
Vey sudah berdiri tepat didepan Malaliza dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ada apa Vey?" yang bingung.
"Apa kamu cukup bagus untuk kujadikan model?" tanya Vey.
"Malaliza gak tau Vey tapi Liza akan coba Liza kan cantik hehe..." ucap Malaliza sambil terkekeh.
"Dasar bocah." ledek Vey.
Vey berdiri dan ia pun pergi kekamarnya,Malaliza yang penasaran mengekor dibelakang Vey dan mengintip Vey yang sedang mengambil sesuatu.
"Vey sedang apa?" tanya Malaliza dengan polos.
"Nih ambil dan pakai!" ucap Vey.
Malaliza mengangguk dan akan membuka bajunya.
"Hey!!kau mau apa?" tanya Vey yang sudah merona.
"Mau berganti pakaian Vey." ucapnya dengan polos.
"Tidak sopan sekali,pakai dikamar mandi!" Vey segera keluar dari kamar.
"Sial,kenapa aku harus tinggal bersama bocah 10 tahun?" ucap Vey mengerang frustasi dan segera menuju lantai bawah.
Beberapa menit kemudian...
"Sekarang berdiri disana coba tampilkan ekspresi yang sangat baik!" ujar Vey.
Malaliza menurut dan ia bergaya memegang perut.
"Kau ini sedang sakit perut?" tanya Vey kesal dan Malaliza menggeleng.
"Untuk apa pegang perut sekarang pegang bunga itu!" ujar Vey dengan segera Malaliza melakukannya dan Vey mulai melukisnya.
beberapa jam kemudian...
"Vey ini melelahkan Liza pegal!" ucap Malaliza cemberut.
"2 menit lagi oke,setelah ini aku akan memberikanmu ice cream." ujar Vey yang masih fokus.
"Beneran Vey?" dengan wajah bahagia.
"Ya." angguk Vey.
"Yeahh." dengan semangat Malaliza masih diposisi tanpa disadar bibir Vey melengkung mendandakan dia tersenyum.
"Dia menggemaskan." membatin.
Setelah selesai...
"Good,sekarang sudah selesai." Vey meregangkan ototnya,Malaliza yang penasaran terkejut.
"Wah Malaliza ada disini,kenapa wanita ini begitu cantik." ujar Malaliza.
"Ck dasar pede." batin Vey.
"Hehe..."
Vey pun berjalan menjauh.
"Vey mau kemana?" tanya Malaliza.
"Mau mengambil shampomu,kenapa rambutmu sekarang berubah lagi?" ujar Vey.
"Entah,Vey mana ice cream nya??" rengek Malaliza.
"Ambil dikulkas ada banyak." ucap Vey dengan cepat Malaliza berlari dan mengambil semua farian rasa buah.
__ADS_1
Vey pun mengambil shampo itu ia pun mencobanya namun ia terkejut tidak ada perubahan sama sekali.
"Aneh kenapa tidak berefek padaku?" batin Vey.
Kriukkk
"Huh karna terlalu semangat melukis aku lupa mengisi perutku." ujarnya dan turun kebawah mengambil sepotong daging ayam yang sengaja ia goreng.
Saat Malaliza melihat kegiatan Vey ia pun berdiri dibelakang Vey karna penasaran tapi ia mencium bau strowbery menguak di rambut Vey membuat Malaliza senang,dan ia pun mencium sambil mengelusnya lembut.
Vey yang sedang makan kaget dan segera menjauh.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Vey
"Vey menggunakan shampo Liza ya,wangi sekali sini Liza mau cium lagi." pinta Malaliza.
Vey pun menjadi malu sendiri wajahnya kini memerah karna menahan malu.
"Tidak!!aku ingin makan menjauhlah." ujar Vey kembali duduk dan memakan makanannya lagi.
Malaliza yang tidak perduli malah melingkarkan lengannya dileher Vey dan mencium rambut Vey lagi sesekali mengelusnya.
"Biarlah,lagian akupun merasa nyaman." batin Vey tersenyum.
.
.
"Jovid bagaimana perkembangan perusahaan?" tanya Dovin yang terbaring dikasur,sejak kepergian putrinya semakin hari kondisinya semakin lemah.
"Ayah,bagaimana jika pencaharian kita cari lewat internet sekali ini saja demi Alice kita bertahu dia di media sosial?" ujar Jovid.
"Tidak,putriku sejak dulu tidak menginginkan itu ia tidak mau memperlihatkannya dipublik." ucap Dovin.
"Tapi ayah..."
"Sudah vid,ayahmu memang benar jika Alice tidak sampai ditemukan beberapa bulan lagi terpaksa kita melakukan cara itu untuk menemukannya." ucap Gricela.
.
.
Setelah berpakaian rapi Vey pun berjalan keluar rumah.
"Vey mau kemana?" tanya Malaliza polos sambil menjilat ice creamnya.
"Aku akan mengantar hasil karyaku jadi kau tunggu saja dirumah!" ucap Vey sambil mengacak rambut Malaliza.
Ya walau diluar kadang ia kesal namun karna terbiasa kehadiran Malaliza membuatnya merasa nyaman.
Malaliza mengangguk lucu sambil menjilat ice creamnya.
"Hati-hati Vey." ucap Malaliza.
Vey mengendarai mobilnya menuju sebuah gedung yang tinggi ia pun masuk dan segera membawa hasil lukisannya.
Tok
Tok
"Ouh Vey,kau sudah tiba." sambil merangkul Vey.
Jovi Luck
"Ya maaf karna terlambat memberikannya." ucap Vey.
"Tidak masalah itu sudah biasa bagiku menunggu." balas Jovi.
"Nih coba kau lihat dulu." ucap Vey.
__ADS_1
Saat membukanya mata Jovi membelalak saking terpesonanya.
"Cantik sekali,kau dapat model ini darimana?" tanya Jovi penasaran.
"Cantik ia tapi kelakuaannya diluar nalar." membatin.
"Adalah." ucap Vey santai.
"Pasti Jev yang menyarankan wanita ini?" tebak Jovi.
"Enak saja,tidak selamanta Jev yang memberikan ide padaku,dia sangat menyebalkan." ujar Vey.
"Memang sih,tapi dia pemuda yang baik buktinya walau kau terkesan dingin padanya dia tetap setia." ucap Jovi.
"Apa maksudmu?" mendelik.
"Kalian homo?" sontak Vey menjitak kepala Jovi.
"Sialan kau!" ucap Vey kesal.
"Hehe bercanda kalau benar mana mungkin dia pacaran dengan Aurel kan." ucap Jovi hanya dibalas tatapan datar oleh Vey.
"Cepat katakan apa ini sudah lulus dipasarkan?" tanya Vey.
"Sangat,dan uangnya aku transfer tenang untuk ini aku beri 2 kali lipat,tapi jika kau melukisnya dengan pakaian sexy maka bayaran 5 kali lipat." goda Jovi.
Blatkk
"Dasar lelaki mesum,sudahlah." Vey beranjak pergi.
"Tidak sopan sekali,aku itu bos mu!" ucap Jovi.
"Hmm." Vey tidak perduli dan melangkah pulang.
"Sial kenapa saat orang menghoda dan memuji Malaliza rasanya aku tidak suka." Vey membanting stir mobilnya.
Tok
Tok
Malaliza yang mendengar ketukan dari pintu segera berlari kearah pintu itu,ia berfikir pasti Vey sudah pulang.
Ia membuka pintunya dan terkejut melihat kedatangan dua orang,seorang perempuan dan laki-laki.
Mereka saling pandang dengan raut wajah kebingungan.
"Siapa kalian?" tanya Malaliza menatap bingung.
"Apa yang siapa,harusnya kami yang bertanya dimana Vey dan kau siapa?" tanya Jev.
"..."
Malaliza membiarkan mereka berdua masuk keapartemen Vey.
"Jadi siapa kau?" tanya Jev dengan tatapan sulit diartikan.
"Halo om,tante aku Malaliza panggil Liza saja kalau Vey bilang Malaliza itu modelnya." ucap Malaliza dengan tersenyum cerah.
Deg
"Apa dia punya kelaian kenapa bicara dia seperti bocah?" bisik Jev.
"Mana aku tau sayang,aku sendiri baru kesini dan disuguhkan dengan hal yang mengejutkan." bisik Aurel sambil menatap Malaliza yang memperhatikan mereka berbisik.
Cklek.
Suara dari arah pintu membuat mereka menoleh dan mereka pun menatap Vey dan siempunya terlonjak kaget menatap kearah perkumpulan 3 manusia.
"Kalian??" ujar Vey terkejut.
Bersambung....
__ADS_1