
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, saat nya cafe tutup. Aku dan karyawan lain nya segera membereskan cafe, setelah semua nya selesai satu per satu dri kami bergegas pulang ke rumah masing masing. Sedangkan aku masih di luar cafe menunggu bang Gio, tak lama aku melihat kedatangan bang Gio.
"Yuk balik!!" Seru bang Gio.
Aku dan bang Gio pun bergegas beranjak dari cafe, ya kami lebih memilih untuk berjalan kaki. Untuk menghemat pengeluaran, karena bagi kami uang sekecil apapun itu sangat berharga. Ongkos ojek cukup untuk biaya tambahan seperti membeli buku dan kebutuhan lain nya. Lagi pula sedari kecil kami sudah biasa jalan kaki kemanapun kami pergi. Di sela perjalanan kami di selingi oleh canda dari bang Gio.
"Eh, Na... Si Aldi sekolah di tempat kita juga kah??" Tanya bang Gio tiba tiba.
"Iya bang, lagi pula gak terlalu heran kan dia anak orang kaya!!" Sahut ku yang membuat bang Gio mengangguk paham.
"Lagian tuh anak ngintilin mulu perasaan, jangan jangan suka lagi!!" Seru bang Gio yang membuatku terkekeh kecil.
"Dih, di bilangin malah ketawa .."
"Hehe... Gak mungkin lah bang, kita tuh temenan udah dari kecil kan Abang tau dia dulu pernah aku tolongin.." Jelas ku.
"Oh yang gara gara di kejer anjing Pak Somad itu yah..." Seru bang Gio.
__ADS_1
"Iya, dari situ kan dia bilang mau jadi best friend forever sama aku... Dulu aku pikir dia main main eh nyata nya SAMPE sekarang walau pun aku bukan orang kaya dia tetep mau temenan sama aku..." Jelas ku sembari tersenyum mengingat kenangan manis ku bersama Aldi, teman sepermainan ku sejak kecil bisa di bilang mungkin kami adalah sahabat.
"Tapi gua rasa dia suka sama lu Na.." Ujar Bang Gio.
"Isss Abang mah dari tadi bahas suka suka mulu, aku masih mau fokus belajar bang..." Sahut ku.
"Eh iya lupa lu si penggila belajar ini mana sempet mikirin pacaran..." Ujar Bang Gio yang ku balas dengan pukulan kecil di lengan nya.
"sakit Na..." Ringis Bang Gio.
"Lagian Abang Ngada Ngada sih... Aku tuh masih mau ngejer cita cita bang, aku mau jadi desainer interior terkenal dan bikin desain rumah sendiri .." Ujar ku dengan mata berbinar menantikan mimpi ku menjadi kenyataan.
"Cieee yang khawatir..." Ledek ku.
"Dih, nih anak bener bener yah di bilangin malah becanda." Kesal bang Gio.
"Hehe canda dikit Napa bang tegang mulu..." Ujar ku sembari menunjukkan deretan gigi ku.
__ADS_1
Sekitar 35 menit kami berjalan akhir nya kami sampai di rumah, bang Gio langsung menyuruh ku masuk. Aku pun segera masuk ke dalam rumah karena tubuh ku benar benar letih, cafe lumayan ramai sampai aku sulit istirahat. Aku meletakkan tas ku di dalam kamar, ya aku langsung masuk ke rumah karna sudah biasa rumah tak terkunci karna biasa nya kakak laki laki ku akan pulang larut. Setelah meletakkan tas ku, aku mendadak haus jadi aku langsung ke belakang untuk mengambil minum.
Tak ku sangka saat membuka pintu kamar ku justru aku di hadap kan dengan ayah ku yang mata nya sudah memerah. Tubuh ku bergetar hebat, aku tahu jelas bahwa ayah ku sedang mengalami masalah. Belum sempat aku masuk kembali ke kamar ku aku sudah di tarik oleh ayah ku.
Skip
30 menit telah berlalu, aku yang sedari tadi terus menangis di kamar tanpa suara. Yah aku tak bisa mengeluarkan suara ku karna itu pasti akan memancing amarah ayah ku lagi. Aku sudah terbiasa menerima pukulan nya, namun tubuh ku tetap saja manusia biasa. Aku juga bisa merasakan sakit, sakit luar biasa mendera tubuh ku setelah terkena pukulan dan cambukan yang entah berapa kali di layang kan oleh laki laki yang seharus nya menjadi cinta pertama bagi anak perempuan. Namun tidak berlaku untuk ku, dia adalah iblis yang tak punya hati nurani.
Saat aku sudah mendapatkan kembali sedikit tenaga ku, aku berjalan mendekati pintu kamar ku. Meski dengan jalan sedikit tertatih karna mungkin sekujur tubuh ku sudah di penuhi luka. Aku berjalan ke belakang dan mengambil air minum, yah sejak tadi ku memang sudah haus di tambah lagi dengan menangis. Aku rasa seperti orang ke setanan aku habis 3 gelas air dengan begitu cepat. Setelah rasa dahaga ku hilang aku ingin segera beranjak ke kamar ku. Namun sebelum itu aku, mengambil alkohol, Betadine dan beberapa kapas.
Saat melewati depan tv, aku melihat ibu ku yang sedang menyajikan makanan untuk adik ku. Entah lah mungkin ia melihat cara jalan ku yang tertatih namun ia seperti nya tak peduli. Ya ini lah keluarga ku, mungkin di hati mereka tak pernah ada aku. Dan aku slalu iri dengan adik ku karna mendapat begitu banyak perhatian dari ayah atau pun ibu ku. Tapi aku tak pernah membenci nya karna dia juga sangat baik pada ku, setiap dia mempunyai sesuatu pasti ia akan berbagi dengan Ku. Pernah ia membeli sebuah roti, ia bahkan menunggu ku pulang kerja untuk membagi roti itu. Itu sebab nya aku sangat menyayangi nya meski jauh dalam hati ku begitu iri dengan nya karena mendapatkan begitu banyak cinta.
Aku segera beranjak dari sana menuju kamar ku, dan aku mulai membersihkan luka luka ku menggunakan kapas dan alkohol setelah itu memberikan Betadine ke luka yang perlu. Namun aku hanya bisa mengobati luka bagian lengan pinggang samping dan juga kaki ku saja. Sedangkan bagian punggung aku harus menahan sakit nya jauh lebih lama, karena tak bisa menjangkau nya.
Kenapa tak minta tolong?? Aku rasa itu tak perlu, aku tak ingin di rumah yang memang sudah tak tenang ini akan terjadi keributan lagi. Aku benci keributan, aku ingin keluar dari situasi ini, dan terkadang aku berpikir untuk mati. Namun pikiran ku masih cukup jernih karna aku masih memiliki mimpi yang harus aku capai apapun resiko nya. Aku akan berjuang meski sesulit apapun itu, aku akan tetap berjuang. Dan itu lah prinsip hidup yang ke pegang tehuh sampai di hati ini.
Aku mulai membaringkan tubuh ku dengan hati hati, aku menghela nafas kasar meratapi hidup ku yang kacau ini. Menyerah? Tak mungkin!!
__ADS_1
"Ayo, Na!! Pasti bisa, kamu pasti bisa!!" Itu lah kata kata yang slalu menguatkan diri ku sendiri.