MALALIZA

MALALIZA
26


__ADS_3

Tok


Tok


"Alice..." panggil Dovin.


"Masuklah ayah." ujar Alice yang ada didalam kamar.


Cklek


"Putri ayah sedang apa?" tanya Dovin lembut,ada rasa bersalah dalam dirinya.


"Alice bosan,dan yah Alice membaca buku saja." ujar Alice sambil mengambil guling sebagai tumpuan.


"Maafkan ayah nak." duduk ditepi ranjang.


"Untuk apa yah?" tanya Alice bingung,tiba-tiba saja ayahnya minta maaf setelah bertemu membuat Alice bingung dengan hal ini.


"Maafkan ayah karna tidak bisa menjadi ayah yang baik,membuatmu tidak nyaman dengan rasa perhatian ayah lewat cara ayah yang memberimu banyak bodyguard." ucap Dovin sendu.


"Tidak ayah." Alice tersenyum.


"Memang itu membuat Alice tidak nyaman tapi jikalau ayah ingin melihat kebebesan Alice bisakah ayah tidak mencampuri privasi Alice dengan para bodyguard?" tanya Alice.


"Ayah takut kejadian dimasa lalu terulang kembali nak,dan Ayah tidak mengharapkan itu." ucap Dovin.


"Jika memang benar lebih baik ayah jangan biarkan Alice menyetir sendiri bukan berarti Ayah mempercayai bodyguard untuk memantau Alice." ucapan Alice begitu terasa akan kekangannya selama ini.


"Baiklah besok tidak ada bodyguard tapi kau sendiri yang harus diantar jemput sopir,kecelakaan itu membuat ayah sadar nak." ucap Dovin .


"Ah,terimakasih yah." memeluk.


"Ya nak." Dovin membalas pelukan sang putri dan merasa bahagia beginikah rasanya memberikan kebahagiaan pada anak,jujur dulu ia tidak memberi sedikitpun celah agar Alice melakukan suatu hal yang bebas menurutnya.


.


.


Jovid telah menyelesaikan urusan kantornya ia berniat pulang dan mengabari masalah keinginan Vey itu.


Tok


Tok


"Kakak??" Alice langsung memeluk Jovid sudah seminggu ini dia tidak berjumpa dengan sang kakak tersayangnya.


"Alice kakak rindu kamu dek." ujar Jovid sambil mencium kepala Alice dengan lembut.


"Ayo kak masuk!" Alice pun meminta Jovid masuk kekamarnya dan duduk di sofa.


"Jadi ada apa kak datang ke kamar Alice?" tanya Alice dengan penuh penasaran,biasanya dialah yang datang pada kakaknya namun kali ini justu kakaknya yang datang.

__ADS_1


"Begini Alice,apa kau pernah mendengar perusahaan milik keluarga Frence?" tanya Jovid dengan serius.


"Eumm,pernah terakhir kali Alice liat di TV tapi itu sudah sangat lama sekali." ujar Alice.


"Hm,putra mereka yaitu Vey ingin bertemu denganmu apa kamu mau?" tanya Jovid.


Deg


"B-ertemu,apakah dia mengenaliku atau kah kakak yang meminta?" tanya Alice sedikit terkejut.


"Dia berkata mengenalimu jadi bisakah kau menerima permintaan klien kakak itu karna kakak tau Vey orang baik." ujar Jovid.


"Baiklah kak jika kakak sudah mempercayainya Alice akan bertemu denganya,kapan itu?" tanya Alice kembali membuat Jovid tersenyum.


"Kakak akan kabari lagi nanti sekarang kakak ingin istirahat dulu." ujar Jovid diangguki Alice.


Setibanya dikamar.


📲


"Hallo."


"Jov,ada apa?"


"Alice bersedia bertemu denganmu."


"Benarkah,ah sudah kuduga terimakasih Jov ini pun pasti berkat dirimu aku bisa bertemu dengannya."


"Kau baru saja mengetahui hal ini,sudah berfikir jauh saja." terkekeh


"Yasudah kapan kalian akan bertemu dan dimana?"


"Di Cafe Gor's pukul 10 pagi."


"Baiklah aku tutup teleponnya."


Tutt


"Huft,aku sudah tau Indrian seperti apa dan si b*jing*n itu tidak pantas untuk adikku Alice." gumam Jovid.


"Jika aku mengatakannya pada ayah pasti dia tidak akan percaya padaku,aku memerlukan bukti tapi sedikit sulit untuk ini." Jovid nampak mengusap kasar wajahnya karna bingung harus berbuat apa,apa mungkin yang ada difikirannya ini jalan terbaik.


Jovid nampak berjalan ke arah Dovindrala.


"Ayah." panggil Jovid sambil menyaku kedua tangannya dan menghampiri ayahnya di meja tamu.


"Ada apa Jov?" tanpa menoleh.


"Huft,ada hal yang ingin Jov sampaikan." ujar Jovid.


"Katakanlah!" pinta Dovin.

__ADS_1


"Begini,seminggu yang lalu Jovid mencoba mencari tau mengenai Indrian." ucapan Jovid membuat Dovin menjadi serius menatapnya.


"Apa uang kau perbuat,ungat Jov dia adalah tunangan Alice!" ucap Dovin.


"Ya aku tau itu Ayah tapi apakah ayah tau sampai kapanpun Jovid tidak akan merelakan Alice padanya!"ujar Jovid.


" Atas hak apa kamu bukanlah orang yang memiliki hak itu Jov!"dengan nada tinggi.


"Aku kakaknya Ayah!" ucap Jovid.


"Dengar ini,kamu bukanlah kakak kandung Alice dan kamu adalah anak yang ditinggalkan oleh kakakku karna sebuah kecelakaan jadi kamu tidak...." Dovin mematung dirinya sudah hilang kesabaran dan akhirnya tersadar atas perkataannya.


"Ayah jadi...."


"Jovid..." panggil Gricela dengan lirih.


"Jadi,selama ini kalian berbohong kalian berpura-pura ouh aku baru tau jadi selama ini kalian memberiku banyak pekerjaan untuk menggantikan posisi Alice setelah Alice menikah perusahaan ditangani suaminya dan kalian akan membuangku bukan pantas saja kalian semangat menikahkannya,..." dengan wajah kecewa.


"Jov..." ucap Dovin dengan wajah bersalah.


"Tenang tuan Dovin,putri anda tidak akan tau hal ini dan terimakasih atas tumpangan kalian karna apa,karna sekarang aku sudah tau identitasku yang hanya anak pungut huh sungguh menyedihkan setelah terbang seatas-atasnya lalu jatuh dengan sejatuh-jatuhnya." tertawa amatir.


"Jov dengarkan ayah..."


"Ayah bukan kau hanyalah Tuan Dovindrala yang memiliki kekuasaan atas istana ini huh dan perlu ditekankan mungkin aku hanyalah Jovid Fren dan tidak memiliki sambungan Dovindrala,em Tuan dan Nyonya Dovindrala terimakasih atas kebaikan hati kalian saya permisi." ujar Dovin melangkah dengan suasana hati yang buruk.


"Jov dengarkan ayah dulu nak!!" teriak Dovindrala.


Beberapa menit kemudian Jovid sudah menenteng tasnya.


"Kau mau kemana Jov?" tanya Gricela dengan raut wajah sedih.


"Selama ini Nyonya yang memberiku kebahagiaan dan memberikan keadilan antara aku dan Alice maka terimakasih atas kebaikan Nyonya,aku tidak akan melupakannya." Jovid memeluk Gricela dengan erat.


"Terimakasih banyak Nyonya berkat dirimu aku mengetahui hal yang lebih baik atas pengajaran tuntunan kasih sayang Nyonya saya mendapatkan sesuatu yang bermakna." ucap Jovid.


"Untuk tuan aku tau kalian adalah paman dan bibi jadi terimakasih tetap saja kalian orang yang berjasa." ucap Jovid tersenyum.


"Jov fikirkanlah kau akan tinggal dimana?" tanya Dovin.


"Tidak perlu khawatir,aku seorang pria dan aku bisa memanfaatkan pengetahuanku,tidak perlu takut aku menjadi gembel karna itu tidak akan


berpengaruh untuk keluarga kalian siapalah aku,Jika Opiniku saja tidak terkabul maka kecemasan kalian bukanlah hal yang patut ditakutkan" dengan senyum terpaksa Jovid memeluk Dovin lalu melenggang pergi.


"Hiks...Jovid..." isak Gricela.


"Maafkan aku karna tidak bisa mengontrol emosiku." ucap Dovin.


"Sudahlah buat apa meminta maaf,karna seorang Dovindrala selalu benar dan orang lain hanyalah patung yang harus bungkam!" perkataan sang istri membuat Dovin merasa kesalahannya sangat fatal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2