MALALIZA

MALALIZA
07


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Vey membawa gadis itu untuk pulang dari rumah sakit dengan sabar dia membawa gadis yang selalu membuatnya pusing dengan obrolan yang sangat kekanakan.


"Om tau gak,aku suka sama bunga mawar jadi kalo pulang kerumah bunga mawarnya disimpan ya!" ucapnya dengan girang.


"Tidak ada!" tolak Vey dengan nada kesal membuat gadis itu cemberut.


"Om jahat,padahal aku hanya ingin bunga mawar." ucapnya dengan bibir di lengkungkan ke bawah.


"Yaya,sudah wajahmu jelek aku akan membelinya." Seketika gadis itu memeluk Vey dengan senang,Vey sendiri merasa malu diperlakukan begitu segera ia menjauhkan gadis itu.


"Ada apa om,aku bau ya nanti sekalian shampo strawbery!" ucapnya dengan polos.


"Kau fikir kau ratu memerintahku seenaknya saja!" ucap Vey dengan kesal.


"Kan om baik,pak dokter bilang kalau aku minta apapun sama om,om bakal kasih karna banyak uang." ucapnya.


Dasar Cellos awas saja jika bertemu ku pukul kau karna perkataan sebrono mu itu_kesal Vey dalam hati.


"Om,kenapa melamun apa om lupa bawa permen?" ucapnya dengan bertanya-tanya didepan wajah Vey membuatnya menoyorkan kepala gadis itu agar menjauh.


"Kau kira aku anak kecil sepertimu apa?" ucap Vey salah tingkah rasanya wajah gadis itu dari dekat semakin cantik.


"Ya maaf." ucap gadis itu.


Setelah sampai di apartemen gadis itu berlari kearah pantai sambil meloncat-loncat kegirangan.


"Dasar anak kecil." gumam Vey.


"Om sinih,airnya dingin dan pemandangannya indah." ucapnya dengan tawa bahagia.


"Iya aku tau." ucap Vey cuek bebek dan segera menjauh dan mwngemasi barang-barangnya.


"Om itu apa?" tanya gadis itu menatap bingkai foto wajah seorang wanita dengan rambut hitam tergurai indah.


"Itu gambaran Monaliza,itu saja kau tidak tau." ucap Vey dengan ketus.


"Kan aku gak tau om,eh ini bagus..." Saat gadis itu memegangnya tak sengaja terjatuh karna licin.


Pranggg


"Astaga apa kau gila,itu adalah vas bunga seharga 30 milyar dan aku baru bisa membelinya setelah mengumpulkan 2 tahun!!" teriak Vey membuat gadis itu hendak menangis.


"Hiks...aku gak tau om...hiks...aku minta maaf." Vey baru sadar dihadapannya anak kecil jadi dia pasti akan menangis,Vey menggaruk tengkuknya asal karna kesal.

__ADS_1


"Arrghh sudahlah,sekarang pergi kekamarmu!" ucap Vey sambil menunjuk keatas namun gadis itu masih tetap diam tidak beranjak pergi.


"Apa kau tuli??" dengan nada marah.


"Om,aku gak tau dimana tempatnya." seketika Vey merasa bersalah membentaknya karna dia tidak tau.


"Maafkan aku,sekarang ikuti aku,jangan sentuh barang apapun selagi kau tidak aku pantau!" perintahnya dengan tegas layaknya seorang ayah dan gadis itu hanya mengangguk.


"Baiklah sekarang ikuti aku!" ucap Vey dengan wajah dingin.


Gadis itu tetap diam menatap tangga itu.


"Ada apa lagi??" tanya Vey yang merasa kesal.


"Aku takut ketinggian om bisakah om pegangi tanganku?" tanya gadis itu dengan mata berbinar membuat Vey tidak tega dan menggandengnya.


"Ck menyebalkan,sia-sia aku membuang uangku demi dirimu yang merepotkan." jelas Vey.


"Om ngomongin siapa?" tanya gadis itu dengan polos.


"Kau!" tunjuk Vey.


"Kau siapa om,aku kan gak punya nama." ucapnya dengan polos sambil menggelengkan kepala.


"Apa kau tidak tau namamu?" tanya Vey lagi semoga gadis itu ingat dengan gelengan lucu gadis itu menggeleng cepat,aihh sungguh menggemaskan bagi Vey walau wataknya dingin.


"Lalu kenapa bisa kau ingat usiamu?" tanya Vey.


"Entah om,yang aku ingat kalau usiaku 10 tahun saat aku bisa menemukan cinta sejatiku aku harus mengembalikan kalung ini." tunjuknya pada kalung mutiara yang berwarna putih indah.


Vey sempat tertegun dengan kalung itu tapi ia menampiknya.


"Kau itu masih kecil jangan berfikiran tentang cinta,walau memang gadis seusiamu pantas menjalin cinta tapi jika dirimu sendiri menganggap 10 tahun aku bingung menjelaskannya." ucal Vey.


"Ya sudah jangan dijelaskan." ucap gadis itu.


Lagi-lagi gadis itu membuat Vey badmood karna perkataannya ia pun berjalan kekamar yang ada disebelah kamarnya.


"Ini kamarmu!" ucap Vey mempersilahkan gadis itu masuk,dengan girang gadis itu melompat diatas kasur yang empuk.


"AA.....aku suka om." ucap gadis itu menatap seisi ruangan.


"Hm,mulai saat ini kamar ini menjadi milikmu!" ucap Vey.

__ADS_1


Vey pun turun kebawah saat sudah dibawah ia lupa memberikan bunga ini ia pun hendak berteriak.


Ck,aku panggil apa dia_batin Vey.


"Gadis!!!....eh bukan....Hey!!...ck menyebalkan!" Vey berjalan terburu-buru dan saat dilihat kamar itu seperti kapal pecah.


"Kau ini tidak ada hentinya merepotkan,kupanggil dari bawah saja kau tidak dengar!" ucap Vey dengan marah.


Gadis itu hanya menunduk sambil memainkan telunjuknya karna takut dimarahi lagi akhirnya dia pun masuk dalam selimut,kini badannya bergetar karna takut dimarahi lagi,Vey yang tau situasinya ia mungkin sudah harus lebih bersabar.Ia pun mendekat kearah gadis itu dan mencoba berprilaku dewasa.


"Maaf aku tidak sengaja." ucap Vey canggung tapi gadis itu tidak memunculkan kepalanya lagi.


"Hey aku sudah meminta maaf ya!" ucap Vey dengan kesal.


"..."


"Kau ini mendengarku tidak??" dengan suara mulai meninggi.


"..."


Vey pun mulai bersikap lembut mengelusnya dan akhirnya sedikit wajahnya timbul.


"Mulai sekarang namamu Malaliza dan panggilanmu Liza,apa kau mengerti?" ucap Vey lembut ditambah dengan senyumnya.


Seketika gadis itu membuka selimut dan memeluk Vey dengan erat karna bahagia.


"Hore...makasih om sekarang aku punya nama." ucapnya sambil memeluk Vey yang masih syok ia pun menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.


"Nah sekarang kau sudah punya nama jika aku memanggilmu kau harus datang oke!" pinta Vey dan langsung diangguki Malaliza dengan semangat.


Vey keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan perlahan.


Malaliza pun berdialog didepan cermin dan memakai bunga rose yang dibawa oleh Vey.


"Hallo semua namaku Malaliza,dan nama tidak dikenal akhirnya berubah yeah...." sorak gembira Malaliza kini merubah suasana hending menjadi ceria tanpa disadarnya Vey mendengarkan itu dan senang akan hal itu.


Kenapa bisa aku memberikan nama padanya sedangkan nama itu sendiri aku asal pakai tapi nama itu bersejarah bagiku karna tempatku pulang hanyalah pantai Malaliza_batin Vey dengan senyum terukir indah tanpa ia sadar bahwa kini dirinya berubah sedikit karna tidak biasanya ia tersenyum sendiri dengan hal konyol.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." ucap Vey menyakukan kedua lengannya.


Bersambung...


Hay readers ini cerita pertama jadi mohon tinggalkan jejak jangan bosan mampir terimakasih untuk datang ke cerita 'Malaliza'🐱

__ADS_1


__ADS_2