
Beberapa hari berlanjut Malaliza tak pernah mendengar kabar tentangnya,ia semakin tidak yakin kakaknya bekerja diluar kota karna biasanya kakaknya akan menyempatkan menjumpainya walau sekali.
📩
Vey
Hai Lice
Anda
Hai
Vey
Bisakah kita bertemu hari ini?
Anda
Bisa,jam berapa?
Vey
Jam 5 sore saja tidak apa?
Anda.
Bisa kok,baiklah kita janjian di tempat biasa.
Vey
Oke
Vey nampak senang dengan jawaban Alice,ia tersenyum sendiri hingga tidak menyadari keberadaan Christian
"Tuan..."
"Tuan..."panggil Christian.
" Ck,menggangu saja!"dengan kesal.
"Maaf tuan,sebentar lagi ada rapat jadi kita harus sudah berada disana sebelum Klien datang." ujar Christian.
"Chris." panggil Vey.
"Ya tuan?" ucap Christian.
"Apa kau sudah pacaran dengan Jinny?" tanya Vey membuat Christian nampak merona karna malu.
"Ck,aku bertanya bukan ingin menatap mimik wajahmu yang menjijikan." dengus Vey.
"Ah maaf tuan,em sebenarnya beberapa hari yang lalu kami sudah mengenal dekat bulan depan sudah tunangan." ujar Christian.
Deg
"Kau ini,jika begitu kenapa tidak mengabariku huh dasar tidak bisa diajak kerjasama." ucap Vey kesal.
"Maaf tuan itu terjadi cukup cepat dan ternyata kedua orang tua kami memang sudah menjodohkan kami karna mereka sahabat." jelas Christian.
"Enak sekali,aku ingin diposisimu dengan mudah aku mendapatkan gadis yang aku impikan." ujar Vey.
"Haha,kita tidak tau orang yang berjodoh dengan kita itu siapa tuan,jadi kita berdoa saja semoga jodoh kita adalah yang terbaik untuk kita." ucap Christian.
"Yasudah,em bagaimana cara mengencani wanita?" sontak Christian merasa kaget karna perkataan bosnya itu.
__ADS_1
"Ah tidak banyak sediakan bunga ditempat yang romantis ajak dinner di tepi pantai bersama hidangan paling lezat saya yakin itu membuat hati wanita terasa terbang." ucap Christian.
"Hmm terimakasih idenya,yasudah ayo." ucap Vey.
Vey sangat menunggu waktunya ia sengaja meminta sore hari agar bisa menyiapkan segalanya ia sangat tidak sabar karna yang diimpikannya bisa saja terkabul.
"Christian sekarang jam berapa?" tanya Vey nampak penasaran.
"Jam 4 kurang 10 menit 14 detik tuan." ucap Christian dengan detile.
"Ck,kenapa jam mu lambat sekali aku sudah tidak ingin toleransi cepat besok bawakan jam yang bisa mengubah waktu sesuai keinginan!" ucap Vey kesal.
"Maaf tuan itu hanya ada di film kertun Doraeomon." ucap Christian bersabar dengan tingkah bosnya itu.
"Ck, yasudah oh ya ada tugas baru dariku!" ucap Vey mulai serius.
"Kau selidiki Indrian Prince!" ucap Vey.
"Bukankah mereka orang yang sangat terkenal tuan karna kejayaan mereka hampir menyusul posisi Dovindrala itu?" tanya Christian.
"Lalu,memangnya kenapa apa kau lupa posisi kita masih diatas mereka,kuakui cabang kita tak sebanyak mereka tapi cabang kita adalah yang paling tersohor memberikan nominal paling fantastis jadi jangan remehkan perusahaan kita jika kau takut padanya!" ucap Vey kesal.
"Baiklah apa yang perlu saya cari tau?" tanya Christian.
"Selidiki dia,kalau bisa suruh mata-mata membuntuti kemanapun ia pergi dan berikan rekaman yang penting-penting!" ucapan Vey diangguki Faham.
Setelah lama berkutik dengan laptop Vey menyadari jika waktunya sudah tiba,ia segera pergi menuju Cafe Gor's yang biasa ia datangi.
Yup kali ini Cafe yang menjadi tempat favorite mereka berdua adalah Cafe saat mereka datang berjumpa pertama kali membuat Vey senang bisa memberikan kenangan yang menjadi moment pertama Alice.
Setibanya disana ia sudah melihat Alice yang menunggu dipinggir Cafe.
"Apa sudah lama?" tanya Vey.
" Baiklah ayo."ucap Vey.
"Sebelum itu aku akan membawamu kesebuah tempat yang ingin kau datangi" ujar Vey.
"Memang kau tau?" tanya Alice dengan penasaran.
"Kita lihat saja nanti." Ucap Vey tersenyum.
Alice tidak tau arah maksud tujuan Vey berkata seperti itu karna dirinya sendiri yang tau apa maksud dan keinginannya.
Beberapa menit kemudia ia melihat sebuah apartemen sederhana yang halamannya cukup luas,ia segera mengekori Vey yang sudah berjalan lebih dulu.
"Ini Aprt,milik siapa?" tanya Alice.
"Ini milik saudaraku." jawab Vey.
Ting
Nong
Cklek
"Ya..."
"Kakak!!" sontak Alice memeluk Jovid dengan erat,ia sangat merindukannya sudah beberapa minggu ia tak berjumpa dengan kakaknya,lain halnya Jovid merasa terkejut.
"Alice??" ucap Jovid.
"Hiks..kakak jahat kenapa gak pulang kerumah?" ucap Alice cemberut.
__ADS_1
"Maafkan kakak nanti kakak cerita." ucap Jovid.
"Hmm baiklah Alice tunggu janji kakak!" ucap Alice dengan sorot mata tajam sedangkan Jovid terkekeh.
"Sudah,kita besok akan datang lagi sekarang ayo!" ucap Vey menggandeng lengan Alice.
"Ouh jadi dibelakangku kalian ada main ya,Alice kau pacaran dengannya tanpa restu kakak?" ucaoan Jovid membuat Alice gelagapan dan melepas genggamannya.
"Ah tidak..."
"Otw,kuharap kau menerimaku tuan Jovid." ucap Vey penuh penekanan.
"Hehe sudahlah pergi aku sudah bosan melihat orang-orang bucin." ejek Jovid.
Mereka pun memutuskan untuk pergi dari sana dan Vey mengajak Alice datang ke apart yang ada di pantai Malaliza.
"Wah indah sekali pantainya." kagum Alice.
"Nama pantai ini adalah pantai Malaliza." ucap Vey.
"Eh bukannya?" ucap Alice menggantung.
"Ya maka dari itu aku akan menunjukkan sesuatu ayo ikut denganku!" Vey menuntun Alice masuk ke Aprt dan baru saja pintu dibuka tertengger foto seorang wanita dengan rambut berwarna hitam.
Damn
"S-si-apa di-a...." gugup sambil menunjuk foto yang mirip dengannya.
"Dia adalah Malalizaku mirip bukan denganmu karna kalian adalah gadis yang sama." ucap Vey membuat Alice tidak mengira bisa seperti ini.
"Tolong jelaskan aku tidak mau terjadi salah faham!" pinta Alice.
"Baiklah." angguk Vey.
Vey segera menceritakan masalalunya mulai dari pertemuan tak sengaja hingga Malaliza menghilang dan pertemuan mereka menjadi dalam keadaan berbeda dan Malaliza berganti nama menjadi Alice.
"Apa,kenapa bisa ceritanya..."
"Ya mungkin bagi beberapa orang ini tidaklah masuk akal namun inilah yang terjadi,dan Malaliza itu adalah dirimu Alice!" ucap Vey.
"Hemm sudahlah bagaimana jika kita melihat sunset?" tanya Vey membuat Alice bersemangat.
Terlihatlah sebuah tempat dinner outdoor membuat kekaguman Alice semakin menjadi.
"Apakah ini kau yang menyiapkan?" tanya Alice.
"Anggap saja begitu." ucap Vey.
Happ
"Terimakasih,aku baru pertama kali diperlakukan begini oleh seseorang." ucap Alice sambil memeluk Vey sepontan Alice mundur dengan keduanya merona.
Vey yang gugup mencoba menetralkannya.
"Ay-o kita makan." ucap Vey langsung diangguki Alice yang masih saja memerah.
"Aduh maluny aku..." batin Alice.
"Pelukannya masih sama,karna dia masihlah gadisku yaitu Malaliza." batin Vey.
"Selamat makan." ucap Alice dalam keheningan.
Bersambung...
__ADS_1