MALALIZA

MALALIZA
04


__ADS_3

"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Vey merasa cemas.


"Dia baik-baik saja hanya perlu dirawat inap beberapa hari lagi." ucap sang dokter.


"Kau beruntung kekasihmu itu tidak mati,karna biasanya orang yang kekurangan darah akan mati karna kekeringan." ucap Cellos.


"Ck,diam kau!" ucap Vey dengan raut wajah kesal karna temannya ini sangat cerewet.


"Setelah ini kau mau apa?" tanya Cellos.


"Aku akan urus administrasinya tapi tidak akan mengurusi dia lagi." ucapan Vey membuat Cellos membelalak karna terkejut.


"Apa-apaan kau ini,dia masih sakit apa kau tega meninggalkan dia yang malang?" ucap Cellos dengan raut kasihan pada gadis.


"Urusi saja olehmu,aku tidak ingin banyak masalah karna dia!" ucap Vey dengan nada kesal.


"Kau ini bagaimana sih,dia itu baru saja dilarikan kerumah sakit,lalu bagaimana aku memberikan dia alasan yang jelas sedang kan kau yang mengenalnya." ucap Cellos menggelengkan kepala.


"Aku tidak mengenalnya aku menemukannya dipinggir pantai saat memikirkan ide karyaku." ucap Vey.


"Hah,serius gila man dia cantik kayak barbie menurutku coba kau jadikan dia modelmu saja bisa memperoleh keuntungan,aku dengar dari Jev." ucap Cellos.


"Ck,kalian emang tukang rumi.Lagian aku bisa mendapatkan siapapun untuk jadi model jadi aku tidak tertarik padanya." ucap Vey.


"Baiklah tapi malam ini jangan berharap bisa membawanya,karna aku pria sejati aku akan merawatnya sebagai dokter murah hati." Mendengar itu Vey merasa ingin muntah karna rasa percaya diri temannya itu.


Setelah mengurus semua Vey pun pergi pulang menuju tempat biasanya ia menatap sekitar pantai yang lebih tenang ada sekolebat fikiran tentang gadis tadi.


"Kasihan juga difikir-fikir tapi jika aku membawanya bisa-bisa Cellos mengejekku habis-habisan secara dia cerewet." ucap Vey dan segera ia kembali ke tempat biasa ia membuat karya disetiap penjuru ruangan ia bisa menemukan berbagai macam lukisan yang berbeda lukisan klasik sampai lukisan zaman dulu,ia sudah memiliki bakat dari kecilnya katanya kakeknya yang mempunyai keahlian itu.


Ia mulai mengukir lekukan garis yang menciptakan sebuah gambar yang abstrak tapi karna ia sedang tidak fokus akhirnya dia menghentikan kegiatannya.


"Sial,kenapa harus terfikir gadis itu lagi." Kesal Vey.


📲


"Iya ada apa?" tanya Vey dengan suara dinginnya.


"Malam ini acaranya diadakan kau kuharap datang apalagi Maudy sudah semangat akan kedatanganmu." ucap Jev.


"Aku tidak akan pergi,karna modelku sudah ada jadi jangan berharap aku datang keacara membosankan itu!" ucap Vey mematikan telphonnya.


"Pasti dia akan datang untuk mencari modelku,ck kenapa semua temanku gila." ucap Vey frustasi.


Ia pun mengambil kunci mobilnya dan beranjak menuju rumah sakit untuk membawa gadis itu.

__ADS_1


Vey turun dari mobil ia menatap seluruh rumah sakit dan berharap tidak menemukan Cellos,ia pun berjalan mengendap endap seperti maling agar dia tidak ketahuan jika Cellos datang,saat dia menengok ke belakang suasana sepi.


Bugghh


Ia pun menabrak orang yang berada didepannya seketika ia terkejut.


"Wah wah,ada apa kau sampai datang kesini memang keluargamu ada yang sakit?" tanya Cellos melipat kedua tangannya.


"Siapa bilang aku hanya ingin memberi tau mu jika dia gadis berbahaya dan aku yang akan bertanggung jawab jadi lebih baik dia pulang bersamaku saja." ucap Vey.


"Ouh ya,jika dia memang berbahaya aku tinggal lapor polisi tidak perlu kau!" ucap Cellos mengerjai niat temannya ini.


"Polisi pun tidak akan sanggup mengurusinya jadi biar aku saja." ucap Vey.


"Tidak perlu." Cellos beranjak pergi dan Vey pun memegang lengannya.


"Ck jangan seperti di drama aku tidak akan baper dan tidak akan kasihan padamu,suruh siapa kau membuangnya yang sangat cantik itu." ujar Cellos.


"Aku tarik perkataanku,ya aku membutuhkan dia sebagai modelku akan aku bayar kau berapapun asal kau bersedia memberikannya padaku!" ucap Vey.


Kini Cellos hanya bisa tertawa karna berhasil mengerjai seorang Rolca Vey Frence.


"Baiklah,kau harus berjanji suatu hari bawa sepupumu yang imut itu siapa ya namanya ouh Roseana,aku tunggu." seketika Vey membulatkan matanya.


"Baiklah,kesepakatannya tidak jadi." ucap Cellos.


"Hm baiklah." angguk Vey.


"Karna kau bersalah telah menolak syarat keduanya teraktir aku di restorang favorite!" ucap Cellos.


"What!!restoran favorite mu bisa membuatku bangrut los harga satu makanan paling murah saja 6 juta apa lagi kau yang makannya seperti ikan buntal." ucap Vey.


"Baiklah kesepakatan dibatalkan!" ucap Cellos senang.


"Ehh,kau temanku masa kau tega baiklah aku akan setuju." ucap Vey.


"Hm,karna kau menolak tadi syarat ketigaku,aku memintamu untuk datang keacara Jev lagian aku tidak ada waktu memberikan kekasihnya hadiah!" Akhirnya Vey hanya bisa mengangguk jika dia menolak Cellos bisa-bisa ada syarat selanjutnya.Ia sebenarnya sudah menolak karna sudah punya model tapi karena permintaan temannya yang tidak mengerti nasibnya ia harus rela datang ke acara kekasihnya Jev.


"Good luck sobat,bersiaplah bertemu dengan Maudy kau membantuku lepas dari sahabatnya Nona Clarasia." ucap Cellos dan melenggang pergi.


"Siap-siap kau gadis kau harus membayar semua apa yang sudahku korbankan." ucap Vey menatap ruangan gadis yang masih terlentang koma.


.


.

__ADS_1


.


Malam pun tiba Vey tidak menggunakan stelan jas ia hanya menggunakan baju hitam sebatas leher dan juga celana panjang coklat karna menurutnya acara ini tidak formal namun ia masih memiliki kesan cool.


"Wah,ternyata kau datang disini sudah ramai orang yang menunggu dan ternyata kau sudah disini saja,kenapa berubah fikiran apa modelmu tidak mau?" goda Jev.


"Dia masih sibuk jadi kufikir ke acara ini saja dulu." ucap Vey beralasan.


"Hm,ayo kukenalkan pada kekasihku yang cantik,nama dia Aurel amanda." ucap Jev.


AUREL AMANDA



"Hallo,namaku Aurel Amanda kau tidak lupa bukan teman masa TK." ucap Aurel dengan tersenyum.


JEV MOLKEY



Vey hanya tersenyum kembali walau ia sudah lupa tapi ia tetap ramah tiba-tiba seoeang gadis berlari kearah Vey dan memeluk tangannya.


"Aku merindukanmu." ucapnya.



Vey langsung melepasnya dengan kasar.


"Siapa kau jangan dekati aku lagi!" ucap Vey dengan kesal.


"Aku hanya rindu." ucapnya dengan wajah cemberut membuat Vey rasanya muak dengan wajahnya yang dibuat-buat.


"Jika sampai kau berlaku begitu lagi tidak akan hari besok untukmu!" ucap Vey tegas.


"Dimana Cellos?" ucap wanita disebelahnya.


"Ck,dugaan dia memang benar wanita gila seperti kalian memang tidak bisa membuat kehidupan orang lain tenang!" setelah itu Vey pergi dengan langkah yang lebar.


"Sabar ya Nona." ucap Maudy.


"Aku pun sama untukmu." ucap Nona.


"Kita tidak akan menyerah." ucap Maudy diangguki Nona.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2