MALALIZA

MALALIZA
19


__ADS_3

Malaliza kini sudah berada dirumah dan menonton siaran kartun kuda pony dengan suara yang bervolume tinggi.


Cklek


Vey yang baru tiba langsung tutup telinga karna suara tertawa Malaliza dan kerasnya suara Tv.


"Malaliza bisakah kau kecilkan volumenya?" pinta Vey.


"Tidak tau." ucap Malaliza acuh.


Vey pun memperkecilnya dan menatap snake berserakan dimana mana.


"Yaampun kenapa kau jorok sekali?" ucap Vey dengan raut wajah kesal pasalnya dikantor saja tugasnya masih ada ditambah Malaliza yang membuat kekacauan.


"Kau menghabiskan makanan di kulkas?" tanya Vey.


"Tidak,hanya memindahkannya saja." ucap Malaliza.


"Kemana?" tanya Vey.


Malaliza menunjuk keperutnya.


"Kau itu seperti b*bi saja makan jorok!" ujar Vey dan ia pun membuka kulkas yang isinya Milkshake semua.


"Astaga Liza kau apakan kulkasku mana semua sayuranku?" ucap Vey dengan wajah syok.


"Eumm semalam kan Vey meminta Malaliza untuk membuat milkshake sekalian aja satu kulkas supaya gampang mengambilnya,terus masalah sayuran eumm..." Malaliza menautkan dua jari telunjuknya.


"Katakan!" ucap Vey dengan raut wajah dingin.


Rolca Vey Frence



"Eumm...Liza hanyutkan kesungai berharap ikan tidak mati karna hanya minum air." ucap Malaliza sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sekarang kau mulai memancing amarahku,sekarang kau harus habiskan milshake itu buat semua kulkasku bersih kembali!" pinta Vey.


"Apakah aku melakukan hal yang salah?" batin Malaliza.


...


"Kenapa kau terus memasang wajah kesal Crow?" tanya Elizia.


"Apa mama tau,Vey datang keperusahaan." ujar Crow.


"Apa,manamungkin bukannya dia sudah menolak permintaan ayahmu?" tanyan Elizia.


"Crow juga tidak tau mah sepertinya ada sesuatu yang mengakibatkan dia bisa percaya diri untuk kekantor." ucap Crow


"Apa itu?" tanya Elizia.


"Besok Crow akan mematainya." ucap Crow dengan senyum seringai.


"Bagus anak mamah memang harus pintar!" ucap Elizia.


...


"Bagaimana pertemuanmu dengan gadis itu?" tanya Frence yang hanya bisa menanyakan.


"Dia adalah gadis yang pernah menolong mamah,apa ayah ingat cerita mama waktu itu?" tanya Algata.


"Ah yang menyelamatkan mama dari tabrakan truk?"tebak Frence.


"Betul,tidak disangka ternyata dia adalah orangnya,tapi pah mamah kasihan saat Aurel cerita dia amnesia dan memiliki memory saat usianya 10 tahun." ucap Algata sedih.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Frence.


"Karna kecelakaan."ucap Algata.

__ADS_1


" Kasihan sekali,lalu dia tinggal dimana?"tanya Frence.


"Yatuhan dia tinggal bersama dengan Vey apa yang akan mereka lakukan ditempat yang sama,ayah taukan anak kita itu sudab dewasa?" ucap Algata dengan histeris.


"Hm,percayalah putra kita tidak akan melakukan hal diluar batas." ucap Frence.


"Hm,semoga saja yah." ucap Algata.


...


Kini Malaliza sangat kekenyangan karna menghabiskan puluhan botol dan tingal tersisa 3 lagi.


Dan gelas keempat pun masib ada setengah ia terhenti meminum dan saat meyeruput lagi.



"Inilah hukumanmu karna membuatku kesal." ucap Vey langsung membantu menghabiskan milkshake yang masih Liza minum.


Ketika sibuk menghabiskannya pandangan mereka bertemu dan saling menatap dengan dalam Malaliza tidak tau maksud tatapan itu tapi yang ia tau hanyalah wajah Vey begitu tampan.


Deg


"Dari dekat wajah dia begitu cantik dan menggemaskan ingin aku menggigit bakpau putih itu." batin Vey.


Setelah beberapa menit bertatapan Vey menjauhkan dirinya.


"Makannya kalau tidak mau dihukum lagi jangan berbuat ulah,dasar bocah." ucap Vey kesal.


"Lagian kenapa sih Vey,bukannya semalam Vey meminta Liza membuatkannya karna Liza malas membuat satu-satu jadi sekalian aja kan." ucap Malaliza cemberut.


"Iya deh sisa 3 botol lagi punyaku ya!" ucap Vey membawa milkshakenya dan memasukkannya kekulkas.


"Terserah Vey,ouh ya Vey bagaimana bekerja dikantor apa seperti berkebun?" tanya Malaliza polos.


"Haha...semua pekerjaan itu berbeda Liza kalau berkebun itu khusus untuk tanaman kalau dikantor kita sibuk memasarkan hasilnya." ujar Vey.


"Haha kamu lucu sekali,mana ada jika strawbery mu besar pun tidak akan cukup untuk dijual karna bukan hanya beberapa biji yang dibutuhkan namun beberapa ton." ucap Vey.


"Ton?" dengan bingung.


"Ya kalau dihitung jumlahnya sangat banyak." ucap Vey.


"Sebanyak apa?" tanya Malaliza.


"Tidak bisa diprediksikan besarnya." ucap Vey.


"Apa sebesar gunung?" tanya Malaliza.


"Gunung?" mengeriyit.


"Iya gunung,apa sebesar itu.Apa perlu Liza gambarkan?"


"Tidak usah aku tidak tau akan seperti apa gambaranmu!" ucap Vey.


"Apa kau tidak mau tidur?" tanya Vey.


"Eumm sebenarnya Malaliza ingin kesuatu tempat apa Vey izinkan?" tanya Malaliza.


"Tidak boleh." ucap Vey datar.


"Tuhkan untung Aurel selalu sembuyi." gumam Malaliza.


"Kamu bicara apa?" dengan nada yang tajam.


"Vey mau ya besok saja Malaliza bosan disini." pinta Malaliza.


"Hm,baiklah tapi selebihnya tidak!" ujar Vey.


"Hm,terimakasih Vey yang tampan." Setelah mengecup pipi Vey dan mengatakan tampan Vey merasa malu sendiri mungkin pipinya kini memerah karna perlakuan yang tanpa disadari Malaliza membuatnya senang.

__ADS_1


Flashback


Di taman.


Sebelum melangkah Algata memegang lengan Malaliza.


"Liza tante mohon bawa Vey besok kesini lagi ya nak pagi ini tante ingin mengatakan sesuatu padanya." pinta Algata sambil memohon.


"Tidak usah seperti itu tante,Malaliza akan mencoba membujuk Vey untuk datang."ucap Malaliza.


" Terimakasih nak."ujar Algata.


Malaliza masih memikirkan itu walau dia bersikap anak kecil tapi hati nuraninya masih memikirkan jika hal itu benar.


"Bunda ayah apa yang terjadi besok?" tanya Malaliza.


terlihat sinar dan bayangan yang akan terjadi membuat Malaliza membulatkan matanya dan ia tau apa yang harus dilakukan.


"Semangat Malaliza!" ucapnya sambil terpejam.


...


"Malaliza kaulah gadis pertama yang membuatku bisa bertekuk lutut walau aku tidak tau siapa kau." batin Vey.


Esoknya.


Forever young...tenet..tenettt....Forever young...


Malaliza bersenandung dengan senang.


"Bahagia sekali,memang mau kemana hari ini?" tanya Vey.


"Ke taman." ucap Malaliza.


"Taman,apa kau mau mengajakku piknik?" tanya Vey.


"Eumm,bukan." menggeleng.


"Menikmati pemandangan?" tanya Vey lagi.


"Eumm..bukann..." karna kesal Malaliza menjawabnya dengan nada kesal pula.


"Haha..oke aku tidak bisa menebaknya." ujar Vey dan langsung berangkat menuju taman.


"Vey kenapa banyak wanita yang menatap Vey apa ada yang mau dijadikan istri?" Vey terbatuk disepanjang jalan.


"Kau itu bocah jangan menghayal jauh!" ucap Vey tak habis fikir.


"Kan hanya bertanya Vey,bagaimana jika dengan wanita berpakaian terbuka?"tunjuk Malaliza pada seorang gadis bertubuh semok membuat Vey mebelalak.


"Tidak suka,mereka hanya mengicar uang."dengan tegas dan dingin.


"Matanya sipit,pakaiannya jubah?" tanya Malaliza.


"Tidak."menggeleng cepat


"Eumm tubuhnya gendutan?"mengetuk dagu.


"Tidak,tidak.karna aku suka kam...." Vey terdiam.


"Suka kam?,kampung kambing kamera ouh bi Kamci tukang warteg?" tebak Malaliza.


"Aku tak serendah itu."memalingkan wajah.


"Kalau yang disana?"menunjuk kedepan.


"Mamah?" lirihnya


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2