Malaikat pelindung (best secret of my life)

Malaikat pelindung (best secret of my life)
Mengejar Kebahagiaan Sendiri


__ADS_3

Tak terasa hari sudah akan senja, aku Aldi dan juga Rega memutuskan untuk pulang. Tak lama aku pun sampai di rumah di antar Aldi dan juga Rega, yah sebenarnya aku sudah lama merasa di pandangi tak enak oleh para tetangga. Bukan aku tak tahu, tentang gosip yang tersebar di kalangan tetangga tentang diri ku. Aku yang notabene nya tiap hari pulang malam membuat isu negatif bertebaran. Bukan tak ingin membela diri namun sia sia saja kalau berurusan dengan mulut ember ibu ibu ini.


Aku segera pamit masuk ke dalam rumah, ku lihat adik ku sedang menonton tv di sana. Namun aku melewati nya begitu saja, bukan karna aku tak suka. Jika boleh jujur aku iri pada nya yang mendapatkan kasih sayang orang tua ku. Sedangkan aku tak pernah merasakan nya, bahkan jika bukan karna aku sedikit mirip dengan adik ku itu aku mungkin akan berpikir kalau aku ini anak pungut.


Aku bergegas menuju kamar ku, meletakkan tas ku dan merebahkan tubuh ku sebentar. Setelah di rasa sudah cukup beristirahat aku segera membersihkan diri ku dan langsung berganti pakaian. Setelah itu aku bergegas menuju dapur.


Ku lihat piring kotor sudah sangat menumpuk, aku segera mencuci nya. Tak butuh waktu lama aku mencuci piring, kemudian aku beralih menuju tudung nasi. Ku lihat nasi sudah tinggal sedikit lagi, aku pun segera memasak nasi. Sambil menunggu nasi matang, aku mengiris pare yang ada di atas meja untuk nanti akan ku masak.


Hampir satu jam aku berkutat di dapur, setelah memasak aku langsung mencuci peralatan dapur yang kotor. kemudian aku mengambil piring bersih dan mulai makan karna perut ku sudah keroncongan. Sehabis makan aku kembali ke depan, ku lihat pakaian bersih yang baru saja di angkat sudah menumpuk di sana. Aku pun segera mengambil setrika, bukan setrika listrik melainkan setrika yang menggunakan bara api.


"Haiisshhh... Banyak banget!!" Lirih ku yang mulai menyetrika baju baju itu.


"Kapan selesai nya..." Batin ku merengek karna suda 15 menit belum juga selesai dan tumpukan baju itu masih saja menggunung.


30 menit kemudian


"Akhir nya selesai juga!!" Ujar ku sembari meregangkan otot otot ku.


"Beresin dulu deh!!" Aku pun mulai menaruh pakaian itu pada tempat nya.


Setelah selesai tak terasa sudah hampir jam 7 malam, ku lihat sekeliling sepi. Aku berpikir adik ku pasti sudah tidur, aku memutuskan untuk menonton tv. Ku buka film kesukaan ku, bukan film apa aku lebih suka film anime dari pada sinetron.


"Issss lama banget sih iklan nya!!" Gerutu ku kesal karna menunggu lama.


Tok


Tok


tok


"Assalamualaikum.." Terdengar suara ketukan pintu di luar sana, aku pun langsung beranjak membukakan pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam... Eh Bang Gio .." Seru ku antusias melihat kedatangan Bang Gio.


"Hay Na..."Bang gio tersenyum ramah pada ku.


"Ada apa bang??" Tanya ku.


"boleh masuk??" Tanya bang Gio yang membuat ku menepuk jidat ku.


"Oh iya masuk bang!!" Aku pun mempersilahkan bang Gio untuk masuk.


"Ayah sama ibuk lu mana Na??" Tanya bang Gio.


"Gak tau bang.." Ujar ku sembari menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.


"Oh ini Na, oleh oleh buat kamu sama keluarga!!" Seru bang Gio yang menyerahkan sebuah bungkusan besar.


"Ah bang gak usah repot repot!!" Ujar ku merasa tak enak hati namun aku tetap menerima niat baik bang Gio.


"Gak ngerepotin kok Na, oh iya ini ada martabak manis juga!!" Seru bang Gio yang kembali menyerahkan sebuah bungkusan.


"Gak ngerepotin kok Na, gua malah seneng!!" Seru Bang Gio.


"Ya udah tunggu bentar aku siapin minum dulu!! Mau kopi atau teh??" Tanya ku pada bang Gio.


"Gak usah..."


"Gak ada penolakan, kalo nolak bawa balik tuh!!" Ujar ku menunjuk ke arah bingkisan itu.


"Iya iya, teh aja deh!!" Seru Bang Gio.


Aku pun membawa bingkisan itu menuju dapur dan segera menyimpan nya. Sedangkan Martabak manis itu rupa nya ada dua kotak, satu kotak aku simpan dan satu kotak nya lagi aku letakkan di piring. Setelah membuat teh, aku langsung kembali ke depan dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh dan juga sepiring martabak manis. Ku lihat ayah ku sudah ada di sana dan mengobrol dengan bang Gio.

__ADS_1


Aku meletakkan nampan itu di hadapan Bang Gio dan juga ayah ku. Aku tersenyum miris melihat bagaimana ayah ku berinteraksi dengan bang Gio. Begitu ramah dan juga perhatian, ia bahkan menyodorkan teh itu pada bang Gio. Sedangkan aku yang anak kandung nya tak pernah mendapat kasih sayang nya. Jangan kan mengobrol bahkan menatap ku dengan tatapan lembut saja tak pernah. Aku pun menyerahkan teh yang satu nya pada ayah ku, padahal itu awal nya untuk ku.


Setelah itu aku kembali ke dapur r mengambil piring kecil, dan mengisi martabak manis yang tadi ku simpan. Tak semua nya aku hanya mengambil bagian ku saja, dan kemudian beranjak menuju kamar ku. Tatapan ku sempat bertemu dengan Bang Gio namun aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku tak takut membuat bang Gio marah atau berpikiran negatif tentang aku yang langsung masuk kamar. Karna bang Gio sangat mengetahui hidup ku, tentang hubungan ku dengan keluarga ini. Dan dari sikap dewasa nya bang Gio ku rasa ia akan mengerti aku.


"Haissshhh...." Aku menghela nafas ku kasar sembari meletakkan piring martabak ku.


Aku segera melahap martabak itu


"Baru juga mau ngobrol sama bang Gio!!" Gerutu ku.


"Tapi... Ayah bisa ngomong selembut itu sama orang lain..." lirih ku dengan mata sendu.


"Padahal aku yang anak nya slalu di..." Aku menggantung kan kalimat ku.


Meski begitu air mata berhasil lolos dari pelupuk mata ku. Aku segera mengusap nya dan kembali melahap martabak di piring itu hingga tuntas. Namun air mata ku tetap merembes keluar tanpa bisa aku hentikan.


"Cengeng amat!!"


Aku tersentak mendengar suara seseorang di sana dan langsung membuat ku menoleh. Ternyata itu adalah Rega yang sudah duduk di jendela ku.


"Astaga aku lupa tutup jendela!!" batin ku.


Rega pun turun dari sana dan berjalan menuju ke arah ku. ku lihat ia membawa sebuah bungkusan, dan langsung menyerahkan nya pada ku.


"Udah jangan nangis lagi, ntar cantik nya ilang!!" Ujar Rega sembari mengusap lembut puncak kepala ku.


Tak terasa setetes air mata kembali mengalir, bukan karna sedih namun karna rasa yang tak bisa ku Jabar kan dengan kata kata. Aku tak pernah di perlakukan selembut ini oleh keluarga ku sendiri, tapi Rega yang baru ku kenal bisa bersikap seperti ini.


"Lah kok malah tambah nangis!!" Panik Rega yang membuat ku terkekeh.


"Makasih.." Ujar ku.

__ADS_1


"ambil piring gih, kita makan!!" Seru Rega.


Aku pun membuka bungkusan itu, rupa itu adalah sate Padang. Aku pun tersenyum dan mengangguk, kemudian bergegas keluar kamar mengambil piring dan sendok. Tak lupa aku membawa seteko air dan dua gelas. Untung saja di depan sudah tak ada orang, jadi tak ada yang melihat ku membawa barang barang ini. Bukan nya aku takut, namun sekali ini saja aku ingin egois dan mengejar kebahagiaan ku sendiri.


__ADS_2