MALALIZA

MALALIZA
13


__ADS_3

Vey segera melangkah mendekat saat dilihatnya wajah pucat Malaliza rasanya ia yang bersalah sekarang,diangkatnya tubuh ringan Malaliza dan ia pun mengelapnya dengan handuk dan membaringkannya diranjangnya.


"Sial,kenapa wajahnya pucat jangan sampai dia mati uangku selama ini habis karena perawatanya dan dia belum sempat mengganti." ujar Vey.


📲


"Ada apa,bukannya kemarin mengusir?"


"Sudah lah Cellos jangan membahas hal itu lagi sekarang,sebaiknya kau ketempatku aku tunggu!"


"Ada ap...."


Tlitt


"Dasar Vey menyebalkan seenaknya menyuruhku kesana tapi dia bertindak tidak sopan,jika bukan teman sudah ku panggang bersama kulit b*bi!" ucap Cellos.


Sesampainya diapartemen Vey.



"Sekarang katakan padaku ada prihal apa kau memintaku datang?" tanya Cellos.


"Dia sakit kau periksa!" tunjuknya pada Malaliza yang sudah pucat.


"Astaga Vey kau apakan anak orang sampai jadi begini jika sampai polisi tau kau sudah kena pasal tindakan kdrt!" ucap Cellos mendekat kearah Malaliza.


"Kau fikir aku suaminya apa ck,dasar jomblo akut!" ejek Vey.


"Aku tidak perduli karena kau suami yang kejam membiarkan istrinya menjadi sakit seperti ini."ucap Cellos yang ingin membuat Vey kesal.


"Kau kupanggil untuk menyembuhkannya bukan berdebat denganku,cepatlah!" ucap Vey dengan kesal.


"Sabar man,kau ini terlalu terburu-buru serasa dia akan melahirkan anakmu." goda Cellos membuat satu bantal melayang kearahnya.


Bugghh


"Sekali lagi kau membual maka tongkat kastik ku akan melayang diwajahmu!" ucap Vey terkesan dingin.


"Ya baiklah sensian amat seperti istrinya mau meninggal." Sebelum Vey akan mengangkat tongkatnya Cellos menjauh dan mengatakan sesuatu.


"Dia hanya demam biasa karena kedinginan beberapa jam lagi dia akan sadar dan yang harus kau ingat jika tubuhnya saat ini terbilang lemah luka saat kecelakaanpun belum sembuh sempurna jadi kuharap kau bisa menjaganya setiap saat!" ucap Cellos.


"Kau kira aku baby sisternya apa!" ucap Vey dengan nada dingin.


"Tidak kau kan suaminya." celetuk Cellos.


"Kau benar-benar awas saja tidak akan kurestui kau dengan Roseana!" bentak Vey.


"Silahkan karena aku hanya akan meminta restu pada kedua orang tuanya kau hanya sepupunya saja." Ledek Cellos,membuat Vey semakin geram.


"Sudahlah aku hanya bercanda,ouh ya kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Cellos.


"Aku tidak sengaja menjeburkan dia di air dingin dan ternyata dia malah sakit." ucap Vey mengingat kembali perlakuannya tadi.


Cellos yang melihat perubahan wajah Vey yang dingin semakin percaya bahwa keberadaan gadis ini lambat laun akan membuat Vey sadar akan sikapnya selama ini dan Vey pasti akan berubah.

__ADS_1


"Hm,kau menyesal bukan?" ucap Cellos.


"Tentu,dia gadis baik dan aku rasa aku salah padanya." jelas Vey.


"Baiklah aku tulis resep obatnya kau tinggal membeli di apotik!" ucap Cellos.


"Untuk apa aku membayarmu tapi kau sama sekali tidak membawa obatnya?" ujar Vey dengan nada dingin.


"Ck,mulai lagi.Apa kau bodoh kau mengabariku mendadak dan aku tidak tau sakitnya gadis itu apa bagaimana mungkin aku bawa apotiknya kesini?" ucap Cellos dengan sebal.


"Ck,dokter bodoh harusnya kau perfesional lebih baik aku biarkan saja dokter Hendrik dari Jerman yang menjadi dokter kepercayaanku." ucap Vey kesal.


"Ya kau bandingkan saja aku dengannya padahal kau sendiri tau sifat mesumnya,bagaimana dia akan melakukan hal yang sama pada Malaliza,apa kau terima?" ujar Cellos membuat Vey bungkam.


"Aku tau kau perduli pada Malaliza." ucap Cellos.


"Tidak!" elak Vey.


"Sudahlah man,aku akan pulang jika dia terlihat buruk kau kabari saja aku,aku pergi." Setelah itu Cellos melenggang pergi.


Vey menatap Malaliza yang terlentang.


"Wajahmu cantik tapi sayang kenapa keadaanmu sulit aku terima." batin Vey mengelus wajah Malaliza.


"Nghhh..." rengkuh Malaliza perlahan mata bulatnya kian terbuka dan sosok pertama yang ia dapati adalah Vey.


"Vey??" ujar Malaliza.


"Kau sudah sadar,jika kau merasa ada yang sakit katakan saja!" ucap Vey dan langsung dibalas senyuman Malaliza.


"Maaf..."


"Maaf kan Liza,kalau merepotkan Vey." dengan suara lirih.


Vey mengelus lembut kepala Malaliza.


"Hey jangan begitu,aku yang salah jika kau mati aku yang menanggung rugi." ujar Vey tanpa berdosa.


Malaliza mengerucutkan bibirnya karna kesal.


"Jadi selama ini Vey menginginkan Liza mati baiklah besok Malaliza akan tenggelam saja." ucap Malaliza cemberut.


"Tidak,aku hanya bercanda." Vey tau perkataan Malaliza tidak akan main-main.


Keesokannya...


"Hoamm...." Saat Malaliza membuka matanya terlihat Vey tertidur di sebahnya.


"Vey bangun,Liza lapar....." rengek Malaliza sambil menggoyangkan badan Vey namun sang empu tidak merespon.


"Vey..." menggoyangkan badannya lagi karna tidak ada respon Malaliza cemberut ia pun jahil menghimpit hidung mancung Vey dengan kedua jarinya.


"Eumm..." bukannya bangun Vey malah memeluk Malaliza dengan erat.


"Aa....sesak Vey!!" ucap Malaliza meronta.

__ADS_1


"Eumm..." Vey masih saja tidur.


Karna kesal Malaliza mengigit hidung mancung Vey membuat sang empu terlonjak kaget dan memegang hidungnya.


"Heh bocah apa yang kau lakukan pada hidungku!" ucap Vey membuat Malaliza memasang wajah cemberut.


"Salah Vey yang tidak bangun,Liza laperrr..." rengeknya.


Vey masih mengelus hidungnya karna terasa sakit walau Malaliza hanya mengigit ujungnya.


"Yasudah tunggu disini,aku akan memesan makanan." ucap Vey.


"Liza mau makan sekarang,Vey saja ya yang buatkan!!" menatap dengan memohon.


"Ck menyebalkan,kalau begitu mandilah aku akan siapkan." ucap Vey kekamar mandi membasuh wajahnya dan turun kedapur.


Beberapa menit kemudian...


"Lalala....lalalala...." senandung Malaliza membuat Vey menengoknya.



"Kenapa warna rambutmu berubah lagi?"tanya Vey bingung.


"Entahlah Vey,setiap Liza keramas warna rambutnya selalu berganti bila terbilas air." ucap Malaliza polos.


"Kau memang menggunakan shampo apa?" tanya Vey.


"Jelas shampo strawbery." ucap Malaliza duduk dimeja makan.


"Dasar bocah." ledek Vey.


"Udah jadi belum sarapannya,Liza sudah kelaparan." sambil mengelus perut ratanya.


"Kau memang kampungan seperti tidak pernah diberi makan 1 tahun." ledek Vey.


"Tidak perduli." ucap Malaliza membuat Vey terkejut.


"Dari mana kau berkata tidak sopan seperti itu?!"ucap Vey tegas.


" Tidak ada orang disini kecuali Vey dan tentu Vey yang selalu mengatakan itu,apa salah?"ucapan Malaliza membuat Vey tersindir walau memang fakta.


Melihat Vey membawa nasi goreng segera Malaliza merebutnya dan memakannya dengan belepotan.


"Kalau makan hati-hati." ucap Vey mengusap nasi yang diujung bibir Malaliza.


Mereka saling menatap saat tangan Vey tepat dibibir Malaliza.


Deg.


"Ah maaf.." ucap Vey gelagapan.


"Tidak apa Vey." beda dengan Malaliza yang hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2