
Malaliza pun menatap sekitar ruangannya dan disana sangat sepi tidak ada apa-apa.
"Om.." Panggil Malaliza sambil mengintip dari pintu kamarnya.
"Huh,untung gak ada om nya." ucap Malaliza,ia pun turun kebawah dan ia pun menatap keluar jendela,sangat indah yang ia lihat pantai langsung terlihat didepan matanya.
"Wah indah." ucapnya saat ia melangkah kalung itu sedikit bercahaya membuatnya segera menatap kalung yang ia pakai.
"Eh kalung,wah indah sekali tapi sejak kapan aku punya ini ah biarin aja gak ada yang aneh ini,aku ingin sekali ke pantai." ujarnya dan berlarian kecil ke arah sana.
Setibanya Malaliza di tepi pantai ia terkagum dengan keindahan laut apa lagi dengan warna alami pantai itu sendiri.
Malaliza....
"Siapa itu??" ucap Malaliza menatap sekeliling pantai.
Malaliza....
"Huhu....om dimana Liza takut...." Malaliza pun duduk dengan memeluk lututnya.
Malaliza....
Ia pun mendongkak dan keluar lah seorang wanita cantik berbalut gaun indah dengan mahkota di kepalanya.
"Eh,apa kau peri?" tanya Malaliza dengan senyum mengembang.
"Iya....kau tau kegunaan kalungmu?" tanya ratu pantai.
"Tidak." Geleng Malaliza.
"Kalau begitu aku beritahu,dirimu berpengaruh besar dengan kekuatan kalung itu jika kau memejamkan mata sambil menggenggam kalung itu apapun yang kau mau akan terkabulkan asal yang ada dalam fikiranmu sama dengan apa yang kau inginkan." ujar sang ratu,namun Malaliza tidak faham dan terdiam.
"Haha...maaf aku lupa otakmu masih kecil,baiklah kita peragakan ya,sekarang pejamkan matamu dan bayangkan apa yang kamu mau sambil memegang kelung itu!" ucap sang ratu seketika Malaliza menurutinya dan tiba-tiba muncul ace cream yang ia inginkan.
"Wahhh....ini enak." ucap Malaliza memakannya sedangkan sang ratu tersenyum.
"Kau sudah mengerti bukan,tapi permintaanmu dalam sehari hanya bisa terkabul 3 kali maka pergunakan dengan baik!" ujarnya dengan lembut.
"Jadi kalau sudah 3 kali tidak akan bisa lagi?" tanya Malaliza dan sang ratu mengangguk.
"Ya,dan juga satu lagi pantangan yang harus kau tau,jangan biarkan kalung itu lepas darimu jika itu terjadi maka dirimu akan mati." ucap sang ratu membuat Malaliza ketakutan.
"Mati?" Malaliza langsung mundur.
__ADS_1
"Ya,dan jangan sampai itu terjadi karna kau sedang menjaga anakku didalam mutiara itu." ucap sang ratu.
"Anak?" dengan bingung Malaliza bertanya.
"Ya,jika pada hari yang sudah ditentukan kalung itu akan bercahaya sempurna dan kalung itu harus kau lemparkan kedalam air setelah itu kau lepas dari janjimu padaku." ucapnya langsung diangguki Malaliza.
Sang ratu mendekat dan meniupkan sesuatu sehingga Malaliza tertidur.
Kau akan lupa dengan rupaku tapi kau akan selalu mengingat pesanku tanpa banyak yang kau ingin ketahui
"Vey ayahmu sudah memberikan saham perusahaan semuanya padamu dan kini kau yang akan bertanggung jawab!" ucap Jev yang ada diperusahaan Frence *****.
"Apa,bukannya aku sudah mengatakan tidak akan mengikuti kemauannya sampai aku siap!" ucap Vey tidak terima.
"Vey,ayahmu sudah percaya padamu jadi menurutku turuti saja keinginannya bagaimana jika ini keinginan terkahirnya?" ucap Jev membuat Vey memutar bola mata.
"Aku tidak mau,dia selalu tidak setuju dengan apa yang aku minta.Karna aku hanya ingin meneruskan usahanya jika dia setuju pada keinginanku untuk menjadi seorang pelukis dan kini aku belum ingin." ucap Vey.
"Kau egois Vey,orang tua mu sudah setuju untuk itu!" ujar Jev.
"Ya memang tapi aku belum sanggup mendapatkan beban sebesar itu,kau tau usaha ayahku tidaklah kecil,harus punya wawasan yang lebih untuk bisa memahaminya!" ucap Vey dengan nada serius.
"Hm,baiklah aku beri waktu dua bulan untuk Crow dan kau Vey,karena jika perusahaan di pegang oleh Crow semua akan berantakan,dia matrei dan dia selalu ingin berkuasa dan dia akan menyalahgunakan uang prusahaan!" ucap Jev membuat Vey menjadi mengerti.
"Hm,aku juga berharap perusahaan yang dirintis ayah sejak dulu tidak bangkrut." ucap Vey.
"Hm,kau benar Jev aku belum berbakti padanya jadi aku akan usahakan untuk melaksanakannya tapi sesuai yang kau janjikan beri aku waktu dua bulan!" ucap Vey dan langsung diangguki Jev.
Vey segera pergi dari kantor dan segera pergi ke apartemennya yang privat.
Saat ia sudah sampai disana tanpa ia sadar keadaannya sangat sepi ia segera mandi dan menuju dapur.
"Kenapa suasana sepertinya sepi." ujarnya dan meminum air saat dia baru meneguk setengahnya ia langsung menyemburkannya.
Byurrr....
"Malaliza!!" panggil Vey namun tidak ada sahutan,ia pun berjalan ke kamarnya dengan santai.
"Malaliza!!" teriaknya lagi.
Cklek.
Saat dilihat ternyata tidak ada siapapun dikamarnya seketika Vey panik ia pergi keluar dan berjalan sambil berteriak.
__ADS_1
"Malaliza!!!" teriak Vey.
Beberapa kali Vey berteriak namun tidak ada sahutan sama sekali,tiba-tiba ada seorang nelayan menghampirinya.
"Ada apa mas?" ucap pelayan itu.
"Saya sedang mencari Malaliza." ujarnya.
"Maksud mas pantai Malaliza?disini kan tempatnya." ucap nelayan itu.
"Bukan pak,ini manusia." ucap Vey.
"Lah,bisa ya kebetulan memangnya bagaimana ciri-cirinya?" tanya nelayan itu.
"Dia berkulit putih matanya bulat rambut panjang dan berponi." ucap Vey.
"Saya fikir dia lagi berjemur kalau mas mau lihat itu disana ada gadis yang tertidur di bawah pohon kelapa!" ucap nelayan itu sambil menunjuk tempat.
Dengan segera Vey berlari kesana dan benar saja Malaliza berada disana,ia terheran kenapa bisa Malaliza sampai ke tempat sejauh ini,Vey menepuk pipinya.
Ia terkejut kala melihat Malaliza dengan pakaian dan rambut basah membuatnya khawatir dia baru saja tenggelam,ia menekan dada Malaliza namun tidak ada respon.
"Sial,apa mungkin aku harus memberi nafas buatan." Saat Vey hendak mendekat dan memejamkan mata Malaliza membuka matanya.
"Om mau apa?" ucap Malaliza bingung karena bibir Vey sudah monyong-monyong.
Seketika Vey tersentak dan membulatkan mata,badannya segera menjauh.
"Yakk!!!kau mau mengambil kesempatan dariku kan??" ucap Vey sambil berteriak.
"Apaan sih om,Liza kan baru sadar." ucapnya sambil memegang kepala.
Vey pun salah tingkah kini pipinya merona karna malu ia pun berdiri dan pergi meninggalkan Malaliza.
"Om tunggu!!katakanlah ada apa om tadi monyong-monyong?" tanya Malaliza menyeimbangi langkah Vey.
"Diamlah." ucap Vey dengan malu.
"Kenapa wajah om jadi merah,apa tadi om sakit?" tanya Malaliza yang masih mengekori Vey.
"..."
"Om,om,om...om!!" ucap Malaliza saking kesal tak direspon.
__ADS_1
Huh kenapa sih sama om,tiba-tiba aja marah_batin Malaliza.
Bersambung....