MALALIZA

MALALIZA
10


__ADS_3

Vey merasa sangat bodoh dengan apa yang dia lakukan kenapa dia bisa sekonyol itu,harusnya ia sadar Malaliza bukan anak kecil sehingga ia harus selalu turun tangan.


"Om,Liza pingin ice cream boleh ya??" pinta Malaliza dengan pupi eyesnya ia memohon.



"Menjauhlah!" ucap Vey yang kalah dengan sorot mata Malaliza.


"Iss om menyebalkan Liza pingin ice cream..." rengeknya membuat Vey merasa pusing.


"Gak boleh,kemarin kamu sudah makan ice cream sekarang kamu gak boleh makan lagi nanti mau jadi gemuk??" ucap Vey yang berharap Malaliza menjadi takut.


"Gapapa om gendut kan lucu kayak ikan buntal." ucap Malaliza berjalan kearah kulkas.


Vey langsung berjalan lebih cepat dan merentangkan tangannya didepan kulkas berharap Malaliza tidak mengikuti keinginannya.


"Gak boleh,kalau aku katakan tidak ya tidak!" ucap Vey.


"Om jahat Liza baru aja pingsan harusnya om kasih sesuatu yang menyenangkan." ucap Malaliza.


"Pingsan apanya,sekarang aja kamu udah normal lagi." ucap Vey melipat kedua tangannya didada.


Malaliza pun menundukkan kepala membuat Vey merasa bingung apa yang terjadi.


"Hey Liza kau kenapa?" tanya Vey namun tidak ada sahutan.


"Heh,kau mau membodohiku lagi kan??" ucap Vey.


"Jika kau tidak bicara maka aku akan...." sebelum Vey melanjutkan perkataannya Malaliza mengagetkannya dengan suara nyaring.


"Kyaaa!!!!"Malaliza mengelitiki perut Vey membuat Vey tumbang dan ia tertawa keras.


" Ahahaha...stop ahahaha...."Vey tidak bisa mencegahnya ia sudah tidak tahan untuk tertawa.


"Rasain suruh siapa gak ngizinin Liza makan Ice." ucap Malaliza dan berakhir Vey ingin marah karena Malaliza tidak berhentu.


Bugghh


Vey berada diatas Malaliza kali ini nafasnya tidak beraturan karena lelah tertawa.


"Kau sudah berani hm..." ucap Vey dengan nada tajam membuat Malaliza tidak bisa berkutit karena takut.


Suasana kini terasa canggung senyap sepi yang terdengar namun suara seseorang terdengar.


"Hey,kalian sedang mesum ya?" ucap seorang lelaki membuat Vey menengok dan terkejut.


"Dokter?"Malaliza mendorong Vey hingga terjungkal dan ia pun memeluk lengan Cellos.

__ADS_1


"Dokter mau kasih coklat ya?" tanya Malaliza.


"Eh kalian tadi habis ngapain?" tanya Cellos menatap Vey dan meletakan tas kerjanya di meja makan.


"Tadi om gak ngebolehin Liza makan ice cream, makannya jatoh deh karena Liza kelitikin." ucap Malaliza polos.


"Eh Liza siapa,memang kamu sudah tau diri kamu?" tanya Cellos.


"Enggak Dokter,om yang ngasih nama Liza nama Liza itu Malaliza cuman panggilannya Liza,bagus kan Dokter?" tanya Malaliza dengan senang.


"Wah sangat tidak diragukan namanya,kelak kalau aku dan Roseana mempunyai anak kau yang memberi nama anakku." goda Cellos.


"Diam kau,jika aku menamainya Cute nanti disangka disini pembuatan animasi Cute girl,lagian itupun nama yang aku buat seadanya." ucap Vey.


"Haha aku tau itu nama pantai ini,kau memang punya otak sempit makannya gak bisa ngasih nama yang bagus." ucap Cellos.


"Dokter kalau mau kesini buat berdebat pulang saja,Liza cuman mau coklat." ucapan Malaliza membuat Vey tertawa.


"Haha,dia saja tau mana tamu yang diharapkan keberadaanya." ejek Vey.


"Hey kau jangan menghinaku jika aku ambil Malaliza baru kau tau rasa kehilangan dia bagaimana." ucap Cellos.


"Lagian dia memang beban,tadinya aku fikir dia bisa aku manfaatkan." ucapan itu terdengar jelas ditelinga Malaliza.


"Jadi selama ini Malaliza beban om,maaf." Malaliza pun berlari kekamarnya menangis karena ia baru tau dirinya adalah beban.


"Kecil apanya buat anak juga dia mampu." ucap Vey meninggalkan Cellos yang menggelengkan kepala.


"Memang tubuhnya adalah gadis dewasa tapi otaknya yang harus kau ingat,bayangkan saja kau tinggal dengan anak kecil bagaimana,mereka itu sensitif." ucap Cellos.


"Sebenarnya kau ini dokter umum atau dokter khusus anak?" tanya Vey.


"Aku juga tau kok dari sikap keponakanku jadi kau yang tidak berpengalaman dalam mengurus anak kecil jangan sok benar!" ucap Cellos.


.


.


"Hiks...jadi Liza selama ini beban buat om,kalau begitu Liza akan pergi saja dari sini." ucap Malaliza menatap pantai dari kaca jendela.


"Aku harus pergi biar om gak kebebani." ucap Malaliza dan ia pun berinisiatif malam ini dia akan keluar dari rumah ini.


.


.


"Kau kesini mau ada keperluan apa?" tanya Vey.

__ADS_1


"Kesini sih mau tau kondisi Liza disuruh dokter Mizar kau tau kan yang boleh kesini hanya aku karena kau yang melarang." ucap Cellos.


"Hm,kau sudah lihat sendiri perkembangannya bukan,lebih baik kau pulang saja!" ucap Vey.


"Ck,punya teman kejam sekali pantas saja cewek pada minder." ejek Cellos.


"Diam,jangan membuatku tambah kesal,pergi sana!" pinta Vey dan dengan terpaksa Cellos pergi.


Malam tiba,suasana rumah sepi Malaliza mengecek kekamar Vey dan ternyata sang empu sudah terlelap dalam tidurnya,Malaliza pun memelankan langkahnya dan berhasil keluar apartemen ini.


"Sekarang Malaliza gak akan bebanin om lagi,selamat tinggal om terimakasih sudah memberi tumpangan untuk Liza." ucap Malaliza ia pun segera menjauh dari apartemen.


Saat ia berjalan menyisir pantai ia hanya bisa memeluk tubuhnya karena angin pantai sangat dingin,desiran ombak menyapu pesisir pantai hingga menyentuk kakinya ia pun mengambil kerang.


"Indah." ucap Malaliza dan seseorang membekap dari belakangnya membuat Malaliza panik dan berteriak dalam hati.


Bughhh


"S-siapa kalian??" ucap Malaliza dengan ketakutan.


"Haha...jadi ini putri yang hilang itu jika aku memberikannya maka aku akan menjadi orang kaya,kau bersiap putri Alice?" ucap lelaki berbadan besar.


"Siapa Alice,namaku Malaliza!" ucap Malaliza dengan ketakutan.


Dilain tempat Vey haus dan ingin minum ia turun kebawah setelah selesai ia ingin mengecek apa Malaliza sudah tidur namun saat ia membuka pintu keadaan kamar rapi dan juga kosong.


"Liza!!" panggil Vey.


"Malaliza!!" teriak Vey karena tidak ada sahutan.


"Sial,pasti dia pergi karena perkataanku tadi." Vey dengan segera berlari keluar dan memakai jaketnya.


.


.


"Om jangan sakiti Liza,Liza mau pulang ke apartemen om Vey!" ucap Malaliza dengan meneteskan air mata.


"Udah pulang sama om aja ya,rupanya kamu memang cantik sebelum aku pulangkan kita senang-senang dulu aja yuk!" ucap lelaki berbadan lebih kecil.


Malaliza memejamkan mata dan ia berfikir Vey harus datang saat ini sambil memegang kalungnya.


Saat Vey berjalan ia melihat sekolebat cahaya dan ia langsung mencari keberadaannya,saat itu juga ia melihat Malaliza yang sedang dikelilingi dua orang yang sepertinya berniat jahat.


Om datanglah Malaliza takut om_batin Malaliza dengan rasa penuh dengan ketakutan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2