
"Malaliza bisakah kau hadir didepanku jika ia aku sangat berharap itu terjadi lebih cepat." gumam Vey sambil mengamati lukisan Malaliza.
Tok
Tok
Cklek
"Vey maafkan aku tidak bisa mencari keberadaan Malaliza." ujar Jev yang datang bersama Aurel.
"Sudah 2 hari kami mencarinya non stop tapi nihil kami tidak menemukan jejak apapun,pakaian yang terakhir atau benda yang ia bawa tidak ada jejaknya." ucap Aurel sedih.
"Terimakasih Jev,Aurel kalian sudah bekerja keras untuk itu dan aku sangat bangga dengan usaha kalian,kalian bukanla detektif yang mencarinya hingga dapat jadi jangan fikirkan Malaliza lagi itu urusanku kalian persiapkan saja tanggal pernikahan kalian!" ujar Vey.
"2 minggu lagi kami akan mengadakan acara pernikahan." ucap Jev.
"Hmm,aku akan datang menjadi kewajibanku karna aku sahabat kalian,semoga kalian bahagia." ujar Vey kembali duduk didepan kursi pantai.
"Kami pamit Vey,jika butuh sesuatu hubungi kami saja." pinta Jev dibalas anggukan Vey.
.
.
"Aku sangat kasihan pada Vey,setelah Malaliza hilang separuh hidupnya seperti hilang." ujar Aurel
"Aku berfikir begitu,tapi yang aku pusingkan bagaimana bisa Malaliza menghilang tanpa jejak bahkan sudah hampir 1 tahun lebih setelah menghilangnya Malaliza,jika dia orang biasa kita mudah mengaksesnya." ujar Jev.
"Jadi maksudmu Malaliza bukanlah orang biasa,lantas siapa dia?" tanya Aurel penasaran.
"Itulah yang harus kita cari tahu,karna sudah hampir 100 orang yang aku kirim untuk menemukan gadis itu,aku kasihan pada Vey,semenyebalkannya orang dia tetaplah sahabatku." ucap Jev.
"Aku tau." angguk Aurel
.
.
"Suamiku aku akan belanja ke supermarket." ucap Algata.
"Iya,hati-hati dijalan,apa mau aku suruh sopir mengantarmu?" tanya Frence.
"Tidak perlu,aku bisa jalan kaki karna tidak jauh." ucap Algata sambil menenteng tasnya.
Setelah keluar rumah Algata disuguhi oleh pemandangan yang membuat ia merasa tidak suka yaitu Elizia perempuan yang sombong dan tak tau diri.
__ADS_1
"Mau kemana,jangan bilang mau nguras uang suamiku?" dengan nada angkuh.
"Suamimu,apa kau lupa jika dirimulah yang merebut suamiku,aku tak semenjijikan itu hingga harus mengatakan pelakor,walau itu memang kenyataan sesungguhnya." balas Algata dengan wajah kesal.
"Oh pelakor ya,memang siapa yang pelakor yang namanya pelakor tuh orangnya cuman butuh uangnya suami!" ucap Elizia dengan tatapan sinih.
"Apakah pulang nanti aku harus membeli cermin besar agar kau bisa melihat dengan jelas,siapa yang sebenarnya pelakor??" ucap Algata yang sudah emosi.
Plakkk
"Beraninya kau padaku,ingat aku adalah wanita yang lebih tua darimu!" dengan nada menyentak.
"Ia kau adalah kakak iparku yang berani merebut suamiku dan menjadikanmu istri kedua walau terpaksa,apa kau lupa akan hal itu nyonya Elizia Betrand!" ujar Algata.
"Beraninya kau...!!" Elizia menarik rambut Algata dengan kasar membuat Algata meringis karna merasa sakit pada kepalanya.
"Argghhh lepaskan wanita gila!!" teriak Algata sambil menahan rambutnya.
Algata tidak tinggal diam ia meninju perut Elizia hingga tergampar dilantai.
Bugghh
"Dasar Jal*ng!!" teriak Elizia.
"Mama,mama kenapa?" tanya Crow sambil membantu Elizia berdiri.
"Heh Algata Frence kau sangat menyedihkan sekali,apakah dengan cara licik kau ingin membunuh mamaku hingga kau bisa menguasai papa Frence?" menatap sinis.
"Percuma berbual dengan kalian,minggir!!" dengan kasar Algata berjalan tanpa menatap keduanya dengan wajah yang masih kesal.
.
.
"Ayah,Alice izin pergi ke taman ya." ucap Alice sambil memegang lengan Dovin.
"Pergilah,tapi bersama bodyguard!" ucap Dovin dengan tegas.
"Tapi ayah..."
"Alice dengarkan perintah ayahmu,ayahmu hanya ingin yang terbaik untukkmu dan tidak mau sesuatu yang tak diinginkan terjadi padamu."ucap Gricela.
"Baiklah mama kali ini,Alice mendengarkan kalian." ucap Alice dengan raut wajah pasrah.
"Permisi tuan Dovindrala dan nyonya bersama putri Alice,maaf mengganggu didepan sudah ada pangeran Prince menunggu." ujar salah satu pelayan.
__ADS_1
"Ayah apa-apaan kenapa kekanakan sekali,Alice hanya ingin pergi ke taman kenapa ayah malah meminta Indrian kemari?" ujar Alice dengan manik tak suka.
"Itu untuk kebaikanmu,berdekatlah dengan dia jadikan keluarga kita sama-sama terjalin!" ujar Dovin.
"Oh jadi kalian mencari Alice tetap untuk dijodohkan,jika benar lebih baik Alice menghilang lagi dari pada disini!" ucap Alice berjalan keluar dengan wajah emosi.
"Alice..." teriak Dovin.
"Kenapa dia begitu sulit dibujuk?" ucap Dovin dengan lesu.
"Alice sudah besar tuanku maka dari itu Alice tak mau dikekang dan ingin bebas seperti Jovid." ujar Gricela sambil memijat bahu Dovin.
"Beda,Jovid adalah lelaki sedangkan dia harus banyak yang kita jaga darinya dialah satu-satunya yang akan membesarkan kekayaan yang Dovindrala miliki!" ujar Dovin dengan nada kecewa.
"Aku pernah merasakan ada diposisi Alice,dijodohkan denganmu yang sama sekali tidak aku kenal." ujar Gricela.
"Apa kau menyesal?" menatap Gricela.
"Sempat,tapi begitu aku mencintaimu semua hilang dan terganti dengan rasa sayang,tapi tuanku Alice dan aku berbeda jika dia sudah memiliki pria lain cinta tak bisa terpaksakan sedangkan aku dulu aku terkekang dan tak pernah dekat dengan pria manapun." ucap Gricela.
"Siapa pria yang disukai Alice,keberadaannya pun sangatlah aku tutupi,awak media saja aku bungkam dengan uang yang banyak agar tidak membocorkan informasi putriku." ucap Dovin.
"Apa kamu lupa,putri kita hilang selama beberapa bulan yang lalu kembali ditemukan pangeran Indrian jadi tidak ada salahnya jika putri kita pernah menjalin hubungan dengan seseorang,aku pernah melihat sorot mata yang seperti sudah dikuasai hati lain." ucap Gricela.
"Itu tidak mungkin,aku sendiri menjodohkannya karna keluarga Prince adalah sahabatku dan juga atas penolongan Indrian,Alice terselamatkan." ucap Dovin.
"Entahlah harus bagaimana lagi aku bingung berbicara denganmu disatu sisi aku hornat karna kau suamiku tapi disisi lain ingin aku patahkan egomu itu dan rasanya ingin aku ganti dengan rasa mengalahmu kenapa rasanya begitu sulit memberimu kepercayaan tuanku." Gricela meninggalkan Dovin.
"Aku memang egois tapi itu demi kebaikan Alice." ujar Dovin sambil menunduk dan menangis,karna setiap kali ia memaksa putrinya selalu ia merasakan kesedihan yang tak pernah ia tunjukka.
"Maafkan ayah Alice..." gumamnya.
Diluar...
"Tuan putri ingin kemana?" tanya Indrian lembut.
"Ketaman!" ujarnya acuh,langsung diangguki Indrian.
Setelah perjalanan Alice pun turun dan menyuruh semuanya diam dan tidak mengikuti Alice yang hanya akan ketoilet umum.
Alice berniat kabur saat ia berjalan tanpa menengok depan dirinya menabrak seseorang.
Bugghhh..
"Auch,maaf aku tidak sengaja menabrakmu." ujar Alice memegang kepalanya yang terbentur badan seseorang didepannya.
__ADS_1
Bersambung....