
Esoknya Vey sudah siap menggunakan jas nya.
"Wah Vey sangat tampan." puji Malaliza membuat Vey merasa lebih percaya diri.
"Terimakasih." balas Vey dengan tersenyum.
"Apa Vey akan lama bekerjanya?" tanya Malaliza murung.
"Tenang aku akan menyelesaikannya dengan cepat." ucap Vey menatap senang Malaliza yang kali ini terlihat lebih cantik.
"Darimana kamu mendapat pakaian itu?" tanya Vey.
"Aurel yang membelikannya." ucap Malaliza keceplosan dan menatap arah lain.
"Umm...itu Aurel datang kesini waktu Vey tidur dan memberikan beberapa aksesoris dan baju Malaliza senang sekali berdandan." ucap Malaliza.
"Apapun itu." mengelus pipi Malaliza.
Semenjak itu hubungan antara Vey semakin dekat entah kenapa tapi Vey menjadi nyaman.
"Aku berangkat." ucap Vey.
Beberapa menit kemudian...
Tok
Tok
"Aurel??" Malaliza langsung memeluk Aurel dengan senang.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Aurel.
"Sudah." angguk Malaliza.
"Apa kau mau ikut denganku menemui seseorang?"tanya Aurel.
" Siapa?"tanya Malaliza bingung.
"Ikut saja!" ucap Aurel menarik pergelangan tangan Malaliza.
....
"Laporan hari ini tuan Crow." ucap salah satu karyawan.
Brakk
"Sial,kenapa banyak penyusutan angka hah,kemarin saja aku baru memeriksa tidak separah ini??" ucap Crow melempar berkasnya kelantai.
"Itu memang data..."
"Diam kau,sekarang kau dipecat keluar!!" teriak Crow.
Vey yang sudah hendak masuk menatap seorang pria keluar dari sana.
"Ada apa?" tanya Vey.
"T-tuan Rolca??" ujarnya dengan senang ia pun bersimpuh.
"Tuan tolong jangan pecat saya,saya hanya melakukan tugas." ucapnya.
__ADS_1
"Bangunlah sekarang kau tidak perlu takut oke." ucap Vey.
Cklek.
"Sudah..."
"Vey?" ucap Crow menatap tak suka.
"Hm,sekarang tugas kekacauanmu sudah selesai biarkan aku yang mengambil alih!" ucap Vey dengan aura dingin.
"Tidak,ini perusahaan ku!" ucap Crow.
"Cristian!" panggil Vey.
"Sesuai dari surat yang diamanatkan tuan Frence selagi anak kandungnya masih hidup tanggung jawab perusahaan sepenuhnya dipegang tuan Rolca dan juga tuan Frence memberikan surat pemindahan tugas atas nama Rolca Vey Frence yaitu putra sulungnya dan pihak lain tidak bisa memberikan gugatan atas surat sah yang ditandatangani langsung tuan Frence saat dia sakit." ucap Cristian membuat Crow emosi.
Brakk
"Tak akan kubiarkan kau menang Vey!" ucap Crow penuh penekanan.
"Baiklah tuan Rolca anda bisa mengambil posisi yang memang hak anda." ujar Cristian dengan sopan.
Vey pun menatap sekeliling.
"Cristian,bisakah besok kau ubah semua dekor ini ganti dengan suasana yang lebih simple!" ujar Vey.
"Segala yang tuan Rolca inginkan akan kami turuti." ucap Cristian.
"Hm baguslah sekarang kau boleh pergi." sebelum melangkah keluar.
"Dan satu lagi,atur jadwal rapat kali ini karna saya ingin berbaur dengan para pihak yang bersangkutan adakan rapat 15 menit lagi!" ujar Vey.
"Baik tuan." angguk Cristian.
14 tahun yang lalu.
Vey yang masih duduk di sekolah menengah pertama itu harus melihat betapa kejamnya ayahnya yang menampar ibunya hingga sudut bibir ibunya berdarah ditambah kenyataan bahwa lusa adalah hari dimana Elizia akan menjadi ibu tirinya dan Crow mejadi kakak tirinya.
Plakk
"Hiks....mamah!!!" teriak Vey dan menghambur memeluk sang ibu.
"Vey?" ujar Algata bersama Frence.
"Ayah jahat Vey benci,ayah berubah ayah sudah tidak sayang kami ingat ayah setelah Vey lulus Vey akan pergi dari sini dan tidak akan menginjakkan kaki disini!" ucap Vey langsung berlari kekamarnya.
"Ayah kenapa engkau jahat pada mamah?" ucap Vey remaja dengan menangis pilu.
...
"Aurel ini dimana?" tanya Malaliza yang menatap tempat yang penuh dengan bunga.
"Taman." ucap Aurel dan mereka berjalan menuju kearah kursi taman yang sudah terdapat seorang wanita parubaya.
"Maaf tante,ini gadis yang mau dikenalkan." ucap Aurel.
Mata Algata sontak membulat.
"K-kamu?" ucap Algata.
"Hallo nek namaku Malaliza panggil Liza juga gapapa."ucapan Malaliza membuat Aurel maupun Algata melotot karna panggilan nenek.
__ADS_1
"Panggil saja tante ya."bisik Aurel.
"Ouh maaf tante." seketika Algata merasa lega.
Saat Malaliza hendak duduk Algata langsung memeluknya erat.
"Kamu adalah gadis yang pernah menyelamatkan tante dari kecelakaan truk kan,terimakasih sayang." ucap Algata dengan pelukan erat.
"Maaf tante,Malaliza tidak mengerti?" ucap Malaliza membuat Algata bingung.
"Tante Malaliza mengalami kecelakaan sehingga dia amnesia dan tidak mengingat jati dirinya." ucap Aurel sekenannya.
"Ah pantas saja jika dia bingung,maafkan tante ya nak,sebenarnya dulu saat tante berbelanja tante hendak menyebrang dan kamu menolong tante." ucap Algata.
"Wah benarkah tante Liza melakukan aksi hero itu wah....sangat mengaggumkan." ucap Malaliza heboh malah membuat Algata semakin bingung.
"Eum sebenarnya bukan hanya Amnesia tante tapi Malaliza juga mengalami memory yang berjalan diusia yang ke 10 tahun mengakibatkan pola fikirnya seperti itu." ucap Aurel membuat Algata mengerti dan mengusap kepala Malaliza.
"Kasian kamu nak,tapi tante berjanji akan membuatmu cepat sembuh apa kamu mau?" tawar Algata namun Malaliza menggeleng.
"Kenapa?" tanya Algata.
"Hiks....hiks...gak gak mau." ucap Malaliza tiba-tiba menangis.
"Ushhushh maafkan tante yang memaksa kalau begitu tante tidak akan memaksa lagi,karna berkat kamu anak tante bisa luluh." seketika Malaliza bingung.
"Anak?" dengan nada bingung.
"Ya,Vey adalah putraku." Malaliza terlihat antusias.
"Wah kalian memang mirip sekali,tante cantik dan Vey tampan pasti ayahnya Vey juga tampankan?"tebak Malaliza.
" Haha kau bisa saja."baru kali ini Algata merasa terhibur karna dari dulu karna anaknya lelaki dia tidak bisa curhat maupun bercanda bebas.
"Jika Vey tau dia pasti merasa bahagia karna disebut tampan." batin Aurel.
"Tante usia berapa?" tanya Malaliza.
"54 tahun." ucap Algata.
"Cantiknya bolehkah Malaliza pinjam sebentar,biar mirip dengan Vey." ujar Malaliza.
Seketika tawa Algata semakin pecah walau Malaliza tidak faham apa yang ditertawakan namun ia membalas dengan senyuman.
"Tante jika Malaliza sudah tua apakah tidak kriput seperti tante,bisakah beri tahu obat mujarab nya?" ucap Malaliza polos,Aurel hanya mendengarkan kali-kali malu membawa Malaliza yang konyol itu.
"Haha...kamu ini sangat lucu sayang,tidak kok tidak ada yang tante pakai hanya selalu pergi ke salon kecantikan saja." ucap Algata.
"Ouh apa disana para pekerjanya juga cantik?" tanya Malaliza.
"Jelas,jika tidak maka salon mereka tidak akan ada yang mau datang." ucap Algata.
"Ouh..." mengangguk.
"Sudah mulai sore kita pulang dulu tante." ucap Aurel.
"Hm ya,terimakasih Aurel sudah mau memperkenalkan Malaliza untuk tante." dengan mengecup kepala Malaliza dengan sayang.
"Kamu gadis yang baik nak,semoga penyakitmu cepat sembuh." ucap Algata.
"Dan suami tante juga ya..." seketika Algata kaget namun ia faham pasti Aurel yang menceritakannya.
__ADS_1
"Ia sayang terimakasih." tersenyum.
Bersambung...