
Brakkk
"Aaaaa!!!!" Teriak Alice sambil memegang kepalanya agar tidak membentur atap mobil.
Brakkk
Brakkk
Byurrrrr
Ia pun tenggelam ke pantai yang dalam,saat ia mencoba keluar dari mobil ia terbentur oleh beberapa batu membuat kepalanya berdarah ia pun terus mencoba membuka pintunya dan berhasil namun saat keluar sebuah air bergelembung mendekati kearahnya bagaikan arus yang menyeretnya.
Batu runcing menancap di bagian punggungnya membuat dia lemah dan kehabisan darah lama-lama kesadarannya mulai memudar.
Sebelum itu seekor ikan yang menyerupai manusia namun berwajah mirip ikan dan berekor menghampirinya.
"Kau akan hidup,namun ingatanmu akan hilang dan kau akan menjalani kehidupan seperti saat usiamu 10 tahun,setelah kau sadar kau akan menemukan cinta sejatimu yang mencintaimu setulus mungkin dan setelahnya kau akan ingat untuk mengembalikan kalung ini jika sudah bercahaya sempurna,jagalah dengan baik!" setelah itu Alice pun hilang dari kesadarannya air menyeretnya ke tepi pantai dengan keadaannya yang lemas tersapu ombak.
.
.
"Rasanya aku harus mencari model untukku pakai agar lukisan ini beres saat akan di pasarkan,tapi siapa?" batinnya.
📲
Drttt
Drttt
"Hallo?" ucap Vey.
"Kau dimana,kami semua menunggumu Vey!" ucap seorang pria di sebrang sana.
"Biasa tempat menenangkan diri,memang ada apa?" tanya Vey dengan dingin.
"Ck,tidak ada perubahan sama seorang seniman ini,ouh ya malam nanti ada party menyambut kekasihku dari Australia!" ucapnya.
"Aku sibuk!" balas Vey dengan malas.
"Ahk masa sih,beneran nih ya nanti temanmu ini akan kasihkan model jika kau datang kesini.Lagian siapa yang tau kalau modelnya sesuai kiteriamu jadi kau harus datang." ujarnya.
__ADS_1
"Ck,kau ini menyebalkan sekali.Baiklah jika aku berubah fikiran aku akan datang tapi nanti akan ku kabari lagi!" ucap Vey dengan malas.
"Yaya,aku tunggu ya sobat haha jangan galau mulu kasian tuh Maudy Blue yang cuantik kau diamkan saja." godanya.
"Maaf tuan Jev Molkey yang ada kau yang harus menjaga matamu,ck kasihan sekali kekasihmu itu." ejek Vey.
"Hey,aku tidak seperti itu ya!" dengan nada tak terima.
"Hm,jika sudah aku matikan!" ucap Vey langsung mematikan ponselnya.
"Huh,jika aku menggunakan saran Jev mungkin nanti akan banyak masalah dan pastinya wanita genit itu akan membuat kerusuhan lagi." ucap Vey menutup matanya.
Tiba-tiba angin pantai berubah menjadi lebih dingin dan pemandangan didepannya sangat menakjubkan membuat Vey merasa terkagum dan segera ingin melukisnya,ia pun menggunakan mantelnya dan pergi keluar bersama peralatan melukisnya,ia rasanya ingin melukis langsung didepan pantai.
Ia berjalan menyisiri bibir pantai karna mencari objek yang tepat untuknya melukis dengan tenang dan juga tidak membuat konsepnya berubah dari pemandangan didepan apartemennya.
Byurrr
Gelombang air kini tidak berombak besar membuat suasana lebih tenang tapi angin cukup dingin untuk hari ini membuatnya harus rela duduk dengan keadaan kedinginan.
Syuu....
"Siapa dia?" batinnya.
Ia mendekat dan ia pun menyentuh pipinya berharap gadis itu membuka mata,saat melihat lukanya ia rasa cukup parah apa lagi di punggungnya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
"Apa aku biarkan saja dia dimakan hiu,tapi kasihan juga dia cantik dan manis." ujarnya dan dengan segera Vey melangkah menjauh namun hatinya merasa bahwa dia harus menolong.
"Apa aku tolong saja,tapi bagaimana jika dia akan berbuat macam-macam nantinya?" batin Vey.
"Vey kau harus menolongnya dia kesusahan dan kau masa tidak punya rasa prikemanusiaan?" ucap Vey putih.
"Vey jangan bagaimana jika nanti dia memanfaatkanmu?" ucap Vey merah.
"Dia cantik dan manis apa kau tidak memikirkan bahwa dia berguna sebagai modelmu?" ucap Vey putih.
"Jangan dengarkan setan itu karna apapun didunia ini adalah mahal dan kau harus memikirkan itu!" ucap Vey merah.
"Ahk,brisik kalian syuhh!!" Vey pun menggelengkan kepala dan menatap gadis itu lamat-lamat dan ia pun menggendongnya ala bridal style.
__ADS_1
"Aku seperti mengangkat busa,dia sangat ringah untung saja dia memperhatikan pola makan ya walau lebih kurus."ucap Vey.
Setelah sampai di apartemennya dia membaringkan gadis itu dengan perlahan dan ia pun tersenyum menatap wajah indah gadis itu bak barbie.
📲
" Cellos bisa kau ke apartemenku seseorang terluka disini!"ucap Vey.
"Baiklah." ucap Cellos diseberang sana,Cellos adalah dokter kepercayaan Vey karna jika ada luka ataupun apa Vey akan menghubungi Cellos karna dulu mereka berteman baik bukannya hanya saat sd bahkan saat kecil walau mereka tidak satu bidang tapi mereka berteman akrab.
beberapa jam kemudian.
"Siapa yang sakit?" tanya Cellos mengedarkan pandangannya.
"Dia!" tunjuk Vey pada gadis itu.
Cellos terkejut saat melihat gadis itu dia tidak habis fikir Vey membawa seorang gadis tanpa rasa takut dan intinya Cellos tau Vey yang sulit didekati gadis karna traumanya ibunya dulu,ibunya yang selalu disakiti ayahnya membuatnya tidak tega jika dia akan berlaku sama karna biasanya anak tidak akan jauh pada sifat orang tuanya sehingga dia menghindar dari wanita manapun terkecuali ibunya yang ia sayangi.
Callos menatap tajam wajah Vey yang hanya mengekpresikan wajah bingung.
"Apa?" tanya Vey.
"Darah apa itu,jangan-jangan..." Callos menatap kasur gadis itu berlumur darah.
"Punggungnya terluka parah mungkin sobek jadi merembes keluar hingga mengenai kasur kau fikir aku lelaki seperti apa?!" ucap Vey kesal.
Cellos hanya tertawa karna gurauannya dianggap serius oleh temannya ini.
"Aishh kau sangat kejam,seharusnya sedari tadi kau katakan bagaimana kalau dia kehilangan banyak darah!!" ucap Cellos langsung memeriksa.
"Kau sudah tau kenapa masih mengomen,aku ragu kau lelaki,biasanya cewek yang cerewet!" ucap Vey melipat kedua tangannya.
"Yaampun ROLCA VEY FRENCE dia terluka sangat dalam bagaimana bisa kau santai begini jika dalam beberapa jam dia tidak dibawa kerumah sakit,nyawanya akan menghilang!!" teriak Callos membuat Vey membulatkan mata.
"Hah mati??" ucap Vey terlonjat kaget dan segera menggendong gadis itu dan membawanya ke rumah sakit.
"Cih,jika suka bilang saja sampai aku kau tinggalkan,teman macam apa?" ucap Cellos dan segera menyusul Vey dengan mobilnya.
"Sial,jika tau dia akan mati aku sudah dari tadi membawanya ke rumah sakit dari pada memanggil Cellos yang ujung-ujungnya tidak berguna,tapi kenapa aku sepanik ini apa mungkin karna takut saja jika dipenjara?" batin Vey menatap gadis itu yang sudah mulai pucat.
Tak perlu menunggu lama Vey sudah sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung....