
Malampun tiba.
Malaliza pun membuka pintu kamar Vey dan menatap sang empu yang masih tertidur.
Tok
Tok
Cklek
"Apa dia sudah tidur?" tanya Jev.
"Sudah." angguk Malaliza.
"Lets go baby." ucap Aurel menggandeng lengan Malaliza dengan semangat rasanya ia punya seorang adik perempuan,karna dari dulu harapannya ia punya adik perempuan namun sayang orang tuanya tidak bisa memberikannya adik dan dia adalah anak sematawayang.
"Ayo." ucap Malaliza.
Sesampainya mereka diwahana.
"Sayang ajaklah Malaliza dulu,aku ada kepentingan." ucap Jev yang menepuk pundak Aurel,dengan segera Malaliza merik tangan Aurel.
"Ehhh tunggu,jangan lari Liza!" pinta Aurel.
"Liza mau naik kincir itu Aurel." ucap Malaliza memohon.
"Ayo." ucap Aurel dengan senang.
...
"Apa proyek pengembangan hiburan ini berjalan lancar tuan Jovid?" tanya seorang rekan kerja.
"Tentu tuan Moji,kami selalu memberikan pelayanan terbaik." ucap Jovid.
Tiba-tiba
Brukkk
"Ah maafkan saya tuan." ucap Aurel pada Jovid.
"Tidak apa lain kali hati-hati!" ucap Jovid.
"Malaliza hey tunggu!" ucap Aurel yang masih mengejar Malaliza yang sangat tidak sabaran itu.
"Ayo Aurel!" teriak Malaliza.
Deg
"Suara itu..." ucap Jovid dan ia menoleh.
"Tuan Jovid disini yang paling diminati apa ya?" tanya Moji membuat Jovid beralih menatap lagi.
"Kau ini mengesalkan Malaliza seperti anak kecil saja." ucap Aurel membuat Jovid menghembuskan nafas karna gadis yang mengikat kedua rambutnya itu bernama Malaliza.
"Maaf." lirih Malaliza.
Akhirnya mereka menaiki wahana itu dan berjalan berputar memperlihatkan betapa indahnya pemandangan dari atas.
"Wahh indah ya Aurel." ucap Malaliza.
"Iya." angguk Aurel.
"Ouh ya Liz." ucap Aurel membuat Malaliza menolehkan kepalanya.
...
__ADS_1
"Ung haus sekali." ucap Vey yang baru bangun dari tidurnya.
Ia pun turun kebawah dan melihat keadaan sepi,setelah minum ia pun berjalan kekamar Malaliza,matanya membulat sempurna.
"Malaliza!!" teriak Vey namun tak ada sahutan.
"Sial,apa dia kabur lagi?" fikir Vey.
Dengan cepat Vey berjalan keluar ditambah dinginnya angin laut membuatnya tidak berani tanpa menggunakan jaket tebal.
Dipesisir pantai dia memanggil Malaliza karna ia talut jika kejadian malam kemarin terjadi lagi,dan bagaimana jika nanti Malaliza depresi karna trauma.
"Malaliza!!" teriak Vey
Hingga ia pun terjatuh kesemak-semak karna ada batu membuat kepalanya membentur dengan keras dan jatuh pingsan.
...
"Begini Jev mengatakan apakah kau bisa membatunya?" tanya Aurel dengan serius.
"Membantu apa?" dengan wajah polos.
"Kau hanya perlu meyakinkan Vey untuk bekerja diperusahaan ayahnya!" ucap Aurel.
"Kenapa tidak katakan langsung saja?"tanya Malaliza yang bingung.
" Itu sebabnya,Vey bukan orang yang gampang diberi saran dia keras kepala dan mungkin akan berbeda denganmu."ucap Aurel.
"Tidak mau,nanti Vey malah memarahiku." ucap Malaliza cemberut.
"Hey aku janji tidak akan membuatmu terluka jika benar akulah orang pertama yang akan memukul Vey." ucap Aurel namun terkesan bergidik ngeri jika benar terjadi.
"Benar begitu,kalau ia Liza katakan apa?" tanya Malaliza.
"Katakan begini saja jika Vey menolak permintaan Malaliza maka Malaliza akan pergi dan tidak akan kembali,saat itu aku akan membawamu,bagaimana?" ucap Aurel membuat Malaliza nampak setuju.
"Apa?" tanya Aurel.
"Sediakan banyak ice cream dan buah strawbery." ucapan Malaliza membuat Aurel terkekeh dan mencubit pipi cuby Malaliza.
"Aa...menggemaskan sekali,masalah itu kau tifak perlu khawatir oke." Malaliza langsung mengangguk setuju.
Sepulangnya.
"Kami pamit dan jika Vey menanyakanmu katakan kau sedang mencari angin oke." ucap Jev langsung diangguki Malaliza.
"Anak pintar." ucap Jev dan pergi.
Malaliza pergi memasuki rumah ia pun mengintip kamar Vey namun tidak ada siapapun.
"Vey.....om.....jahat....??!!" panggil Malaliza disetiap sudut ruangan namun tidak ada balasan membuat Malaliza ketakutan.
"Apa Vey tau Malaliza akan berbohong?" ucapnya dengan segera ia berjalan keluar yang gelap penerangan tiba-tiba rasa takut yang kemarin membuatnya minder dan masuk rumah.
Namun ia mengingat kebaikan Vey padanya membuat dia berani melangkah.
Ia memejamkan mata sambil menggenggam kalungnya.
"Liza ingin mencari petunjuk Vey."ucap Malaliza.
Datanglah Eliza dan Dev.
"Ayah,bunda??"ucap Malaliza dengan senang.
" Putri ayah sedang apa diluar dan meminta bantuan?"tanya Dev.
__ADS_1
"Liza sedih karna tidak menemukan Vey,apa ayah dan bunda bisa menunjukannya?" tanya Malaliza.
Dev dan Eliza saling menatap dan mengangguk,mereka pun membawa Malaliza ditempat Vey.
Malaliza kaget melihat kondisi Vey ia menangis.
"Tahanlah air matamu jika kamu tidak mau hujan turun!" pinta Eliza.
"Maaf bunda." Malaliza langsung menghapus air matanya.
"Sekarang kau mau apa lagi?" tanya Dev.
"Liza tidak bisa membawa Vey kerumah jadi bisakah bunda ayah membantu?" tanya Malaliza.
"Permintaan selanjutnya terkabul sayang." ucap Eliza dan dengan kedipan mata mereka sudah berada dikamar Vey.
"Lalu ada lagi permintaan terakhirmu?" tanya Dev.
"Ada ayah,tolong sembuhkan lukanya tanpa bekas bisa?" tanya Malaliza.
"Bisa sayang." ucap Dev dan dengan kekuatannya Vey langsung pulih walau masih pingsan.
"Tugas kami sudah selesai kami pamit Liza." ucap Eliza sambil tersenyum.
"Ya,dah bunda ayah terimakasih." ucap Malaliza.
Esoknya....
Malaliza tak sengaja tidur dipaha Vey membuat Vey merasakan berat dan juga keram,ia membuka mata dan terkejut sudah ada dirumah,ia segera bangun lalu matanya jatuh pada Malaliza yang tertidur dengan anggun.
"Malam kemarin kau kemana bocah jika kau sudah bangun kau akan mendapatkan hukumanmu!" ujar Vey.
Ia pun memindahkan Malaliza tertidur disamping dan ia segera kekamar mandi.
Semilir masakan membuat Malaliza terbangun dan turun kebawah,wajahnya terlihat bahagia karna ia mendapati makanan yang banyak.
"Wah makanan." Segera Malaliza akan menyendok.
"Hentikan,tidak sopan sekali yang masaknya saja belum!" ucap Vey dengan kesan dingin membuat Malaliza cemberut.
"Malaliza laperrr..." ucap Malaliza.
"Hukumanmu karna semalam membuatku terluka jangan sarapan sebelum aku selesai!" ucap Vey.
"Eumm Liza gak mau Vey." dengan air liur menatap makanan.
"Diam dan itu hukuman dariku." ucap Vey yang menyuap sarapannya.
Baru beberapa menit...
Kriukk
Malaliza hanya meremas perutnya membuat Vey menoleh dan menatap wajah kelaparan Malaliza.
"Aaa..." pinta Vey membuat Malaliza senang dan membuka mulutnya namun Vey memasukkan kemulutnya.
"Apa kau tidak mendengar tadi hm?" seketika Malaliza cemberut.
Kriukkk
Vey sangat ingin tertawa tapi apalah daya ingin membuat gadisnya merasakan hal semalam.
Vey pun menyodorkan sarapannya namun Malaliza hanya menunduk dengan bibir mengerucut karna kesal.
"Ayo buka mulut aku tidak akan berbohong kok." Seketika Malaliza menikmati suapan yang diberi Vey,Vey merasa kali ini dirinya lebih bahagia saat Malaliza tersenyum senang padanya.
__ADS_1
Bersambung...