Malaikat pelindung (best secret of my life)

Malaikat pelindung (best secret of my life)
Teman sepermainan


__ADS_3

Setelah lama mengobrol tak terasa hari pun mulai senja, dan seperti nya mereka pun sudah akan beranjak pulang tau melakukan kegiatan nya masing masing tentu nya.


"Ehh guys, dah sore nih balik yuk!!" Seru Bagas.


"Iya nih gak berasa dah sore aja!!" Sahut Sisil.


Mereka pun satu per satu beranjak pamit, setelah kepergian mereka, aku segera ke belakang bergabung dengan yang lain. Aku langsung berganti pakaian dengan pakaian kerja ku dan langsung menghampiri bang Gio.


"Ada yang bisa ku bantu bang??" Tanya ku sembari tersenyum manis.


"Ini Na, tolong anterin pesenan ini ke meja no 12 yah!!" Seru bang Gio menyerahkan nampan berisi beberapa minuman pada ku.


"Siap bang!!"


Aku pun langsung berjalan ke depan dan langsung mengantar pesanan tersebut.


"Ini silahkan di nikmati!!" Ujar ku sembari tersenyum.


"Lho Ayuna??" Mendengar nama ku aku pun menatap lekat seorang ibu yang sedang menatap ku remeh ini.


"Ya ampun ini Tante, mama nya sellin..." Jelas nya yang membuat ku mengangguk paham.


"Ternyata kamu jadi pelayan toh... Emang cocok sih sama kamu yang kasta bawah ini... Oh ya kamu mending jauh jauh deh dari Sellin, gak level tau!!" Ujar nya dengan nada yang sangat tak enak di dengar.


"Maaf Tante saya harus kerja dulu..." Aku pun ingin langsung pergi dari sana.


"Anak miskin memang gak berpendidikan orang tua lagi ngomong malah di tinggal..." Mendengar itu aku pun langsung berbalik menghadap perempuan tadi.


"Maaf yah Tante, saya memang orang miskin tapi orang tua saya mendidik saya dengan baik!! Saya di sini bekerja jadi gak bisa meladenin mulut tante yang gak pernah di sekolahin itu!!" Setelah mengatakan itu aku langsung beranjak pergi dri sana.


Baru saja sampai di belakang sudah ada dua orang perempuan yang menghadangku. Mereka juga karyawan di sini, cuma lebih dulu mereka bekerja di sini.

__ADS_1


"Enak banget yah, udah di kurangin waktu kerja nya dari siang sepulang sekolah, abis itu sempet sempet nya nongkrong!! Mau berasa jadi orang kaya lu!!" Sindir nya sambil menatap ku tajam, aku hanya diam tak menjawab.


"Kerja sana, tuh cucian piring numpuk!!" Mendengar itu aku yang tak mau mencari keributan langsung mengerjakan apa yang di perintahkan.


"Huh, mbak Gita tuh terlalu baik sama orang!! Liat tuh karyawan belum berapa lama udah melunjak kelakuan sok nge bos!!" Sindiran itu masih terdengar jelas di telinga ku, namun aku hanya diam tak mau ambil pusing.


Butuh waktu limat belas menit untuk ku membersihkan piring piring kotor itu. Setelah selesai aku kembali menghampiri bang Gio, yang terlihat kerepotan.


"Biar aku bantu bang!!" Ujar ku


"Owh Na, iya tolong banyak banget pesenan yang harus di bawa kedepan, itu catatan nomer mejaa nya!!" Setelah mengatakan hal itu bang Gio segera berlalu meninggalkan Ku.


Aku segera membaca catatan tersebut setelah memastikan nya, aku langsung sibuk mengantarkan pesanan pesanan tersebut. Hingga tak terasa sudah jam 8 malam, angin malam pun mulai berhembus. Malam ini begitu sejuk udara nya, aku baru kembali dari mengantarkan pesanan. Aku duduk santai di salah satu meja yang tersedia di sana sebagai tempat peristirahatan karyawan.


"Nih!!"


Bang Gio menyodorkan ku nasi goreng dan lemon tea ice, aku tersenyum melihat nya.


"Hehe makasih bang!!" Aku pun segera menyeruput es ku, karna memang aku sangat haus setelah bolak balik mengantarkan pesanan.


"Gimana sekolah baru nya??" Tanya bang Gio.


"Hmm yah gitu lah bang, tadi baru ospek!!" Jawab ku sembari menyuapkan nasi goreng ke mulut ku.


"Keliatan nya lu banyak temen yah!!" Seru bang Gio.


"Ah itu kebetulan tadi terakhir ospek ada permainan gitu ....." Aku pun menceritakan apa yang terjadi sampai aku bisa kumpul dengan mereka semua.


"Ohh gitu .."


"Abang gak makan??" Tanya ku saat sadar sedari tadi aku makan sendiri.

__ADS_1


"Gua mah dah makan dari tadi pas lu repot nganter pesenan!!" Seru bang Gio yang membuat ku melanjutkan acara makan ku.


"Mau nambah??" tanya bang Gio.


"Udah bang ini dah kenyang, tapi kalo es nya boleh deh hehe..." Kekeh ku.


"Huh?? Dasar maniak es!! Bentar gua bikinin dulu!!" Seru bang GIO.


Aku pun menghabiskan nasi goreng ku, tak lama bang Gio kembali dengan membaw dia minuman. Satu lemon tea ice punya ku, dan seperti nya itu strawberry milkshake milik bang Gio. Keadaan cafe mulai masih ramai namun sudah tak ada lagi yang memesan jadi kami sedikit ada waktu untuk bersantai.


"Nih tuan putri!!" Seru bang Gio yang ku sambut dengan senyuman manis.


"Makasih Abang ganteng!!" Seru ku langsung meminum nya karena minuman ku yang tadi sudah tandas.


Yah seperti nya memang benar aku ini maniak es, segelas es saja tak cukup menyegarkan dahaga ku. Aku dan bang Gio pun mulai mengobrol santai, kami begitu akrab karna memang bang Gio itu adalah tetanggaku. Kami sedari kecil sudah berjuang mandiri, ia yang awal nya mengajak ku berjualan es awal nya. Hingga aku pun terbiasa bekerja mencari uang ku sendiri, sedikit sedikit uang sekolah dan jajan ku pun tertutupi. Sekarang juga sama aku bekerja di sini juga atas rekomendasi dari bang Gio, ia adalah malaikat penolong ku. Seperti ia slalu ada untuk ku di saat aku membutuhkan meski terkadang dia keliatan cuek dan acuh namun sebenarnya ia adalah sosok yang sangat baik dan lembut. aku seperti menemukan sosok kakak pada diri nya yang sangat ku rindu kan, yang tak pernah ku dapat bahkan dari kakak kandung ku sendiri.


"Abang besok sekolah bareng yuk!!" Ujar ku.


"Besok gak bisa deh, gua dah izin gak masuk ada urusan keluarga!!" Sahut bang Gio.


"Yah berarti Abang gak kerja juga donk!!" lirih ku.


"Cuma sehari kok!!" Ujar nya sembari mengusap puncak kepala ku dengan sangat lembut.


"Sepi pasti gak ada Abang!! Gak ada yang perhatian lagi deh sama aku!!" Ucapanku membuat bang Gio terkekeh geli.


"Lu imut banget sih, pengen gua bawaa ke pelaminan!!" Ujar bang Gio sembari mengedip ngedipkan mata nya.


"Dih dih,, geli bang!!" Aku bergidik geli melihat bang Gio.


Sedangkan bang Gio malah tertawa terbahak bahak melihat ekspresi ku. Aku pun hanya bisa mengerucutkan bibir ku karena sebal di permainkan oleh bang Gio. Namun ini lah yang membuatku nyaman bersama nya, walaupun umur kami terpaut dua tahun namun ia tak pernah menggunakan umur nya dalam menghadapi Ku. Justru aku seperti menemukan teman sepermainan, ia tak pernah mempermasalahkan walau kadang sikap ku sangat tidak dewasa.

__ADS_1


__ADS_2