Malaikat pelindung (best secret of my life)

Malaikat pelindung (best secret of my life)
Hanya Mimpi


__ADS_3

Matahari bersinar terik di siang hari ini, membuat ku terus saja mengelap keringat yang meluncur di pelipis ku. Untung saja pengunjung tak terlalu ramai sehingga aku bisa santai sedikit. Namun hari ini beberapa kali aku di tegur karna ketahuan melamun. Salahkan ini semua pada Reno yang tiba tiba mengungkapkan perasaan nya pada ku. Sehingga membuat ku tak fokus dalam mengerjakan apapun.


Lagi pula kami baru bertemu beberapa kali dan dia sudah menyatakan perasaan, itu benar benar konyol menurut ku. Haisshhh aku berulang kali menghembuskan nafas kasar dan tanpa ku sadari seseorang sudah berdiri di belakang ku.


"Woyy.... Melamun Mulu!!" Aku berjengit kaget.


"ISS bang...." Rengek ku pada bang Gio sembari memukul lengan nya.


"Lagian lu nape melamun Mulu!!" Seru Bang Gio sembari menyodorkan lemon tea ice untuk ku.


"Makasih bang, tau aja aus...." Seru ku menampilkan deretan gigi ku.


"Lu kenapa??" Tanya bang Gio.


"ISS Abang kayak gak tau aja!!" Ujar ku memberikan kalimat ambigu.


"Ya elah gak abis abis masalah idup lu..." Ujar bang Gio sembari menyeruput minuman nya.


"Yah gimana lagi bang dah nasib..." seru ku.


"malang nian oy nasib mu badan..." Bang Gio malah bernyanyi lagu daerah.


"Issss ledekin aja teruss..." Ujar ku mengerucutkan bibir ku.


"hehe canda sayang!!" Ujar bang Gio sembari mengusap puncak kepala ku.


"Sayang sayang!!" Aku menyipitkan ke dua mata ku


"Canda lho Na..." Cengir bang Gio.


Aku pun tak menanggapi bang Gio lagi, dan mulai menyeruput minuman ku.


"mau makan apa??" Tanya bang Gio yang memang ini sudah waktu nya makan siang.


"Hmm apa aja lah bang, lagi mager!!" Seru ku yang sempat berpikir sejenak.


"Hmm kwetiau aja mau??" Tanya bang Gio.


"Boleh tuh, sama bakso bakar yah bang.." Seru ku sembari tersenyum manis.


"Iya iya..." Bang Gio pun bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


"Aisshhh bete!!" Lirih ku.


Tanpa ku sadari aku tertidur begitu saja di sana, mungkin karna terlalu lelah. Atau mungkin lelah pikiran, yah terlalu banyak hal yang terjadi.


"Anak kamu tuh, kerja nya cuma nyusahin!!' Teriak ayah ku.


"Siapa juga ayah nya, ayah nya aja cuma bisa bantuin istri nya!!" Ujar ibu ku dengan nada tak kalah tinggi


"Di sekolahi buat apa ujung ujung nya juga di dapur!!" Teriak ayah ku.


"Urusan kamu apa, toh yang bayar sekolah nya juga aku!!" Ujar ibu ku.


"Bantah aja terus!!"


Prankk


Prankk


Prankkk


Cekcok Terus saja terjadi semua barang di rumah ini hampir hancur semua karna di lempar ke sana kemari. Bahkan ayah ku tak peduli saat salah satu barang itu mengenai kepala ku hingga darah segar terus mengalir. Aku?? Aku hanya bisa diam dan menangis, menangis tanpa bisa bersuara.


Sampai beberapa saat kemudian ada seorang pemuda kecil menghampiri ku. Ia tak berbicara tentang apapun, ia kemudian langsung mengelap darah di pelipis ku dengan sapu tangan nya.


"awww..." Ringis ku yang merasa perih.


"Kata mama kalo luka harus cepet di obatin!!" Ujar pemuda kecil itu.


Kemudian ia memasangkan sebuah plester di pelipis ku, hal yang lebih mengejutkan adalah ketika ia meniup luka yang sudah terbalut plester itu.


"Kata mama... luka nya di tiup biar cepet sembuh dan gak sakit lagi..." Ujar pemuda kecil itu tersenyum manis.


"Anak mama..." ujar ku spontan.


"Iya emang aku anak mama.." Cengir pemuda kecil itu.


Dasar aneh!! Hmm makasih!!" Seru ku sembari memegang pelipis ku.


"Sama sama, aku mau jadi malaikat buat perempuan cantik!!" Cengir pemuda kecil itu.


"Malaikat??" Tanya ku penasaran.

__ADS_1


"Iya, malaikat yang slalu bisa melindungi perempuan cantik yang lagi sedih...." Ujar pemuda kecil itu sembari duduk di ayunan sebelah ku.


"Apa aku cantik??" Tanya ku dengan nada rendah.


"cantik banget!! Maka nya aku sedih liat luka itu!!" Seru pemuda kecil itu menunjuk ke pelipis ku.


Aku tersenyum manis mendengar celotehan nya, namun jika di pikir seperti nya umur kami sama. Namun aku tak di beri kesempatan untuk bertanya karena ia terus saja berbicara. Ia bercerita tentang mimpi nya, cita cita nya juga harapan nya di masa depan. Dia sangat antusias bercerita dengan ku padahal kami baru saja bertemu. Bahkan nama pun tak sempat di tanya kan.


Aku sempat beberapa kali tergelak mendengar cerita nya yang lucu. Kulit putih bersih dengan perawakan yang manis, ia begitu menarik di mata ku. Dan aku yang memang tak punya teman menjadi sedikit terhibur dengan kehadiran nya. Kami bercerita bersama, tentang masa depan yang ingin kami jalani. Seakan sudah mengenal sangat lama, kami tertawa lepas bersama sampai lupa dengan waktu. Saat sedang asyik bercerita seorang ibu menghampiri kami.


"Nano, ayo pulang udah sore!! Nanti papa nyariin!!" Ujar sang ibu yang ku pikir adalah mama dari pemuda kecil yang di panggil nano ini.


"Yah..." Nano memasang raut wajah tak suka ketika di ajak pulang oleh mama nya.


"Pulang aja, nanti lain kali kita kan tetap bisa main bareng!!" Ujar ku.


"Ya udah besok janjian di sini yah!!" Seru nano.


"Ummm... Oke..." Aku mengangguk paham.


"Oh iya nama mu??" Tanya nano.


"Una.." Sahut ku sembari tersenyum manis.


"Dah.. Una..." Ujar nano sembari melambaikan tangan saat di ajak pergi oleh mama nya.


Keesokan hari nya, sesuai janji aku menunggu nano di tempat itu. Namun menunggu sampai senja pun ia tak terlihat. Aku pun memutuskan untuk pulang, dan kembali lagi besok. Akan tetapi setiap hari menunggu di sana, sosok pemuda kecil itu tak terlihat sedikit pun yang membuat ku sangat sedih.


"Nano jahat, ingkar janji..." Ujar ku...


"Naa.... Na... Na.... Ayuna..." Samar samar ku dengar suara seseorang memanggil ku.


"Ummmmhh.. Bang Gio??" Ujar ku dengan suara khas bangun tidur.


"Malah tidur!!" Ujar bang Gio menggeleng geleng kan kepala nya.


"Eh??!!" Aku seketika tersadar.


"Ah rupa nya cuma mimpi!!" Batin ku.


Yah meski tak sepenuhnya mimpi, karna itu memang kenyataan namun kenyataan memori di masa lalu. Bahkan sampai sekarang pun aku tak pernah lagi menemui sosok Nano. Sejak saat dia pergi, dia tak pernah kembali, aku pun tak tahu apa apa tentang diri nya. Hanya tahu nama nya saja, mungkin saat ini dia sudah mencapai cita cita nya itu. Tak seperti ku yang harus terus melewati rintangan yang penuh duri.

__ADS_1


__ADS_2