karena sudah malam aku memutuskan untuk segera masuk kamar dan tidur. Namun itu hanya menjadi angan angan ku, saat suara lantang ayah ku memanggil ku.
"Buatin makanan sana!!" Titah ayah ku, bahkan sama sekali tak melihat kondisi tubuh ku yang sudah sangat letih setelah seharian kerjaa.
Ku seret dengan paksa kaki ku ini menuju dapur, ku lihat hanya ada nasi di tudung. Beberapa kali aku menghembuskan nafas kasar, kemudian memijat pelipis ku muolai berdenyut. 30 menit aku berkuat di dapur, baru saja menaruh makanan di tudung aku merasakan perut ku seperti di guncang. Aku bergegas berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perut ku. Ntah berapa kali aku mengeluarkan isi perut ku sampai sampai tubuh ku terkulai lemas di kamar mandi. Kepala ku pun semakin sakit dan tak terasa membuat ku terisak.
Lebih dri setengah jam aku berada di kamar mandi namun tak ada yang menghampiri ku. Saat aku keluar dri kamar mandi, justru di hadapkan oleh tatapan mengintimidasi dari ibu ku.
"Kenapa kamu??" Tanya ibu ku, aku hanya menggeleng karna tak mampu bicara.
Ibu ku menghampiri ku dan memapahku berjalan menuju kamar. Aku segera berganti baju karna baju tadi sudah basah semua. Setelah selesai berganti pakaian aku segera berbaring di kasur ku. Ibu ku datang dengan membawa alat kerokan, sebenarnya aku tak terlalu suka karna rasa nya sakit. Tapi aku tak berani menolak ibu ku.
"Aawww..." Ringis ku saat ibu ku mulai mengerok punggung ku.
"Masuk angin aja kan!! Awas kalo macem macem, inget jangan bikin malu orang tua!!" Cecar ibu ku, yang aku sangat tahu ucapan nya mengarah kemana.
Aku tak habis pikir bagaimana ia tega bicara seperti itu pada ku. Padahal jelas ia tahu kalau aku seringkali pulang malam karna bekerja bukan berbuat hal aneh aneh. Entah lah mungkin aku lebih, namun ketika kata kata itu terucap hari ku sangat sakit. Bahkan rasa sakit akibat kerokan ini sama sekali tak sebanding dengan rasa sakit di hati ku. Namun aku hanya diam saja, aku hanya memejamkan mata ku.
"Dah, tuh!! Besok ibu kirim surat ke sekolah!!" Ujar ibu ku sembari meninggalkan ku sendirian di kamar.
__ADS_1
Seketika tangis ku pecah, meski aku menangis tanpa suara sedikit pun namun air mata ku berderai dengan deras nya. Aku bisa terima semua hinaan dari orang lain, tapi mendengar sedikit ucapan menyakitkan dari orang tua ku membuat ku langsung begini. Yah katakan lah mental ku memang sudah sangat terganggu sejak kecil.
Sekitar satu jam lebih aku menangis, sampai sampai mata ku mulai terasa sakit. Akhir nya aku menghapus jejak air mata ku, dan duduk di tepi kasur sembari menyandar di dinding.
"Ya Allah... Boleh kah aku nyerah.. Hiksss..." Lirih ku sembari menatap langit langit.
"Gak... Gak boleh nyerah... Na.. Kamu harus kuat.." Monolog ku.
"Inget, kamu harus capai cita cita kamu, kamu gak boleh nyerah gitu aja Na!!" Ujar ku memberi semangat pada diri ku sendiri.
Aku pun beranjak keluar kamar, menuju meja makan. Yah aku harus kembali mengisi perut ku, agar tak kosong setelah itu harus minum obat. Aku memakan makanan ku dengan tenang meski sebnernya mulut ku menolak. Karna rasa nya pahit, namun tetap ku habis kan makanan ku itu. Setelah makan aku langsung mencuci piring bekas ku makan. Karena piring di sana sudah menumpuk terpaksa aku pun sekalian mencuci nya meski tubuh ku masih cukup lemas.
"Kamu bisa Na... Kamu pasti bisa!!" Batin ku menyemangati diri ku sendiri.
Aku bergegas kembali ke kamar ku, lalu ku bentangkan kain sebagai alas untuk ku menyetrika. Meski tubuh ku rasa nya remuk, aku tetap menjalankan tugas ku. Mulai menyetrika satu per satu baju baju itu.
"Ya Allah..." Lirih ku sembari memegang kepala kuyang terus saja berdenyut.
"Bentar lagi... Dikit lagi kok!!" Ujar ku menghibur diri padahal tumpukan pakaian itu masih banyak.
__ADS_1
Aku terus fokus menyetrika pakaian itu, sampai adik ku tiba tiba masuk ke dalam kamar. Ia menyodorkan ku air minum dan juga sebuah obat. Aku meletakkan sejenak setrika itu dan tersenyum pada adik ku.
"Buat kakak??" Tanya ku pada adik ku.
"Iya, di kasih ibuk!!" Ujar adik ku.
"Ahh.... " Aku mengangguk paham dan langsung meminum nya kemudian menyodorkan kembali gelas yang sudah kosong pada adik ku.
"Kata ibuk, kalo pusing besok aja lanjutin nya!!" Seru adik ku sembari melirik tumpukan pakaian yang belum habis ku setrika.
"Ah... Iya... Gak papa tinggal dikit lagi kok!!"Ujar ku sembari tersenyum manis.
Adik ku pun berpamitan keluar kamar, ia bilang ingin lanjut menonton tv. Yah itu lah hobi nya ia suka menonton tv sampai tertidur dan jadi nya tv yang nonton dia. Aku pun kembali berkutat dengan setrikaan ku, meski peluh dingin terus bercucuran di wajah ku.
"Kuat... Na.. Dikit lagi... Abis itu tidur!!" Ujar ku pada diri ku sendiri.
"haissshhh..." Aku terus saja mengelap keringat yang terus jatuh membasahi wajah ku.
Setelah selesai semua, aku membiarkan nya tersusun di keranjang itu saja. Karna tubuh ku sudah benar benar tak sanggup lagi. Aku dengan segera membaringkan tubuh ku, mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuh ku. Tubuh ku begitu menggigil, karna rasa dingin yang begitu menusuk. Mungkin ini efek dari demam ku, namun aku hanya bisa meringkuk tak berdaya di dalam selimut. Berusaha memejamkan mata ku agar tertidur, mungkin saja dengan tidur aku bisa meredakan sedikit rasa sakit di kepala ku.
__ADS_1
"Ya Allah dingin...." Lirih ku dengan tubuh yang bergetar namun aku hanya bisa menanggung semua nya sendiri.
Berbeda hal jika adik ku yang sakit maka ibu ku akan berada di sisi nya 24 jam. Tak terasa setetes air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata ku. Segitu jelas nya perbedaan kasih sayang antara aku dan adik ku, yah aku sangat iri pada nya tapi aku tak bisa membenci nya karna ia adalah adik ku.