
Orang itu pun nampak sama kesakitan ia mendongkak.
"Malaliza?" ucapnya.
"Maaf ibu,nama saya Alice sepertinya ibu salah orang." ucap Alice dengan ramah.
Ibu itu langsung memeluk Alice dengan erat.
"Malaliza,apa kamu gak ingat mama Algata yang dulu kamu sebut tante nak?" tanya Algata masih memeluk Alice dengan erat.
Tiba-tiba seseorang menarik Alice menyemprotkan sesuatu kebadan Alice.
"Maaf ya bu,jangan sembarangan memeluk putri Alice karna kuman bertebaran dimana-mana tak terkecuali ibu!" ucap salah satu bodyguard membuat Alice merasa gagal untuk kabur.
"Heh,seenaknya kamu berurusan denganku,jika anakku datang kau pasti akan mendapatkan hukuman dari anakku!" bentak Algata.
"Malaliza ayo pulang,Vey menunggumu nak." ujar Algata lembut.
"Vey??" ucap Alice dengan wajah bingung.
"Iya,Vey lelaki yang kamu cintai begitupun Vey mencintaimu." ucap Algata terus terang sambil menggandeng Alice.
Plakk.
Seorang lelaki menepis lengan Algata dan menyeret Alice mendekat padanya.
"Jangan membual tante,dia adalah Alice Gricela Dovindrala dan tak seorang pun tau siapa sesungguhnya jadi berhentilah berbual karna Malaliza yang tante cari adalah calon tunanganku!" ucap Indrian dengan tatapan tajam.
"Cih,masih calon tunangan denger ya gak akan lama Malaliza akan jadi menantu ibu lihat saja dan jika memang nama asli dia Alice maka tak akan lama Alice Gricela Dovindrala akan beralih nama menjadi Alice Gricela Frence." ucap Algata dengan tegas.
"Heh jangan membual wanita tua,cepat pergi!" teriak salah satu bodyguard.
"Hey tunggu!" teriak Alice menghentikan Algata yang diseret bodyguard.
Alice tiba-tiba memeluk Algata sontak membuat Algata sangat bahagia dengan pelukan itu.
"Maafkan mereka ya tante,dan Alice ingat pernah bertemu tante saat tante mau tertabrak kendaraan umum mungkin itulah yang membuat tante tau Alice." tersenyum
"Bukan nak tante tau kamu saat kamu hilang ingatan dan menjadi Malaliza." batin Algata.
__ADS_1
"Kau sangat baik nak semoga tante bisa membawamu menjadi menantu disuatu hari kelak." ujar Algata.
"Jangan membual,karna Alice hanya pantas bersamaku yaitu pangeran Indrian Pince!" ucap Indrian dengan mata berkabut amarah.
"Hey anak muda ingat ini baik-baik,sesuatu yang dipaksakan akan berakhir penderitaan,dan buah kesabaran adalah kebahagiaan jadi camkan itu!" ucap Algata dan pergi begitu saja.
"Ayo Alice kau maukan ke supermarket?" tanya Indrian.
"Sudah tidak mood lebih baik kita pulang saja!" pinta Alice.
"Bagaimana..."
"Apa aku harus mengulang kembali perkataanku pangeran?" dengan tatapan datar.
"Ah ya jika itu keinginan putri,pengawal cepat siapkan mobil kita akan kembali ke istana Dovindrala!" ucap Indrian.
"Ck,bisakah aku hidup tenang sehari saja?" batin Alice sambil menggerutu.
Di perusahaan Frence.
"Christian!!" teriak Algata yang sudah tak sabar bertemu anaknya.
"Nyonya Algata,ada apa anda repot datang kemari?" tanya Christian lembut,bukannya mengusir tapi ia tau sekali Algata tak pernah ingin datang ke perusahaan guna menghindari Elizia.
"Tuan Vey sedang melangsungkan rapat beberapa menit yang lalu." menundukkan kepala.
"Berapa lama lagi rapatnya selesai?" menatap Christian yang menunduk.
"Sebentar lagi,jika Nyonya tidak keberatan mari menunggu di sofa sana!" dengan merentangkan tangan menuju sofa.
Algata mengangguk setuju dan ia pun mendaratkan bokongnya di sofa besar itu ditemani Christian yang setia menemani.
"Ouh ya Chris,bagaimana dengan kemajuan perusahaan?" menatap serius.
"Sangat baik bahkan meningkat 60% dari perkiraan,cara kerja tuan Vey dianggap sangat memuaskan terlebih saat tuan Frence sendiri turun jabatan perusahaan sudah bisa di prediksi masuk sebagai perusahaan terbesar ke 3 se-Asia."ucap Christian panjang lebar.
"Sungguh memang putraku berbakat menyangkut proyek besar apa kau sudah yakin bahwa putraku tidak kelelahan?" menatap dengan penasaran.
"Untuk itu tidak perlu dikhawatirkan karna hampir setiap saat bawahan kami yang melihat perkembangan tapi sesekali Tuan Vey langsung yang datang sehingga bisa dibilang 70% pekerjaan beliau dilakukan di kantor." ucapan Christian membuat nafas Algata merasa lega.
"Terimakasih Chris kau memang bisa diandalkan untuk membimbing keluargaku walau kau masih muda tapi kau punya daya fikir dewasa dan mampu membuat suatu hal yang sangat luar biasa." ujar Algata.
__ADS_1
"Nyonya tidak perlu berlebihan memuji saya diatas langit masih ada langit lagi jadi saya tidak bisa berbangga hati dengan kemampuan saya karna masih banyak yang harus di perbaiki." ucap Christian merendah.
"Mama,kenapa datang kekantor Vey?" memeluk Algata.
"Ada hal penting yang ingin mama katakan padamu." ujar Algata dengan nada serius membuat Vey yang notabe nya tau bahagiaman sang mama bisa tau jika Algata pasti akan mengatakan hal yang peting.
"Ayo ma,kita bicarakan di ruangan Vey!" ucap Vey sambil mengandeng Algata dengan penuh kasih sayang.
Dilain tempat.
Alice masih cemberut,bagaimana tidak kini hidupnya tidak ada perubahan sama saja seperti dulu.Tapi kini fikirannya tertuju pada wanita paru baya tadi,sepertinya wanita itu nampak tau dirinya siapa tapi kenapa harus memanggil Malaliza siapa Malaliza sebenarnya.
Indrian yang menyadari tatapan Alice yang sedang menatap jalan lewat kaca mobil menjadi penasaran apa yang dilihat gadis yang disukainya itu.
Tap.
"Apa kau memikirkan kejadian tadi,padahal di luar tidak ada yang menarik untuk kau lihat."ujar Indrian sambil tersenyum.
" Siapa bilang,malah jalanan lebih menarik dari pada dirimu."cuek.
"Haha kau sangat menggemaskan tapi tak semenggemaskan cinderella." ucap Indrian.
"Hehe...." tertawa renyah.
Mau ngelucu ceritanya tapi garing deh kayaknya_batin Alice.
"Jadi apakah jika bulan depan Ayahmu mengharuskan kita tunangan apa kau akan mengikuti perintahnya?" tanya Indrian berharap jika jawaban Alice adalah kabar bahagia.
"Tidak tau,kita lihat saja nanti jika pria yang aku tunggu datang aku tidak akan bersamamu." ucap Alice santai.
"Siapa lelaki itu?" dengan raut wajah tidak suka.
"Jika aku tau aku akan memeluknya dan mengatakan aku mencintainya tapi sayangnya aku tidak tau siapa lelaki itu." ujar Alice dengan nada lirih.
"Ouh ya setelah kau kecelakaan waktu itu kau kemana,anehnya kenapa pakaianmu tidak berubah sama sekali?" mengerutkan halis.
"Akupun tidak tau waktu sebelumnya aku pakai untuk apa yang aku ingat aku jatuh kejurang lalu aku sadar dan menaiki tebing dan pingsan lalu samar-samar aku tau kau yang membantuku sampai pulang kerumah." ucap Alice panjang lebar mengakhiri perkataannya.
"Sepertinya ada yang ganjil dalam ceritamu tidak mungkin kau tergelatak di tempat yang sama dalam kurun waktu berbulan-bulan." ucap Indrian.
"Entahlah aku pusing tidak mau membahas apapun sekarang." ucap Alice dengan malas.
__ADS_1
"Baiklah istirahat jika sudah sampai aku akan membangunkanmu!" ucap Indrian diangguki Alice,perlahan Alice menutup matanya.
Bersambung...