MALALIZA

MALALIZA
21


__ADS_3

"Cristian!" panggil seseorang dengan raut wajah dinginnya.


"Y-a tuan?" ucap Cristian membungkuk hormat.


"Sekarang juga kita langsung menuju perusahaan Dovindrala karna tidak ada waktu untukku menyelesaikan yang lainnya!" ucap Vey dengan menyakukan tangannya.


"Baik tuan,tapi..."


"Kau tau sendiri aku tidak suka kata tapi!" ujar Vey dengan nada tajam.


"Baik tuan akan saya usahakan dalam 20 menit." ucap Cristian dan berpamit undur diri.


Vey berdiri dan melangkah menuju sebuah lukisan yang membuat harinya begitu merasakan rindu dan rindu,ia sengaja memasangnya di ruang kerja karna ia begitu merindukan kelucuan gadis yang ia cintai,jika suatu saat ia menemukannya maka ia takkan membiarkannya lepas lagi.



"Kau adalah gadis pertama yang berani membuatku frustasi beginilah caraku menghindari wanita karna berakhir kekecewaan saat dirinya pergi." Vey mengusap air matanya yang terjatuh tanpa diminta.


"Entah sampai kapan aku bisa berharap kau hadir walau aku tidak tau keberadaanmu dimana." Vey pun meraba lukisan itu tepat dimata gadis itu.


"Matamu Malaliza yang membuatku takkan berpaling pada wanita manapun walau kau tak ada untukku tapi matamu ini selalu memberiku harapan akan kembalinya dirimu." Vey pun berjalan keluar pintu untuk menghadiri rapat.


Setibanya diruang rapat.


"Ouh selamat datang tuan Rolca kami sudah menunggu anda." ucap sekertarisnya.


"Hm" hanya itu yang dibalas.


Selama ini ia mengikuti keinginan ayahnya hanya ingin menemukan gadisnya suatu saat dan ia akan mengabulkan permintaan gadisnya yang dulu memintannya menjadi CEO namun sayang takdir malah memutar balik semuanya,rasa keseharusan bahagia kini malah membuatnya merasa galau setiap saat tanpa kehadiran gadis yang selalu menghiburnya.


"Cih,dulu aku sangat ingin dia pergi tapi kenapa sekarang aku tak mau jauh darinya?" batinnya.


Vey melangkah maju dan duduk di kursi paling depan ia berdiri dan menunduk hormat.


"Selamat datang di perusahaan Frence pangeran Jovid,kami sangat senang atas kedatangan anda disini." ucap Vey dengan sopan.


"Tuan Rolca tidak perlu berlebihan,ini adalah rapat yang sangat penting mengingat kerjasama antara perusahaan sudah berlangsung cukup lama." ucap Jovid tanpa ekspresi.


"Baiklah mari kita mulai dalam hal apa kita akan menerima keuntungan di rapat kali ini." ucap Vey.


Beberapa jam kemudian rapat telah selesai dilaksanakan.

__ADS_1


"Apakah pangeran berkenan untuk memasuki ruang kerja saya sekaligus membicarakan seputar kerjasama lainnya?" tanya Vey yang berjalan dipinggir Jovid.


"Ah lain kali waktu saja apa tidak masalah,karna jam kali ini saya harus segera terbang ke Eropa." ucap Jovid.


"Tidak masalah saya tidak keberatan lain kali juga tidak begitu buruk,baiklah kalau begitu sekertaris saya akan mengantar anda." ucap Vey dan melirik Cristian dan dibalas anggukan.


"Mari pangeran." ucap Cristian dengan hormat.


"Ya." jawab Jovid.


Vey segera memasuki ruang kerjanya lagi,ia pun mengetik di laptopnya.


"Ya,kenapa aku tidak kepikiran,didunia ini sudah aku akses semua media dan tak menemukan Malaliza tapi aku belum mencari tau keluarga kerajaan Dovindrala apa mungkin Malaliza salah satu dari mereka?tapi itu sangat kecil peluangnya karna kurasa Malaliza bukan bagian dari mereka tapi apa boleh buat jika mencoba." Vey mengetiknya dan mencari informasi.


Ia begitu terkejut saat mendengar keluarga Dovindrala memiliki 2 orang anak dan anak keduanya tidak diketahui setelah Jovid Fren Dovindrala membuatnya begitu frustasi.


"Kenapa berita begitu bodoh apa mereka tidak bisa menguak anak yang satunya lagi,jika lelaki aku akan lega jika perempuan bisa saja Malaliza ataupun bukan,arrgghh sial!" Vey pun membanting vas bunga hingga pecah.


Pranggg


"Tuan apa anda perlu sesuatu?" ucap Jinny yaitu sekertarisnya.


Jinny mengangguk faham karna tak ada salahnya membantu atasan tanpa OG.


Beberapa menit kemudian terlihatlah Cristian.


Cklek.


"Arrgghh..." ringin Jinny yang terkena pecahan vas bunga hingga lengannya terluka,ia mengibaskan keudara karna terkejut dan diraihnya tangan Jinny oleh Cristian.


Cristian Endrian



"Apa kau tidak bisa menjaga dirimu,ceroboh!" dengan wajah panik.


"Mana aku tau bisa terjadi seperti ini." ujar Jinny.


Jinny Olyander


__ADS_1


"Untuk saat ini aku maklumi tapi lain kali biar OG saja yang membersihkan kekacauan yang dibuat tuan jangan biarkan dirimu terluka karna hal spele!"ucap Cristian.


"Kenapa kau begitu khawatir padaku?" tanya Jinny penasaran.


"Karna aku mencintaimu." dalam hati.


"Karna kau rekan kerjaku mana bisa keselamatanmu tidak aku jamin disegala penjuru juga tau jika aku melalaikan mereka maka perusahaan akan di cap tidak baik." balas Cristian yang memasangkan plester di jari Jinny.


"Hm,terimakasih aku akan pulang izin karna adikku sedang sakit dirumah." sontak perkataan Jinny membuat Cristian ingin menghentikan langkah itu.


"Tunggu,mana boleh kau pulang dijam kerja seperti ini?" omel Cristian.


"Aku ada alasan,jariku terluka sehingga tidak sanggup mengetik tugasku sebelum sembuh jadi untuk setengah hari aku izin." ucap Jinny dengan sedikit acuh karna rasanya hatinya sakit,selama ini ia memendam rasa suka tapi ia halau begitu saja karna mendapatkan sekertaris kepercayaan seorang Vey sangatlah sulit.


"Mana bisa,kau harus tetap disini!" ucap Cristian tegas.


"Kenapa begitu apa hak mu bukannya aku juga punya hak sendiri coba jika kau berani halangi aku katakan alasannya untukku tetap disini?" tanya Jinny.


"Karna...ah yasudah pergilah kasian juga adikmu tapi besok kau harus datang tepat waktu!" ucap Cristian.


"Baiklah sekertaris Cristian saya pamit undur diri dan kata tuan Vey kau harus pergi ke kota N untuk menyelesaikan tugasnya!." Jinny membungkuk dan segera melenggang pergi.


"Ck,apa apaan itu." gumam Cristian.


Selang beberapa waktu Vey pun keluar dari ruang pribadinya.


"Ck,berani sekali kalian berdua bertengkar di ruanganku?" dengan sorot mata tajam.


"Ah,tidak..."


"Jangan mengelak,aku tau itu lebih baik kerjar dia jadikanlah segera menjadi kekasihmu sebelum orang lain datang mendahuluinmu!" ujar Vey.


"Tapi..."


"Kau mengelak lagi,aku tau kau selalu tidak semangat jika Jinny tidak kekantor dari tatapanmu itu menunjukkan hal yang sama seperti tatapanku pada Malaliza,kau harus bersyukur karna gadis yang kau suka tidak akan pergi jauh darimu!" Vey menepuk bahu Cristian yang termenung.


"Saranku nyatakanlah cintamu,buang dulu gengsimu karna kesempatan tidak datang dua kali sebelum datangnya penyesalan pada akhirnya." Kini Vey pun pergi meninggalkan Cristian.


"Apakah memang harus aku menyatakan cintaku,tapi tuan memberiku semangat jadi aku harus menyatakan cinta besok,Jinny aku akan berusaha keras." batin Cristian dengan mata bersungguh-sungguh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2