
Setelah selesai sarapan Vey kembali meminta Lisa melakukan pose agar disinya bisa menggambar gadis itu,selama ini dia hanya tergantung pada visual gadis manis itu.
Beberapa jam kemudian Malaliza keluar dari ruang ganti.
"**** kenapa kau menggunakan pakaian seperti itu??" ujar Vey dengan emosi karna rasanya ia tidak kuat melihat sebetapa mempesonanya Malaliza.
"M-maaf Vey kan tadi mengatakan pakai apa saja dan didepan Malaliza melihat pakaian ini kirain gapapa." ucap Malaliza polos.
"Cepat ganti!" ucap Vey frustasi.
"I-iya." ucap Malaliza dengan gugup.
Beberapa menit kemudian.
"Nah ini lebih pantas." ujar Vey.
"Apa tadi dia mau membuatku kehilangan kendali?" ujar Vey memijat kepalanya.
"Baiklah cepat pakai wig itu!" pinta Vey.
Dengan segera Maliza menurutinya.
"Kau polos sekali,aku akan berikan sedikit riasan." ujar Vey.
Beberapa jam kemudian....
"Wah apa ini Liza,kenapa begitu keren." ucapnya membuat Vey memutar bola matanya.
"Sudahlah aku akan pergi keluar kau tunggu disini oke,jangan pergi lagi!" ucap Vey tegas langsung dipatuhi Malaliza.
Vey pun pergi dengan mobilnya untuk keperusahaan Jovi.
Ting nong
"Hey sobat,apakah sudah membuat art style lagi,kurasa artmu sangat dihargai,kemarin saja penjualannya begitu banyak tapi sayang karna modelnya satu dan pelukisnya satu membuat art nya terjual hanya 1." ucap Jovi.
"Hm," balas Vey.
"Lalu sekarang apa kau sudah membawakan dengan tema seni laut berwarna?" tanya Jovi dan dengan segera Vey menyerahkannya.
"Boom ternyata ini begitu menakjubkan,bisakah aku bertemu modelmu ini?" tanya Jovi.
"Tidak akan pernah." ujar Vey datar.
"Huh pelit sekali pada bos." ucap Jovi.
...
"Psttt Liza!" panggil Aurel.
"Aurel?" ucap Malaliza.
"Apa Vey tidak ada dirumah?" tanya Aurel.
"Tidak." Balas Malaliza.
Aurel keluar dari persembunyiannya.
"Sekarang saatnya kau membujuknya setelah pulang!" ucap Aurel membuat Malaliza mengangguk.
"Kalau bisa mendrama sedikit." ucap Aurel diangguki Malaliza.
"Bagus!"
Beberapa menit kemudian mobil Vey sudah tiba.
Cklek.
"Vey sudah pulang ini Liza buatkan milkshake." ucap Malaliza.
__ADS_1
"Hah?" dengan wajah bingung.
"Ini Milkshakenya." ucap Malaliza menyodorkan.
"Darimana kamu bisa membuatnya?" tanya Vey.
"Emm tadi liat dibuku petunjuk." ucap Malaliza padahal ia minta bantuan kalungnya.
Vey senang karna minumannya sangat enak.
"Nanti buatkan aku satu lagi!" pinta Vey.
"Ya." balas Malaliza dengan gugup.
"Ouh ya semalam kau kemana?" tanya Vey.
Deg.
"Eumm,Liza bosan dan pergi mencari angin." ucap Malaliza mendapat tatapan tajam Vey.
"Lalu kenapa bisa aku dirumah padahal semalam aku pingsan karna mencarimu?" tanya Vey lagi.
"Eum selepas pulang Liza tidak menemukan Vey jadi meminta nelayan membantu Liza." bohong Liza diakhir.
"Memang ada nelayan?" mengintimidasi.
"Ih ngeri jika aku diposisi Malaliza." Aurel kini mengintip dari jendela.
"A-da.." balas Malaliza gugup.
"Untuk lukaku kenapa tidak ada dikepala?" tanya Vey.
"Um...semalam Vey tidak terluka hanya pingsan." ucap Malaliza.
"Benarkah?perasaan aku merasakan benturan keras." membatin.
"Yasudah aku ingin kekamar." ujar Vey.
"Ada apa?" tanya Vey.
"Liza ingin mengatakan sesuatu apa boleh?" tanya Malaliza memohon.
"Katakan!" pinta Vey.
"Mulai besok Vey kerja di perusahaan ya." pinta Malaliza.
"Siapa yang memintamu begitu?" dengan tegas.
Glek
Maupun Malaliza atau Aurel keduanya hanya bisa meneguk ludah mendengar pertanyaan yang begitu menakutkan.
"Kemarin Malaliza mendengat percakapan Vey dan Jev." ucap Malaliza.
Bltakk
"Ouchh." Malaliza mengelus kepalanya yang di ketuk jadi Vey.
"Jadi bocah jangan suka nguping gak baik!" ucap Vey.
"Ya maaf kan gak sengaja." ucap Malaliza cemberut.
"Menggemaskan." tanpa sadar Vey mencubit pipi Malaliza.
"Mau ya!!" pinta Malaliza bergelayut manja sesekali menusuk pipi Vey dengan jarinya.
"Hm." balas Vey dan pergi.
"Vey belum menjawab,jika tidak Malaliza akan pergi dan tidak kembali!" dengan wajah cemberut Vey yang mendengar ancaman tersebut menghela nafas.
"Baiklah aku akan menuruti keinginanmu." ucap Vey.
Brakk
__ADS_1
"Sial!" ucap Aurel,Vey yang mendengar itu memeriksa jendela dengan segera Malaliza memeluk Vey dari belakang.
"Terimakasih Vey." dengan tersenyum.
Kesempatan itu dijalankan Aurel dan pergi menjauh sebelum ketauan.
....
"Bagaimana?" tanya Jev.
"Malaliza berhasil melakukan tugasnya dan kini Vey akan melakukan tugasnya di perusahaan." ucap Aurel.
"Sudah kuduga pengaruh gadis itu positif,kita harus mendekat dan akrab dengannya agar kita bisa membuat dia sebagai kartu As kita haha..." tertawa jahat.
"Jangan begitu juga sayang,kasihan Malaliza tidak mengerti apa yang kita rencanakan." ucap Aurel.
"Hm,itu permulaan yang bagus untuk kedepannya karna kini aku tau kelemahan Vey apa." ucap Jev.
"Hm,semoga nanti Malaliza bisa mengubah sikap Vey." ucap Aurel.
...
"Kenapa aku masih saja mengingat Malaliza?" ucap Vey frustasi biasanya diwaktu senggang ini dia akan tertidur sebelum malam menjelang dan mengurusi pekerjaannya lagi.
"Kenapa dia bisa membuatku seperti ini dasar bocah." ujar Vey.
...
"Algata bagaimana dengan perkembangan perusahaan?" tanya Frence yang masih terbaring lemah.
"Belum ada perubahan,Vey masih belum melakukan tugasnya ia masih belum siap." ucap Algata membuat Frence merasakan badannya semakin melemas.
"Kapan anak itu mau mengerti sebenarnya aku menikahi Elizia karna keinginan Alm.kakakku dan masalah aku pernah memukulmu hiks...maafkan aku." ucap Frence penuh rasa sedih.
"Aku mengerti itu permintaan Elizia kan agar dia percaya kau menikahinya bukan karna iba padahal kau memang ingin membantu mereka." ucap Algata.
"Maafkan aku Algata,aku memang suami yang kejam." ucap Frence.
"Tidak apa aku mengerti Frence,karna aku yakin cintamu hanya untukku." ucap Algata.
"Memang dari sejak dulu hanya kamu wanita yang aku cintai tidak ada yang lain karna dimataku kaulah wanita yang paling sempurna." ucap Frence.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada Vey." ucal Algata.
"Percuma dia keras kepala sama sepertiku dia tidak akan mudah mempercayai ucapanmu." ucap Frence.
Cklek.
"Tenang om Vey besok akan menjadi pemimpin perusahaan." ucap Jev.
"Jev?" ucap Frence dengan kaget.
"Iya om tenang saja Vey akan menjadi pemimpin perusahaan mulai besok." ucap Aurel.
"Kenapa kalian bisa tau?" tanya Algata.
"Seorang gadis mampu membuat Vey membuka sifat kerasnya dan dengan kemauan Vey menjadi pemimpin perusahaan paman yang hampir bangkrut bisa diatasi lagi,karna Vey cerdas dalam masalah perusahaan." ujar Jev.
"Gadis,apa itu Maudy?" tebak Algata.
"Wanita seram itu tidak bisa melakukannya tante karna bukan Maudy yang membuat Vey terpesona dan merasa nyaman selama ini." ucap Jev.
"Siapa gadis itu?" tanya Algata.
"Tante akan tau setelah tante tau gadis itu." ucap Aurel.
"Bagaimana bisa tempat tinggal Vey saja tante tidak tau." ucap Algata.
"Nanti Aurel akan mempertemukan tante dengannya." ucap Aurel.
"Terimakasih." ucap Algata.
Bersambung...
__ADS_1