
"Jadi,Apa yang ingin mama sampaikan pada Vey?" tanya Vey dengan serius.
"Mama sudah tau keberadaan Malaliza nak." ujar Algata.
Sontak Vey langsung berdiri dengan wajah yang sangat terkejut sekaligus senang mengingat selama ini ia sulit mencari keberadaan wanita yang ia sayangi.
"Benarkah ma,lalu dimana dia?" dengan semangat.
"Maafkan mama nak,mama tidak tau soal itu tapi dia mengatakan bahwa namanya Alice Gricela Dovindrala." ucap Algata.
"Ulangi namanya ma!" sambil memperjelas pendengarannya.
"Nama dia Alice Gricela Dovindrala." ucap Algata tanpa kesalahan.
Damn
"Jadi selama ini Vey menyukai seorang putri bangsawan ah ini sangat sulit ma." frustasi.
"Maksudmu?" dengan tatapan bingung.
"Jadi berita selama menghilangnya putri Alice dia adalah Malaliza ma,gadis yang aku temukan ditepi pantai." mendudukan diri.
"Lalu selanjutnya apa yang mau kau lakukan?" penasaran.
"Vey tidak akan menyerah karna Vey terlanjur mencintainya ma dan Vey perlu dukungan Mama." tersenyum.
"Mama akan selalu mendukungmu nak,tapi yang mama khawatirkan Malaliza sepertinya dijodohkan keluarganya." ujar Algata.
"Kenapa mama berkata begitu?" penasaran.
"Karna saat mama berjumpa dengannya ada seorang lelaki yang bernama Indrian dia mengaku calon tunangannya." jelas Algata membuat rahang Vey mengeras dan lengannya mengepal.
"Tidak ma,Malaliza masa depan Vey dan itu berlaku selamanya Vey tidak akan tinggal diam." ucap Vey dengan mata yang menggebu.
"Iya nak,mama percaya padamu mama berharap Malaliza akan kembali bersamamu walau dia tidak mengingat kita." ucap Algata.
"Ma,rahasia apa lagi yang mama belum katakan?" dengan wajah yang mulai lemas.
"Tidak ini yang terakhir,Malaliza tidak mengingat kenangan kita dan dia tidak mengingat dirimu siapa Vey." ucap Algata membuat Vey terasa dihujami batu besar.
"Arrggghhh kenapa jadi begini!!" berteriak tak terima,pasalnya ia sudah bahagia menemukan Malaliza namun akan kembali sulit jika mengetahui Malaliza tak mengingatnya.
"Hiks...Apakah takdirku begitu menyedihkan??" sendu.
"Nak percayalah kau bisa bangkit dan membawa Malaliza dengan cintamu,kau harus kuat!" ucap Algata menyemangati.
"Hem,makasih ma." tersenyum.
.
__ADS_1
.
Beberapa hari kemudian kini Vey kembali mengadakan rapat bersama Jovid Fren Dovindrala.Yaitu salah satu anak dari tuan besar Dovindrala sekaligus penerusnya.
"Selamat datang kembali Tuan Jovid." sapa Christian.
"Ya terimakasih atas sambutannya dan terimakasih menyediakan waktunya untuk kerjasama kita." ujar Jovid.
"Sebelum rapat dimulai Tuan Vey menyuruh saya memberitahukan kenapa anda agar menemuinya di ruang pribadinya." jelas Christian.
"Ah begitu baiklah aku akan menjumpainya." Jovid pun mengekori Christian.
Cklek
"Anda tunggu disini saja mungkin sebentar lagi tuan Vey akan datang." ucap Christian diangguki Jovid.
Seketika Jovid masuk melihat setiap interior ruangan Vey namun matanya tertuju pada sebuah lukisan besar dan...
Damn.
"Apakah itu Alice??" dengan terbata-bata.
Cklek.
"Maaf menunggu tuan Jovid." ujar Vey tersenyum membuat Jovid menggeleng kepala dan menepis fikirannya.
"Emm begini maaf lancang,apa benar bahwa putri Alice sempat menghilang?" tanya Vey yang sedikit takut menyinggung.
"Itu benar." ucap Jovid.
"Tapi tenang saja dia telah kembali,adik saya ditemukan pangeran Indrian saat dia ingin mengunjungi istana kami." ucap Jovid dengan tegas.
"Apa anda melihat Lukisan itu?" menunjuk figura Malaliza.
Deg
"Y-a siapa dia?" mulai merasa cemas.
"Dia gadis yang aku cari,dialah cinta pertamaku dan aku sengaja memajangnya agar aku tidak melupakannya.Apa kau kenal?" dengan menaikan satu halis.
"Em,dari wajah dia seperti adikku Alice..."
Deg
"Apa perkataan mama itu benar?" dalam hati.
"Namun Alice memiliki warna rambut blonde jadi menurut saya dia bukanlah adik saya." ujar Jovid menyangkal.
"Tidak,Alice adalah gadis yang saya cari tuan Jovid." ucap Vey lantang.
__ADS_1
Deg
"Bagaimana bisa?" tanya Jovid dengan raut wajah tak percaya.
"Karna saya yang menemukan Alice saat kecelakaan itu dia hanyut ditepi pantai." ucap Vey menunduk.
"Apa anda tidak sedang bergurau?" menatap Vey dengan lekat.
"Saya tidak main-main masalah hati dan saya harap tuan Jovid bisa faham akan hal itu,bisakah saya meminta secara pribadi untuk berjumpa dengan Nona Alice?" tanya Vey.
"Saya akan usahakan tapi itu tidak bisa diprediksikan dengan iya atau tidaknya karna anda adalah rekan bisnis saya yang terhormat saya tidak masalah anda meminta sesuatu yang tidak begitu sulit." ucap Jovid sambil tersenyum.
"Ah terimakasih atas kesempatanya." ujar Vey dengan raut wajah bahagia.
"Baiklah apa rapatnya bisa kita mulai?" tanya Jovid.
"Ah mari." ucap Vey dengan sopan.
Rasanya kini Vey merasa lega dan ia benar-benar menantikan hari dimana ia bisa bertemu dengan Malaliza apakah dia bisa membawa pulang gadis itu.
Dikediaman Dovindrala.
"Alice kemarin Indrian memberitau Ayah kalo kamu ketemu seorang wanita apa itu benar?" tanya Dovin.
"Ya ayah,dia adalah wanita yang pernah Alice tolong waktu itu." ujar Alice dengan wajah yang tidak bersemangat.
"Ck,pengadu awas saja nanti." batin Alice kesal.
"Ayah tidak mau sampai kau berhubungan dengan orang yang bukan sederajat dengan kita ayah tidak mau kau kedapatan oleh musuh kita." ujat Dovin dengan wajah sendu.
"Alice tau itu yah." ujar Alice.
"Setidaknya Alice sudah dewasakan dia bisa membedakan mana yang terbaik untuknya dan mana yang bisa membuatnya terjerumus kelubang yang salah." ucap Gricela.
"Hmm,Mama benar Yah Alice udah besar tidak usah terlalu memikirkan Alice dengan penjagaan yang ketat,ayah tau itu merenggut kebebasan Alice dalam melakukan sesuatu dan apa itu artinya.Alice lebih baik menghilang dari pada kembali menjadi tawanan!" Alice segera melenggang pergi.
"Lihat,semakin kau terlalu posesif padanya kau telah menghancurkan privasinya,aku sudah mengatakan padamu kalau putri kita bukanlah anak-anak lagi.Aku hanya tidak ingin putriku sendiri membenci ayahnya." ucap Gricela
Sungguh Dovin merasa terpojokkan dan yang paling bersalah namun inilah caranya untuk melindungi seluruh keluarganya.
"Kaupun tau Cel jika aku melakukan ini artinya kita bukanlah orang biasa,musuhku banyak diluaran sana yang bisa saja melakukan hal-hal kejam pada keluarga Dovindrala." menunduk.
"Aku tau kekhawatiranmu tapi dengan caramu mengekang keinginan pribadinya dia akan semakin menjauh darimu apa kau mau putri kesayanganmu itu menjauh darimu?" tanya Gricela.
"Hmm,kau benar aku akan mencoba bicara padanya semoga dia bisa mengerti akan posisinya sebagai putri dirumah ini." ujar Dovindrala.
"Hem,jika dia masih pada pendiriannya kuharap kau mau menurutinya karna bagaimanapun Alice bukanlah anak manja,dia punya dunianya sendiri dan jika kau ayah yang bijak maka kabulkanlah." ucapan Gricela membuat Dovin merasa terbuka sedikit akan idenya itu.
Bersambung..
__ADS_1