
Setelah dinner itu mereka menjadi semakin dekat,mereka sering bertemu di tempat yang sama namun kebersamaan mereka justru membuat Indrian yang memata-matai Alice menjadi geram.
"Hallo,cepat tabrak pemuda itu!" ucap Indrian.
.
.
"Apakah kau mau menjadi kekasihku Al?" tanya Vey.
"Aku ingin,tapi apakau tau perjodohanku?" sendu.
"Aku tau,tapi aku akan berusaha mendapatkan hati orang tuamu." ucap Vey.
"Terimakasih." ucap Alice sambil tersenyum.
"Ya." angguk Vey.
"Vey bisakah kita ke apart,saudaramu itu aku ingin mengetahui perihal kak Jovid yang gak pulang kerumah." ujar Alice.
"Baiklah,ayo!" ucap Vey.
Setelah mereka keluar Vey berjalan mencoba mengambil Mobil yang ada di sebrang namun karna terburu-buru ia tak menyadari bahwa mobil yang disampingnya itu melesat dengan kencang.
Brakk
"Vey!!" teriak Alice segera pelaku memajukan mobilnya dan menghilang sedangkan Alice segera meminta tolong.
"Tolong!!" teriaknya.
Di RS
"Nona apakah anda keluarga pasien?" tanya sang dokter.
"Bukan dok." ucap Alice.
"Pasien kehilangan cukup banyak darah dan kebetulan stok darah disini kosong apakah anda punya pendonor mungkin dari sanak saudara?" tanya sang dokter.
"Golda nya apa dok?" tanya Alice khawatir.
"B" ucap sang dokter.
"Saya punya golda B dok,bisa periksa punya saya?" tanya Alice langsung diangguki sang dokter.
Alice diperiksa dan ternyata darahnya cocok membuat dia bernafas lega akan hal itu,ia pun segera melakukan tranfusi darah.
Setelah selesai ia keluar ruangan dan disana sudah ada Jovid beserta Jack.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jack khawatir.
"Tenanglah semua baik-baik saja dia sudah mulai melewati masa kritisnya." ucap Alice membuat Jack lega.
"Tanganmu kenapa?" tanya Jovid cemas.
"Vey kekurangan darah dan aku melakukan tranfusi darah karna kebetulan kami cocok." ucap Alice.
"Kenapa semua bisa terjadi?" tanya Jovid yang merasa ada kejanggalan.
"Entahlah kak,waktu itu Vey hendak mengambil mobilnya tapi saat menyebrang jalam mobil dengan kekuatan penuh menabraknya hingga dia terguling di aspal dan Alice membawanya ke sini." Alice sangat sedih mengingat itu.
"Aishh ya sudahlah."
"Kak Alice mau bertanya kenapa kakak gak pulang kerumah?" tanya Alice sendu.
"Huft baiklah mungkin waktunya sekarang kamu tau.." Jovid segera menceritakan bagaimana dirinya merasa dibohongi kedua orang tua Alice.
__ADS_1
"Apa kenapa bisa serumit itu,apa kakak tegak meninggalkan Alice.Alice pingin pergi bersama kakak saja." menangis sendu.
"Susahlah tenang kakak akan selalu menyayangimu Alice." memeluk erat.
Beberpa hari kemudian Vey sudah dinyatakan pulih.
"Terimakasih selama ini sudah menjagaku." tersenyum.
"Bukan masalah." tersenyum.
"Sungguh perasaanku sudah tidak bisa tergambar,aku akan melamarmu Alice." tersenyum.
"Kita pulang ke apart mu ya aku ingin mengetahui sesuatu." Vey nampak setuju.
Mereka pulang kesana.
"Apa kau sudah nyaman disini?" tanya Vey membuat Alice menoleh.
"Entahlah tapi bersamamu aku rasa bisa nyaman." ucapan Alice sangat memberikan rasa bahagia untuk Vey.
Gelombang air datang dan sebuah cahaya silau menerpa wajah mereka.
"Alice aku akan memberikan memori dulumu mengingat perjuangan Vey yang tulus mencintaimu." ucap seorang wanita cantik yang berdiri berasama seorang pria dan anak kecil.
Hingga sebuah energi yang kuat memasuki tubuh Alice dan kemudian ia pingsan.
"Jangan takut Vey dia akan sadar sebentar lagi,kuharap kau bisa menjaganya karna dahulu dia yang menolong putriku." tersenyum.
Dan Blusss
Hilanglah 3 orang itu.
Vey membawa Alice ke apart dan menghubungi Cellos agar memeriksanya.
📲
"Baiklah." ucap Cellos diseberang sana,Cellos adalah dokter kepercayaan Vey karna jika ada luka ataupun apa Vey akan menghubungi Cellos karna dulu Cellos lah yang membantunya.
beberapa jam kemudian.
"Siapa yang sakit?" tanya Cellos mengedarkan pandangannya khawatir dengan panggilan Vey yang terkesan ketakutan.
"Dia!" tunjuk Vey pada Alice yang terbujur kaku dengan manutup mata.
Cellos terkejut saat melihat gadis itu dia tidak habis fikir Vey membawa Malaliza yang selama ini sahabatnya cari,ia begitu senang kali ini sahabatnya memang benar-benar mencintai seorang gadis.
Cellos menatap wajah tajam Vey.
"Apa?" tanya Cellos.
"Sejak kapan dia pingsan apa dia pingsan ulahmu?" menyelidik.
"Tidak." menggeleng.
"Unghhh" melengkuh.
"Dokter Cellos,dan emm Vey?" tunjuk Alice.
"Kau sudah mengenaliku??" Vey langsung memeluk dengan erat.
"Ya aku mengenalimu kau yang menolongku terimakasih Vey." membalas pelukan.
"Ekhem tau begini aku tida usah kesini kalau pada akhirnya jadi nyamuk." ucap Cellos kesal.
__ADS_1
"Hehe sudahlah aku akan membayarmu 2× lipat." ucapan Vey membuat Cellos tak bisa berkutik.
"Itulah bonus yang pas untukku,lumayan nambah tabungan nikah." terkekeh.
📲
"Hallo"
"Ya?" Vey
"Tuan semua infonya sudah kami dapatkan lalu bagaimana selanjutnya?"
"Kita bertemu di Cafe biasa!"
"Baiklah"
Tuttt
"Ada apa?" tanya Alice.
"Tidak ada,beristirahatlah sebentar malam nanti aku antar pulang." tersenyum dan Alice mengangguk faham.
"Cellos terimakasih sudah datang,pergilah aku ada urusan." melenggang pergi.
"See,kejadian dahulu seperti muncul kembali." kesal.
"Kau harus menerimanya tuan Dokter,bagaimanapun dialah sahabat terbaikmu." terkekeh.
"Kau benar." angguk Cellos.
"Aku pamit jaga kondisimu Malaliza." ucap Cellos.
"Tunggu sebentar lagi kau akan tau jati diri Malaliza dokter." ucap Alice terkekeh.
"Apa maksudmu?" bingung.
"Lihat saja nanti." ucap Alice sambil tersenyun dan dibalas anggukan Cellos.
Kini Vey sudah datang kekediaman Istana Dovindrala yang terkesan mewah dan elegant.
"Katakan aku ingin berjumpa dengan tuan Dovindrala!" perintah Vey mutlak.
"Baiklah." ucap pengawal itu hingga Vey pun diperintahkan masuk dan terlihatlah Dovindrala yang terduduk di kursi kekuasaannya.
"Ada apa tuan Vey datang kemari apakah ada masalah menyangkut pekerjaan?" tanya Dovindrala dengan melipat kedua kakinya.
"Masalah lain." jawab Vey dengan berwibawa.
"Duduklah,dan katakan tujuan apa anda datang tuan Rocla Vey Frence yang terhormat." ucap Dovindrala dengan ramah.
"Saya ingin menikahi putri anda." ujar Vey tanpa ketakutan dan lantang.
Deg.
"Apa,maaf sebelumnya apa anda sudah tau mengenai perjodohan putriku dengan pangeran Indrian?" tanya Dovindrala yang masih terkejut.
"Ya sudah lama saya mengetahuinya." ujar Vey dengan ekspresi sulit ditebak.
"Lalu,apa anda ingin menghancurkan pernikahan putri saya dengan Indrian?" bertanya kembali.
"Bukan menghancurkan tuan tapi membatalkan lagi pula belum dimulai jugakan pernikahannya?" tanya Vey dengan badan tegapnya membuat Dovindrala tersenyum.
"Memang kau pantas dengan seorang putri bangsawan tapi maaf sepertinya anda kalah cepat dengan Indrian." ujar Dovindrala.
"Baiklah jika anda tidak menerima ini tapi saat pernikahan itu terjadi saya memastikan yang berada diatas Altar adalah saya bukan Indrian yang anda katakan itu." ucap Vey beranjak pergi.
__ADS_1
Bersambung...
Jejaknya😉