
"Ada apa ini??" ucap Dovin yang baru saja menyambut para tetamu.
"Ayah,akhirnya kita bertemu!" ucap Jovid layaknya sahabat.
"Kau ini tidak sopan pada ayahmu sendiri,apa kau tidak dididik?" ucap Dovin dengan kesal.
"Ayolah ayah,sudah lama kita tidak begitu akrab,apa ayah lupa dulu ayah yang menyuruh Jovid berlaku begitu." ujar Jovid.
"Ouh ya?" ucap Jovid dengan nada bingung.
"Iya." ucap Jovid.
Dasar ayah kolot,untung dia lupa.rasanya menjahili orang tua seru juga hhe_batin Jovid.
"Kakak kenapa tersenyum begitu apa ada sesuatu?" tanya Alice,membuat Jovid kembali dengan wajah datar.
"Tidak."
"Alice ayo keruang ayah sebentar!" ucap Dovin menggiring putri tercintanya.
Sesampainya ditempat agak tenang dan hanya ada Alice,Dovin,Gricela ibu dari Alice dan Jovid dan begitu pula Jovid ada disana.
"Kenapa ayah membawa kami kesini,bukannya tidak baik pergi sebelum tamu pulang?" ucap Jovid bingung akan sikap ayahnya.
"Ekhem jadi begini,ayah sudah mengenal seorang pria kaya yang sebanding dengan kita untuk di sandingkan dengan Alice dan dia juga stuju karna dia sudah tau rupa Alice,tadi kami sudah merencanaknya." ucap Dovin.
"Ayah apa-apaan sih Alice kan sudah bilang Alice ingin kalau perjodohan itu mulai dari kak Jovid baru terakhir pada Alice apa ayah lupa?" ucap Alice yang merasa tidak terima setiap kali keinginannya tidak ada yang didengar.
"Apa kau akan menolak untuk yang kali ini,kau lihatlah dia dulu baru setelah itu putuskan keinginanmu!" ucap Dovin.
"Alice tetap menjawab tidak!" ucap Alice melenggang pergi.
"Alice cobalah dengarkan dulu kelanjutan ayahmu nak!" ucap Gricela.
"Mama pun sama saja seperti mereka!" Alice sudah menghilang.
"Hey,Alice dengarkan dulu ayah!" teriak Jovid.
"Sudahlah ayah jangan memaksa dia,jika tidak mau biar Jovid yang menggantikannya." ucap Jovid membuat Dovin dan Gricela membulatkan mata terkejut.
"Aku hanya bercanda,Jovid akan membujuk Alice." ucap Jovid.
"Entahlah sampai kapan Alice tetap begitu,rasanya aku lelah untuk menjodohkan dia." ucap Dovin memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Sudahlah,dia semakin dewasa dan hanya ingin memiliki keinginannya sendiri." ucap Gricela.
Dilain tempat Alice sudah muak dengan keluarganya yang selalu mendorongnya menikah dengan pria yang tidak dikenal apa yang harus dia lakukan hanya menghindar sesaat lalu tak lama akan dijodohkan kembali,itu bukan keinginannya.
Ia terus berjalan keluar dan memasuki mobil dengan perasaan yang sangat kesal marah dan tidak terima,lalu Jovid menghentikan jalan mobil.
"Alice,keluar!!" ucap Jovid setengah berteriak.
Namun Alice tetap diam dimobil menatap tajam kearah Jovid yang pastinya ingin membujuknya.
"Alice kakak bilang keluar!!" teriak Jovid lagi dengan kesal Alice keluar dan membanting pintu kasar.
"Apa sih kak,Alice capek ditekan terus menerus Alice juga ingin bebas menentukan hidup seperti kakak,apa Alice salah??" ucap Alice dengan lirih.
"Kau tidak salah tapi egomu yang salah coba berfikir positif,ayah menginginkan kau mendapatkan pria terbaik." ucap Jovid.
"Ouh ya,lalu bagaimana denganku yang tidak bahagia,tidak mencintainya justru ayah yang egois tanpa merasakan keinginanku yang seperti apa!" ucap Alice dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Baiklah,kita bicarakan dengan baik!" ucap Jovid menenangkan adiknya tapi keberadaan Dovin dan Gricela membuat Alice mengingat kembali kejadian tadi dan dengan marah dia memasuki mobil dan melajukan mobil tanpa rasa takut menabrak Jovid sudah ia duga kakaknya akan menghindar.
"Lihatlah,aku akan bebas setelah ini!" ucap Alice dengan melajukan mobilnya entah kearah mana ia akan pergi.
.
.
"Ayah mengalami serangan jantung mendadak jadi ayah mengalami koma saat ini." ucap ibu itu dengan sendu.
"Koma,apa lama?" tanya pria itu.
"Ungghh..." Tiba-tiba pria parubaya itu terbangun.
"Ayah,apa kau baik-baik saja?" ujar pria tersebut dengan khawatir.
"Vey,titip semua usaha ayah jangan biarkan adik tirimu mengambil alihnya dan juga untuk saat ini ayah tidak bisa beranjak dari sini jadi ayah titip semuanya padamu." ucap tuan Frence pada putranya.
"Apa maksud ayah,Vey belum siap untuk itu jadi Vey mohon berikan saja tugas itu pada Crow karna Vey tidak mau berurusan dengan dunia bisnis,menjadi pelukis saja Vey sudah bahagia." ucap Vey melenggang pergi.
"Vey...Ahk." teriak Frence dengan tak tahan.
"Suamiku..." teriak Algata yang merasa khawatir.
"Tidak apa,aku hanya ingin Vey mengerti." ucap Frence lirih membuat Vey berbalik.
__ADS_1
"Vey akan fikirkan lagi jika Vey sudah matang untuk mengelolanya jika ayah bisa mendengarkan Vey berilah kesempatan pada Crow jika memang dia tidak bisa menjalaninya Vey akan berusaha." ucap Vey.
Dengan senang orang tuanya mengangguk.
"Aku akan tinggal ditempat kesukaanku untuk menenangkan diri dan agar tidak diganggu siapapun." batin Vey melenggang pergi menuju tempat yang biasa ia tempati jika merasa gelisah ataupun merasa bimbang,sejuknya pantai akan menghapus semua beban itu.
"Aku akan kesana." ucap Vey.
"Kau mau kemana,lari dari tanggung jawab.Tapi biarlah ini menjadi keuntunganku untuk menjadi orang terkaya." ucap Crow yang sudah sampai dirumah sakit.
"Cih,jangan merasa sok berkuasa.Bagaimanapun aku anak kandungnya kau hanyalah anak penitipan karna ayahmu meninggal." jelas Vey.
"Tidak menjadi masalah mau kandung atau tiri yang penting aku sanggup dengan perintahnya." ucap Crow sombong.
"Anakku memang cocok menjadi seorang yang hebat dan terpandang." jelas ibunya dengan tatapan tidak suka pada Vey.
"Begitukah nyonya Elizia betrand?" ucap Vey dengan nada mengejek.
"Hey namaku Elizia Frence dan dia Crow Frence!" ucap Elizia dengan kesal.
"Haha,itu hanya mimpi bagi kalian karna keluarga Frence di peruntukkan untukku dan mama ku!" ucap Vey.
"Kau...." Vey berjalan menjauh tidak ingin mendengar apapun lagi yang membuatnya harus berdebat panjang lebar.
"Liat dia,memang miskin!" ucap Elizia.
.
.
Alice masih mengendarai mobilnya dengan menangis entah kenapa suasana hatinya menjadi lebih memburuk mungkin efek dari perkataan orang tuanya yang melekat apa lagi dia yang selalu dipaksa dalam hal apapun,ia cukup bersabar menerima yang lain tapi untuk masalah kehidupan masa depan dia hanya ingin yang terbaik untuknya dan pasangannya.
Ia melajukan mobilnya tanpa emosi yang mereda membuatnya terus meningkatkan kecepatan,tiba-tiba silaunya cahaya didepan membuatnya tidak bisa menahan dan memperhatikan jalan sehingga mobilnya menabrak pembatas dan terjungkal-jungkal kearah pantai yang tak jauh dari kawasan itu.
Brakkk
"Aaaaa!!!!" Teriak Alice sambil memegang kepalanya agar tidak membentur atap mobil.
Brakkk
Brakkk
Byurrrrr
__ADS_1
Bersambung...