
Setelah selesai makan, aku dan Aldi pun langsung menuju ke rumah ku. Awal nya Aldi ingin mampir namun tiba tiba ia di telpon oleh seseorang yang seperti nya penting. Ia langsung terburu buru pamitan dengan ku dan segera melajukan motor nya. Aku pun berjalan memasuki rumah, ku lihat rumah cukup sepi. Hanya ada adik ku yang tertidur di depan tv, bahkan tv nya pun masih menyala. Yah sungguh kebiasaan adik ku ini membuat ku geleng geleng kepala.
Aku langsung mematikan tv itu dan bergegas ke kamar Ku. Setelah sampai kamar aku langsung berganti pakaian ke pakaian yang lebih santai. Aku mengenakan baju kaos oblong lengan pendek serta celana pendek saja. Itu lebih nyaman untuk ku, karena cuaca memang agak panas jadi gerah kalau pakai baju yang terlalu banyak.
"haissshh ngapain yah??" Gumam ku sembari merebahkan tubuh ku di kasur.
Tak ingin membuang waktu, aku bergegas keluar kamar dan menuju ke dapur, ku lihat nasi dan lauk masih tersedia banyak jadi aku tak perlu memasak lagi. Aku pun memeriksa tepung terigu dan juga tepung tapioka yang tersimpan di laci dapur. Aku tersenyum senang saat ku lihat persediaan nya masih banyak. Aku pun segera menyiapkan wadah untuk membuat adonan. Yah kali ini aku ingin menghabiskan waktu ku untuk membuat pempek salah satu makanan khas kota Palembang.
Setengah jam aku berkutat di dapur, sekarang terlihat masih ada sisa sisa tepung yang menempel di wajah ku. Namun aku sangat puas dengan hasil karya ku, aku berhasil membuat tiga jenis pempek. Yaitu pempek lenjer, pempek isi pepaya, dan juga pempek isi telur. Di tambah lagi kuah cuka yang pedas manis gurih, menambah nikmat makanan ini.
"yeayy selesai juga!!" Aku pun dengan segera membawa makanan yang ku buat tadi ke atas meja.
Kebetulan sekali ada yang mengetuk pintu rumah ku, aku bergegas membukakan pintu. senyum ku mengembang melihat siapa yang datang.
"Hai Na!!" Ujar nya.
"Nah gitu donk, namu tuh lewat pintu.." Sahut ku yang membuat nya menggaruk tengkuk kepala nya.
"Hehe..." Kekeh Rega.
Yah yang datang adalah Rega, tanpa basa basi aku pun menyuruh nya masuk dan duduk. Kebetulan adik ku pun terbangun dari tidur nya. Aku segera mengambil piring dan juga mangkuk di dapur. Lalau ku sajikan di hadapan adik ku dan juga Rega. Setelah itu aku mengambil beberapa pempek yang tadi aku buat.
"wahhh Lu yang buat Na??" tanya Rega antusias.
"iya..." Ujar ku sembari tersenyum manis.
"wahhh pasti enak!!" Ujar adik ku dan langsung mengambil pempek dan juga cuka nya.
"Di makan ga!!" Tawar ku.
"Kalo gitu aku gak sungkan yahh!!" Ujar Rega antusias yang membuat ku sedikit terkekeh.
__ADS_1
"wahh kak... kakak mau masak apa aja tuh enak banget!!" Seru adik ku sembari mengunyah makanan nya.
"iya Na, ini enak banget!! lembut tapi kenyal beda banget sama yang suka di jual di luar agak keras!!" Ujar Rega yang sudah nambah lagi.
"Itu sih tergantung adonan awal nya,, kadang orang buat jualan itu seadanya aja... Yang penting cepet masak!!" Jelas ku.
"Ohhh... Emang itu ngeruh yah Na??" Tanya Rega penasaran.
"Yah nagruh lah, gini deh coba kamu selesai in rumus matematika, tapi rumus nya kamu singkat, pasti hasil nya walaupun mendekati sama cuma tetep beda!!" Jelas ku.
"Ah elah Na... Mapah bawa bawa matematika!!" Ujar Rega menggeleng geleng kan kepala nya.
"hehe... Kebiasaan.." Kekeh ku.
"ohh... Ya kakak yang tinggal di sebelah kan??" Tanya Adik ku pada Rega yang membuat Rega mengangguk.
"Pantes kayak pernah liat!!" Seru adik ku.
"Bahkan adik ku aja kenal, lah aku apa kabar!!" Batin ku yang merasa konyol bahwa aku baru tahu kalau Rega adalah tetangga ku.
"Ohhh... "
"Udah makan dulu ntar lagi ngobrol nya!!" Ujar ku.
Kreeekkk...
Terdengar suara pintu terbuka, yang membuat aku adik ku dan juga Rega menoleh ke arah pintu. Ternyata itu adalah ayah ku yang membuat ku langsung menunduk. Yah setiap bertemu dengan ayah ku aku selalu begini. Ada rasa skit yang menghampiri ku meski ia belum tentu mengasari ku.
"Makan apa??" Tegur ayah ku.
"Ah itu yah... Kakak bikin pempek!!" Seru adik ku dengan antusias.
__ADS_1
"I... Iya yah, itu di atas meja masih banyak!!" ujar ku yang sebenarnya sangat gugup.
"Ya udah lanjut aja..." Ayah ku pergi ke kamar nya kemudian kembali ke luar rumah tanpa mengatakan satu kata pun.
Setelah kepergian ayah ku aku baru bisa bernafas dengan lega. Dan itu pasti sangat di sadari oleh Rega yang sedari tadi mata nya tak lepas dari mengamati ku.
"Segitu takut nya lu??" Tanya Rega tiba tiba yang membuat ku menatap nya bingung berusaha mencerna ucapan nya.
"Segitu takut nya lu??" Tanya Rega kembali setelah beberapa saat aku tak memberi jawaban.
Namun bukan nya menjawab aku justru menundukkan kepala ku.
"kak, aku main di luar yah!!!" ujar adik ku
"Jangan jauh jauh inget gak boleh berantem!!" Peringat ku pada adik ku, dan ia mengangkat tangan nya seperti sedang hormat.
Ia langsung berlari menuju keluar rumah, yah itu lah kebiasaan nya. Aku pun kembali berfokus pada Rega yang ada di hadapan ku yang seakan menanti jawaban dari pertanyaan nya tadi. Aku menarik nafas dalam kemudian menghembuskan nya.
"Haiissshhh...."
"entah lah ga, aku emang merasa takut was was, segala macem campur aduk di otak ku kalo liat ayah ku..." Lirih ku sembari memakan pempek yang ada di hadapan ku.
"yah gak bisa nyalahin lu sih.. Mungkin perlakuan ayah lu emang udah keterlaluan banget!! By the way kenapa nyokap lu gak cerai aja sih!!" Tanya Rega yang mulai penasaran.
"Kata ibuk, kalo dia belum punya anak mungkin dia udah minta cerai, cuma karna udah punya anak jadi gak mau cerai!!" Ujar ku dengan tatapan sendu.
"Tapi kalo gini jatoh nya nyiksa mental anak nya!!" Sahut Rega.
"Ya mungkin, tapi mau gimana lagi ini udah pilihan ibu ku!!" Jelas ku pasrah dengan apa yang di takdir kan untuk ku.
Rumah yang terlihat baik di luar, keluarga yang terlihat bahagia namun di dalam nya penuh luka dan air mata. Meski ibu ku tak pernah bicara tentang kesedihan nya namun aku tau bahkan sangat tau. Sering kali aku melihat ibu ku menangis dalam diam, tapia ku hanya bisa menatap nya tanpa bisa menghapus jejak air mata nya. Yah karna aku terlalu takut, sebut saja diri ku ini penakut, pengecut karena benar benar tak mempunyai keberanian meski sedikit saja.
__ADS_1
"Gua salut sama lu Na.. Meski dengan keadaan keluarga kayak gini Lu masih sanggup tersenyum di luar sana!! seakan gak pernah terjadi apapun!!" Ujar Rega menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Aku hanya bisa bersembunyi ga... Sembunyi dari rasa sakit itu lewat senyuman!!" Ujar ku.