MALALIZA

MALALIZA
27


__ADS_3

Kini Jovid berjalan tanpa arah tujuan karna ia pun tidak tau rumah orang tua kandungnya,ia ditinggalkan saat usianya masih kecil dan belum tau apa-apa.


"Apakah aku harus berakhir dengan kesedihan??" batin Jovid.


Tinnn


Tinnn


"Jov kenapa malam begini kau berjalan sendiri dan apa itu,tas apa yang kau bawa??" tanya Vey yang kebetulan pulang dari suatu tempat.


"Ah Vey kau..." gugup.


"Sebentar lagi akan turun Hujan jadi lebih baik kau ikut aku saja ayo!" pinta Vey langsung diangguki.


Setelah masuk mobil Vey.


"Jadi,apa yang terjadi?" tanya Vey yang masih sibuk menyetir mobilnya.


Jovid menghela nafas dan ia bercerita apa yang ia alami membuat Vey tidak percaya akan hal itu.


"Aku turut berduka,bagaimana pun jika aku diposisimu aku akan kecewa jadi kau bertujuan akan kemana?" tanya Vey.


"Aku tidak tau Vey karna aku sudah tidak memiliki siapapu." ucap Jovid.


"Kau salah sobat kau masih punya aku yaitu temanmu,begini saja kebetulan saudaraku Jack Sholta tinggal sendiri di apartemen apa kau mau tinggal bersamanya semantara,jika sudah ada rencana lain aku akan membantumu." ujar Vey.


"Kau baik,jadi itu tidak ada salahnya." ucap Jovid.


Vey mengantar Jovid sampailah di apartemennya.


Tok


Tok


"Hoammm siapa yang bertamu."ucap Jack sampai ileran.


Bugghh


" Jorok sekali kau Jack!!"sambil memukul kepala saudaranya itu.


"Eh Vey." dengan sigap Jack membenarkan penampilannya.


"Dasar kau ini apakah benar kau saudaraku?" ucap Vey dengan wajah tak percaya.


"Jikapun tidak kita tetap setara dalam ketampanan." ucap Jack.


"Hm sudahlah,perkenalkan ini Jovid Fren Do...


" Nama saya Jovid Fren."Jovid langsung mengulurkan tangan,mengerti akan situasi Vey nampak mempercayai apapun yang akan Jovid perbuat.


"Ouh namaku Jack Sholta pangg Jack."tersenyum.

__ADS_1


" Oke mulai sekarang Jov akan tinggal disini,apa kau keberatan Jack?"tanya Vey.


"Kebetulan ART ku sedang pergi kau bisa menggantikannya." ucap Jack.


Plakk


"Kau fikir dia cari pekerjaan dia itu Klien ku sekaligus sahabat jangan jadikan dia babu!" ucap Vey dengan kesal.


"Hehe gue canda kok bangnya jangan nge gas." ejek Jack.


"Yasudah Jov kau bisa tinggal bersama Jack sementara ini." ujar Vey.


Esoknya.


📲


"Kak,kau dimana?" tanya Lily.


"Ouh kakak ada pekerjaan mendadak sepertiny kau datang seendiri saja ya."


"Hm,yasudah,tapi dimana?"


"Ouh yaampun aku lupa memberitahu nanti jam 10 di Cafe Gor's."


"Baiklah kak."


Lily segera berdandang dan berpakain baju dan celana saja,karna ia kurang suka dengan dress minim.



"Mau kemana Al?" tanya Dovin.


"Kaluar sembentar yah,Alice mohon jangan ada Bodyguard!" pinta Alice.


"Baiklah,tapi diantar supir!" ucap Dovin diangguki Alice.


Cklek


"Apa kabar semuanya,wah Alice kau mau kemana?" tanya Indrian yang baru saja tiba di kediaman Alice.


"Kepo!" dengan wajah tak suka.


"aku memang kepo,aku ikut ya." ucap Indrian.


"Gak kali ini aku ingin sendiri." ucap Alice dengan sorot mata tajam.


"Biarlah Indrian kali ini jangan ikuti dia terus jika dia bosan padamu apa kau menerima itu?" tanya Gricela yang masih menikmati hidangannya.


"Baiklah ma." ucapan Indrian membuat Alice membulatkan mata,sejak kapan dia memanggil itu.


"Sejak kapan kau memanggil mamaku dengan sebutan mama?" ucap Alice dengan nada tidak suka akan panggilan Indrian.

__ADS_1


"Sebentar lagi aku akan jadi menantu disini jadi mana mungkin aku tidak memanggil mereka seperti dirimu sayang." ucap Indrian menyeringai.


"Terserah,ma yah Al berangkat." ucap Alice segera pergi.


Beberapa menit kemudian ia sudah tiba dan nampak tidak ada pengunjung sama sekali dan ia melihat tubuh seorang pria membelakanginya,mungkin dia pria yang dimaksud kakaknya.


"Permisi apa benar anda rekan bisnis kakak saya tuan Jovid?" tanya Alice.


Seketika Vey menengok dan ia begitu terkejut dengan kedatangan Malaliza,memang dia memiliki rambut yang berbeda tapi wajahnya tidak berbeda sama sekali.


"Ah em...ya silahkan duduk!" ujar Vey.


Setelah memesan makanan akhirnya Vey membuka suara.


"Namaku Rolca Vey Frence." mengulurkan tangan.


"Alice Gricela Dovindrala adik kak Jovid." membalas uluran tangan.


"Em begini aku ingin bertanya apakah sebelumnya kau mengenal diriku?" tanya Vey.


"Tidak,aku baru pertama kali bertemu denganmu,memangnya kenapa?" tanya Alice


"Ah begini tujuanku ingin bertemu denganmu hanya memastikan apakah benar kau wanita yang selama ini aku cari dan memang benar." ucap Vey.


"Mengapa bisa terjadi,aku saja tidak mengenalmu tuan." ucap Alice bingung.


"Aku berjumpa dengan seorang gadis manis saat aku belum menjadi CEO diperusahaan Frence dulu aku seorang pelukis dan aku menemukan gadis yang aku cintai dipinggir pantai dan merawatnya kisahnya begitu aneh namun kenangan itu sangat sulit aku lupakan,dan kebenaran itu semakin benar karna kau menggunakan kalung yang sama yang dipakai Malaliza." ujar Vey.


"Apa,Malaliza apakah yang tadi kau ceritakan adalah bernama Malaliza?" tanya Alice tak percaya.


"Kenapa seakan ceritanya tidaklah asing,Malaliza pun seperti pernah terngiang dikepalaku tapi aku tak mengingatnya." batin Alice.


"Sayang sekali,padahal selama ini aku menunggunya dan aku terkejut itu adalah dirimu,mau percaya atau tidak kau tidak usah memaksanya aku hanya ingin memberikan kejelasan karna aku sangat mencintai Malalizaku." sontak ucapan Vey membuat hati Alice menghangat entah apa padahal nama yang disebut pemuda itu bukanlah namanya.


"Apakah kau sangat mencintainya?" tanya Alice penasaran.


"Sangat,aku pernah berfikir suatu saat jika menemukannya akan langsung menikahinya karna aku sangat berharap dia bisa mendampingiku selamanya." perkataan Vey kian menjadi semakij membuat debar jantungnya tak terkontrol.


"Sadarlah Alice kalian baru pertama bertemu tapi kenapa jantungmu tidak bisa diajak kompromi!" batin Alice.


"Em,maaf aku tidak tau menau mengenai hal itu tapi bisakah suatu hari kau memperlihatkan Malalizamu itu padaku?" perkataan Alice membuat Vey semakin senang karna Alice bukan menolaknya tapi sepertinya Alice ingin mencari tau kebenarannya.


"Baiklah aku akan menunjukkannya tapi maaf hari ini aku ada urusan bisakah kita berjumpa,lain waktu aku akan membawamu ketempat Kenanganku bersama Malaliza." ujar Vey tersenyum.


"Baiklah." angguk Alice.


"Sebelum itu aku meminta nomor ponselmu apakah boleh?" tanya Vey.


"Tentu,kalau begitu save juga nomorku terimakasih atas traktirannya." ucap Alice menapikan senyumannya membuat Vey semakin bahagia walau ia menahan ekspresinya.


Ia tau butuh waktu untuk meyakinkan Alice apalagi dengan kondisinya yang tidak mengingat dirinya maupun kejadian yang pernah terjadi.

__ADS_1


"Semoga kita bisa bersama Malaliza walaupun kau bukan Malalizaku yang dulu tapi kau tetap wanita yang aku cintai." batin Vey.


Bersambung...


__ADS_2