
Setelah mengurus urusannya Vey pun berniat mengajak Malaliza untuk makan malam karna sehabis pulang dari rumah sakit mereka belum makan sama sekali.
Ia perlahan membuka pintunya dan menatap Malaliza yang sedang tidur ia pun mencoba menggoyangkan tubuh Malaliza agar terbangun namun sang empu tetap memejamkan mata,Vey mencoba menyalakan sklar saat lampu menyala matanya membulat karna gadis itu hanya memakai tanktop dan juga celana pendek.
"Hey bangun anak kecil!!" teriak Vey sambil mengarahkan kepalanya kearah lain.
"Ungghh...apaan sih om,Liza masih ngantuk." ucapnya.
"Jika dalam 5 menit tidak turun jatah makan malammu tidak ada,dan kau harus menahan lapar!" ujar Vey mengancam dan segera keluar kamar.
Kini wajah Vey memerah karna merasa malu,beginilah akibat masuk kamar gadis ya walau berfikiran anak kecil tapi ia harus bagaimana,jika dibiarkan dan dimanja dia tidak akan mungkin bisa hidup tenang dengan gadis itu.
"Om,udah lewat 5 menit kok masih disini.Nungguin ya?..." goda Malaliza namun Vey hanya acuh dan berjalan menuju meja makan.
"Wah,siapa yang memasak ini,sepertinya lezat." ucap Malaliza yang sudah ngiler karna merasa lapar dan mencium aroma harum masakan,saat ia mau mengambil sepotong ayam.
"Tunggu,jangan di ambil dulu tidak sopan sekali." ucap Vey dengan nada ketus membuat Malaliza cemberut dan memanyunkan bibirnya.
"Diam dan duduk saja bibirmu seperti pantat ayam!" ucapnya membuat Malaliza semakin kesal.
"Om jahat!" balasnya dengan kesal sambil menendang pelan kursinya.
"Aku tidak perduli." balas Vey dengan wajah datar.
2 menit kemudian...
"Nunggu apa sih om,Liza udah lapar..." rengeknya sambil mengembungkan pipi chubbynya Vey saja gemas ingin mencubit.
"Kita makan tepat pukul tujuh kau tau angka itu kurang 3 menit lagi!" ujar Vey.
"Tau begitu Liza nunggu aja sambil tiduran." ucap Malaliza kesal.
"Hey ada untungnya juga,makanan sudah dingin baru bisa dinikmati tanpa perlu berlama-lama meniupinya." ucap Vey.
"Ou...." balas Malaliza sambil memangut-mangut.
"Siapa yang masak om?" tanya Malaliza menatap hidangan itu sangat lezat.
"Saya." balas Vey,membuat Malaliza cengengesan.
"Serius om,tubuh om bagus biasanya dipakai olahraga ini dipakai memasak." ujar Malaliza sambil terkekeh.
__ADS_1
"Memang tubuh menjamin segalanya,kau yang kurus saja makan banyak itu kenapa bisa terjadi?" tanya Vey membuat Malaliza bungkam.
"Liza tidak tau om." ucapnya dengan polos.
"Ck sudahlah ayo dimulai!" Vey yang hendak mengambil sinduk dengan segera Malaliza memgambilnya dan menyendokkan nasi kepiringnya membuat Vey terkejut,biasanya jika dia makan dialah yang pertama menyinduk karna yang memasak yang memakan.
"Kau ini tidak sopan,apapun yang dilakukan harus aku yang memulai baru kau,apa kau mengerti??" ucap Vey dengan tegas.
Malaliza pun merasa bersalah ia pun mengambil piring Vey dan memberikan piringnya yang sudah terisi nasi.
"Maafkan Liza om,nanti lagi Liza akan ingat itu." ucapnya dengan nada bersalah.
"Hm,bagus." ucap Vey.
"Om mau apa Liza ambilkan." ucap Malaliza.
"Tidak perlu!" ucap Vey dengan wajah dinginnya.
Malaliza merasa cemberut karna perlakuan dingin Vey padanya padahal dia hanya bersikap baik.
Setelah makan.
Vey sedang mengerjakan art nya yang sedari tadi ia kerjakan namun ia masih belum menemukan ide cemerlang untuk konsepnya.
"Tidak usah melakukan itu,itu tidak berguna!" ucap Vey yang masih fokus pada lukisannya,Malaliza merasa kecewa karna ketahuan.
"Om itu apa?" Sambil menunjuk lukisan Vey.
"Itu lukisanku,aku mau mengambarnya dikertas itu." ucap Vey sambil mengetuk dagunya memikirkan apa yang harus ia tuangkan kedalam lukisan itu.
"Ouh...kenapa gak ada warnanya,kalau adakan lebih bagus." ucap Malaliza dengan tatapan polos.
"Ck,aku jadi tidak percaya usiamu 10 tahun." ucap Vey membuat Malaliza menatapnya lebih dekat.
"Om usiaku memang sepuluh tahun gak berubah." ucap Malaliza kesal.
"Jika benar kenapa otakmu bodoh,kau lihat aku belum memberinya warna aku sedang berfikir bodoh!" setak Vey membuat Malaliza melengkungkan bibirnya tak lama ia menangis kencang.
"Hiks...hwaa......om jahat hwa....." Tangisnya semakin kuat membuat Vey kalang kabut.
"Eh sudah ya jangan menangis nanti aku berikan kau tempat lukisan apa kau mau?" bujuk Vey membuat mata Malaliza kembali berbinar.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Malaliza gembira dan Vey hanya mengangguk.
"Tapi Liza pingin sekarang." rengeknya dan dengan terpaksa Vey memberikan tempat lukisannya.
"Yeah...."girangnya
"Kau lakukanlah sesukamu mood ku sudah hilang melihat wajah jelekmu!" ucap Vey dan melenggang pergi.
"Om akan terpesona melihat lukisanku." ucap Malaliza dan ia segera mencoret ketar putih itu dengan warna setelah selesai ia sangat senang akan hasilnya.
Karna kelelahan ia tidak sempat kekamarnya sehingga ia tertidur disitu dengan keadaan tempat yang berantakan.
Esoknya....
Vey turun ke bawah sambil menguap dia sangat lelah karna begadang memikirkan konsep lukisannya sampai dia tidur entah jam berapa.
Saat turun dia disuguhi pemandangan yang membuatnya sangat kesal.
"MALALIZA!!" teriak Vey membuat Malaliza terbangun dan melap air liurnya yang keluar.
"Hoam....om ada apa?" Malaliza menggaruk punggungnya yang gatal tanpa merasa takut,yang ada matanya yang sayu ia teringat ingin menunjukan karyanya ia pun berlari mendekat ke arah Vey.
"Om liat." Vey pun hanya diam dengan ekspresinya yang masih kaget,ia menepis Malaliza dan segera membereskan kerusakan membuat Malaliza sedih karna diabaikan.
Vey pun membersihkannya membuat Malaliza tergerak untuk menolongnya saat ia memegang cat tak sengaja tumpah mengenai lukisan yang dibuat Vey dalam seminggu.
"Alamak..." Malaliza menutup mulutnya karna tidak sengaja saat ia berbalik asap merah mengepul dari atas kepala Vey.
"MALALIZA!!!" teriak Vey untuk kedua kalinya dan Malaliza hanya menunduk bersalah.
"Kau harus ku hukum karna berbuat kekacauan,kenapa jadi seperti ini baru saja tinggal sehari kau sudah mengacaukan semuanya!" Kesal Vey.
"Oke,sebelum dihukum Liza mau nunjukin gambaran Liza semalam." Liza pun menunjukkan karyanya.
"Ini Om,ini Liza." ucapnya gembira,bukan bahagia malah Vey semakin kesal dan murka bagaimana tidak Liza menggambar dirinya sendiri seperti putri sedangkan Vey digambarnya menyerupai **** sungguh dia ingin mencekik gadis didepannya.
"Kau sudah kelewat batas!hukumananmu aku tambah Liza." teriak Vey dengan marah.
"Kok gitu Liza udah capek bikin wajah om berkali-kali susah dan yang gampang gambar ini." tunjuknya pada lukisan **** itu.
"Liza!!!akan ku tendang kau." Malaliza yang mendengar itu berlari kekamarnya setelah melihat wajah Vey yang menyeramkan baginya.
__ADS_1
Ihh...ngeri_Batinnya
Bersambung....