MALALIZA

MALALIZA
22


__ADS_3

Di kerajaan Dovindrala..


"Alice,mari turun nak!" ucap Dovin.


"Ya Ayah."ucap Alice yang kini sudah berada dikerumunan para tetamu mengingat dirinya yang sudah ditemukan beberapa tahun yang lalu.



"Kau sangat cantik nak."puji Gricela memeluk sang putri.


"Mama yang lebih cantik,Alice hanya copy dari Mama."perkataan Alice membuat Gricela terkekeh saking polosnya Alice menjawab.


"Putriku mari Ayah kenalkan dirimu dengan pemuda yang pernah Ayah beri tahu!" ucap Dovin.


Sebenarnya Alice tidak ingin,tapi ia hanya akan mengikuti alur entah kenapa tapi ia merasa hatinya telah terisi oleh seseorang yang ia pun tidak tau siapa.



"Perkenalkan putri Alice saya pangeran Indrian Prince saya dari keluarga Prince." membungkuk.


"Hm." balasan Alice hanya sebuah deheman karna ia tidak terlalu akrab dengan pemuda itu.


"Dialah pangeran Indrian yang sempat ayah jodohkan dengamu lice." ujar Dovin.


Alice nampak tak suka ia merasa hidupnya yang dulu lebih baik saat usianya belum beranjak dewasa,ia lebih baik mati saja di jurang itu dan sial nya kenapa pangeran ini yang menyelamatkannya membuat ayah mengira dialah penyelamat Alice.


"Ayo ajak pangeran jalan-jalan di istana ini,dia belum tau seluruh penjuru istana!" ujar Dovin.


"Iya Ayah." mengangguk pelan.


Alice pun mengajak Indrian untuk berjalan ke taman dan disana sesekali Indrian menanyakan sesuatu kadang bisa dijawab atau pun didengar saja.


"Apa kau tidak menyukaiku?" tanya Indrian berharap Alice meresponnya.


"Jika aku mengatakan tidak apa kau percaya?" tanya Alice lagi membuat Indrian nampak kecewa.


"Percaya,maka mulai detik ini aku akan berusaha untuk merebut hatimu putri." ucap Indrian tersenyum manis.


"Hati seseorang tidak bisa dipaksa,karna mereka akan terbiasa dengan hati yang telah terikat." sontak perkataan Alice membuat Indrian tersentak.


"Jadi apa putri sudah memiliki kekasih?" bertanya ragu.


"Entah,tapi setelah aku kecelakaan aku rasa hati ini sudah dimiliki orang lain tapi aku sendiri merasa asing siapa yang sudah lancang menaruh hatinya untukku." ucap Alice.

__ADS_1


"Apa itu sebuah kebetulan atau hanya perasaan semata agar putri bisa menolakku?" dengan nada angkuh.


"Mau dikatakan kebetulan tidak ada yang tau jika perasaan semata aku tidak yakin itu benar masalah menolakmu sekarang juga bisa,tapi aku menghormatimu sebagai pangeran Prince." ucap Alice.


"Bisakah aku mencoba mendekati hatimu,walau kau merasa asing aku tidak akan menyerah." ujar Indrian.


"Itu terserah padamu pangeran,tapi bila datang seseorang yang mampu menggerakkan hatiku kuharap saat itu cintamu padaku tidaklah mendalam,karna..."


"Karna apa?" penasaran.


"Karna buah dari cinta yang terbalas oleh rasa sakit akan berakhir pada dendam dan kekecewaan dan pada saat bersamaan aku ingin hal itu tidak terjadi." ucap Alice mulai meninggalkan Indrian yang nampak memerlihatkan wajah kecewanya.


"Aku tidak akan mundur putri Alice." batin Indrian.


.


.


.


Kini Alice sedang berada di tempat lukisnya,ia memang gemar melukis sedari usia 10 tahun namun saat itu dia belum lihai melakukannya sehingga yang ia buat hanyalah gambaran yang jelek dan saat itulah Dovin memberikannya guru menggambar dari Inggris.


"Siapa yang dengan lancang mengisi hatiku,tapi aku tidak tau siapa wajahnya pun aku tidak tau." batin Alice.


"Kalung apa ini,apa mungkin dulu ada yang memberikannya padaku,umm semoga ini hal baik aku ingin sekali menemukan pria itu mengetahuinya Huft,sungguh ini memusingkan kepalaku." gumam Alice dan kembali fokus pada lukisannya.


Ia pun dengan lihainya mencoret kertas itu hingga terpampang sebuah wajah lelaki yang nampak asing tapi merasa bahwa wajah itu pernah ia kenal.


Wajahnya membulat sempurna dari fikirannya saja ia tidak membayangkan wajah ini tapi kenapa lengannya begitu mudah bergerak sendiri menciptakan karya seorang lelaki.


"Alice." panggil Jovid.


Alice menengok sang kakak dan nampak terkejut segera ia merobek kertas itu dan membuangnya.


"Apa yang kau sembunyikan kenapa kau merobeknya?" tanya Jovid dengan menautkan satu halisnya.


"Ah,umm..Itu gambaranku tidak ada nilai terpendam dilukisan yang ini jadi sudah mau dibuang." ucap Alice sambil mengigit bibirnya.


"Yasudah tapi jangan lukai bibir mu jika kau tidak menyembunyikan sesuatu dari kakak!" pinta Jovid.


"Hm,ya...Kakak ada apa kesini?" tanya Alice.


"Ouh,keluarga Prince pamit undur diri apa kau tidak akan mengantar mereka?" tanya Jovid.

__ADS_1


"Ah,kalau begitu ayo kak!" Alice berjalan mendahului Jovid.


"Dasar anak itu tidak pernah berubah." menggeleng kepala.


.


.


"Nak Mama jadi merindukan Malaliza,bisakah mama bertemu dengannya?" tanya Algata.


"Iya nak dulu ayah tidak sempat berjumpa dengannya sekaligus berterimakasih berkatnya kau bisa mengindahkan permohonan ayah." ucap Frence.


"Yah,Mah,saatnya kalian tau." perkataan Vey membuat Algata dan Frence saling beradu pandang.


"Malaliza sudah menghilang saat Vey meninggalkannya maaf membohongi kalian karna saat itu Vey tidak mau membuat kalian cemas." Vey nempak sedih saat bercerita.


Algata memeluk Vey mencoba menenangkan putranya yang sedang bersedih.


"Sudah jangan difikirkan terlalu mendalam,mama percaya Malaliza masih hidup dan dia mungkin sudah pulih ingat dan ia pulang tanpa seizinmu." ujar Algata.


"Jika memang itu alasannya kenapa dia pergi saat Vey sudah jatuh cinta padanya?" perkataan Vey membuat kedua orang tuanya tersenyum.


"Dengar nak ujian manusia adalah dalam titik kesabaran dan usaha yang ia jalani jadi jika memang kau mencintainya maka berusahalah dan bersabar dalam mencarinya!" ucap Algata.


"Huft,iya ma selama Malaliza tidak ada kabar Vey percaya dia hidup tenang saat ini tapi Vey tidak akan melepasnya begitu saja dia harus tanggung jawab padaku!" ucap Vey membuat Algata menggeleng.


"Niatmu sudah bagus tapi perkataanmu menakutkan memang ya ayah dan anak sama saja,sama-sama menakutkan jika menyangkut cinta." goda Algata.


"Aku mencintainu oleh karna itu aku tidak ingin kehilangan cintaku sekalipun kau menolak kau tidak bisa menghindar." ucap Frence.


"Selama ini Vey salah menilah ayah tapi setelah hal yang sangat besar ditunjukan Malaliza rasa benci Vey memudar untuk ayah." ucap Vey.


"Kapan kau akan menikah,usiamu sudah 27 tahun!" ujar Frence.


"Maksud ayah?" tanya Vey.


"Aku ingin segera mendapat cucu,jika kau tidak sanggup maka ayah akan menjodohkanmu saja!" ucap Frence menyeringai.


"Never,jika itu terjadi dengan seribu gadis pun Vey akan menolak kecuali salah satu dari mereka adalah Malaliza!" Vey pun pergi dengan raut wajah kesal.


"Kau ini menggoda anakmu terlalu berlebihan dia itu sensitif,tapi benar juga aku ingin menimang cucu hihi..." kekeh Algata.


"Kita berdoa saja semoga putra kita cepat menemukan cintanya." balas Frence.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2