Malaikat pelindung (best secret of my life)

Malaikat pelindung (best secret of my life)
Hidup Itu Pilihan


__ADS_3

Setelah mengobati luka ku, mbak Gita menyuruhku untuk pulang saja. Meski aku menolak dan ingin tetep melanjutkan kerja namun mbak Gita memaksa ku. Selain itu Weni dan juga Sisil terus saja membujukku, akhir nya aku mengangguk mengiyakan. Namun sebelum pulang Weni dan Sisil mengajakku makan dulu, karna sudah terlanjur memesan makanan. Dan makanan yang mereka pesan pun lumayan banyak, aku pun tak kuasa untuk menolak.


Setelah makan, Sisil dan juga Weni memutuskan untuk mengantar ku pulang lebih dulu. Aku pun hanya menurut tak ingin berdebat dengan kedua teman baru ku ini. Karna seperti nya aku sudah mulai paham sifat mereka yang sangat keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu. Tak butuh waktu lama kami pun sampai di depan gang menuju rumah ku, yah mobil tak bisa masuk ke dalam jadi hanya bisa berhenti di depan gang.


"Mau mampir dulu??" Tanya ku saat hendak turun dari mobil.


"Gak deh Na... Lain kali aja.." Tolak Sisil.


"Ya udah makasih yah..." Ujar ku sembari keluar dari mobil.


"Dahh.. Na..." Lambai Weni.


"Dahh...." Mobil Sisil pun mulai berlalu pergi, dan aku pun bergegas menelusuri gang.


Tak lama aku sampai di rumah, namun di kejutkan dengan suara suara keras dari dalam rumah.


Prankkkk


Prankkkk


Suara benda jatuh dan pecah terdengar begitu nyaring di telinga ku, aku hanya diam dan masuk ke dalam rumah. Ku lihat rumah sudah entah seperti apa harus menjelaskan nya. Yang jelas semua nya berantakan, terdengar teriakan dan makian ibu ku dari dapur. Juga bentakan dari ayah ku, yah beginilah ketika mereka bertengkar. Mungkin untuk orang lain perceraian orang tua adalah hal yang paling menyakitkan untuk anak. Namun mereka tak tahu apa yang lebih mengerikan untuk anak di banding kata cerai. Yaitu saat orang tua masih terus bersama, namun tak pernah akur tak pernah damai, tak pernah memberikan kenyamanan rumah. Dan justru hal ini menyebabkan tekanan mental yang teramat dalam bagi anak.

__ADS_1


Ku lihat ayah ku berjalan ke arah ku, dan aku hanya menunduk takut. Aku masih berdiri di dekat pintu, saat ayah ku ingin melewati ku ia menarik tangan ku keras dan menghempaskan ku. Aku langsung tersungkur di lantai, yang penuh dengan pecahan gelas. Aku meringis menahan sakit, belum juga sembuh dari luka tadi sudah bertambah lagi. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata ku.


Aku berusaha tetap tegar, meski tangan ku berdarah, aku tetap mengambil sekop dan sapu membersihkan kekacauan di sana. beberapa bagiaan tubuh ku rasa nya sangat perih karna luka luka itu, namun tetap ku tahan. Selesai membersihkan pecahan gelas itu, aku jug membereskan barang barang yang berserakan di sana sini. Tak lupa aku mengintip ibu ku yang ada di dapur, ku lihat ibu ku sedang duduk termenung di sana.


Jujur saja hati ku teriris melihat itu, walau bagaimanapun dia adalah ibu ku. Namun aku tak berani mengucapkan kata kata penghibur atau sekadar mendekati, rasa takut slalu menyelimuti pikiran dan hati ku. Mungkin ini dampak batin yang aku terima dari keadaan rumah seperti ini. Setelah itu aku mengambil alkohol dan juga Betadine untuk mengobati luka luka ku dan bergegas kembali ke kamar.


"Kapan semua nya berakhir..." Tangis ku pecah meski tak ada suara sedikit pun keluar dari bibir ku.


Seluruh tubuh ku bergetar karena mencoba meredam tangis ku. Namun air mata yang terus mengalir tak bisa bohong betapa hancur nya mental ku saat itu. Setelah puas menangis, aku segera mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan luka luka ku. Mungkin untuk sebagian orang bila melihat kondisi tubuh ku saat ini akan meringis. Namun karna aku sudah terbiasa menahan sakit, ini bukan lah apa apa untuk ku.


Setelah selesai mengobati luka ku, aku pun keluar kamar dan menuju dapur ternyata di sana kosong. Entah kemana pergi nya ibu ku, namun aku tak terlalu memusingkan nya. Aku bergegas membuka tudung nasi, ku lihat nasi tinggal sedikit lagi bagitu pun dengan lauk nya. Aku segera mengambil beras dan mencuci nya, lalu langsung aku masak.


"Itu ceker, masak Na!! Terserah mau masak apa!!" Ujar Ibu ku tiba tiba ada di belakang ku.


Setelah itu aku mengambil beberapa kentang dan juga wartel lalu ku iris iris dadu. Juga tak lupa dengan kubis nya, ak juga memotong nya. Setelah itu aku mencuci nya hingga bersih. Tak lupa ku siap kan bumbu SOP nya dan ku ulek sampai halus. Tak lama nasi pun matang dan langsung ku angkat. Kemudian aku menaruh kuali di kompor dan memanaskan sedikit minyak, lalu menumis bumbu halus tadi. Setalah itu ku masukkan ceker, kentang dan juga wartel lalu menambahkan air secukup nya kemudian ku tutup. Setelah mendidih aku memasukkan kubis dan juga daun bawang beserta daun SOP. Tak lupa ku tambahkan sedikit irisan tomat, garam dan juga penyedap rasa. Lalu ku tutup kembali, setelah ku rasa sudah matang aku mematikan kompor dan memindahkan masakan ku ke wadah.


Setelah selesai berkutat dengan dapur, aku bergegas menyimpan masakan ku di tudung dan langsung kembali ke kamar ku. Aku mengambil handuk dan juga pakaian ganti ku, karna ini sudah sore aku memutuskan untuk mandi. Butuh waktu 25 menit untuk ku mandi, sambil menahan perih nya luka luka itu ketika terkena air. Setelah mandi aku langsung bergegas kembali ke kamar, dengan pakaian lengkap dan handuk yang melingkar di kepala ku.


"Haisssshhh...." Aku menghela nafas panjang sembari duduk di dekat jendela.


"ngelamun Mulu!! Ntar ke sambet!!" Seru Rega yang tiba tiba sudah duduk di jendela kamar nya.

__ADS_1


"Apaan sih!!" Aku mengalihkan pandangan ku namun ia malah melompat dari jendela dan menuju ke arah ku, ia bersandar di tembok dekat jendela ku.


"Kenapa?? Mau cerita??" Tanya Rega dengan nada lembut yang membuat ku menatap nya lekat.


"Gak usah di pandang Mulu ntar naksir!!" Seru Rega yang sama sekali tak melirik ke arah ku namun ia seperti tau kalau aku sedang memandangi nya.


"Dihh, siapa juga yang mandangin lu!!" Ketus ku.


"Ciee ngambek!!" Seru Rega meledekku, ia kini menopang dagu di jendela ku dan berhadapan langsung dengan ku


"Lu gak capek Na??" Tanya Rega tiba tiba.


"hah??" Aku bingung apa yang di maksud Rega.


"Lu gak capek apa sama keluarga yang kayak gini??" Tanya Rega menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


"Apaan sih sok tau!!" Ujar ku mengelak


"Gua punya telinga Na, gua gak tuli dan gua juga punya mata, gua gak buta!!" Tegas Rega sembari menatap lengan ku.


Aku pun tersadar kalau lengan ku penuh dengan luka, aku segera menyembunyikan lengan ku ke belakang tubuh ku.

__ADS_1


"Hidup itu pilihan, Na!!"


__ADS_2