MALALIZA

MALALIZA
11


__ADS_3

Tanpa fikir panjang Vey berlari menuju arah Malaliza.


Bruukk


Bugghh


Krtakk


"Ampun!" ucap kedua orang itu dan mereka pergi dengan keadaan badan yang kesakitan akibat pukulan Vey,dulu Vey adalah juara sabuk hitam taekwondo sehingga mudah baginya menaklukan musuh.


Vey menatap Malaliza yang bergetar hebat sambil memejamkan mata dengan segera Vey memeluknya.


"Kyaaa,pergi hiks....jangan sakiti aku!"ucap Malaliza.


"Stt ini aku." ucap Vey.


Malaliza membuka matanya dan benar saja saat dia membuka matanya Vey sudah didepannya sehingga dia memeluk Vey dengan erat.


Brukk


"Hiks...om jangan tinggalin Liza hiks...Liza takut, mereka jahat hiks..." Malaliza menangis deras karena ia merasa bahwa orang yang tadi akan berbuat hal yang buruk padanya.


"Sudah,tenanglah ada aku disini sekarang." ucap Vey,entahlah rasanya ia sangat nyaman memeluk Malaliza.


"Liza?" ucap Vey.


"Ya om?" tanya Malaliza.


"Bisakah mulai sekarang panggil aku Vey?" tanya Vey yang merasa canggung.


"Tapi kan gak sopan om." ucap Malaliza polos.


"Apa kamu gak sadar tubuh kamu itu sebesar diriku,jadi menurutku panggil saja namaku Vey karena Vey bukan nama asliku." ucap Vey.


"Lalu nama asli om siapa?" tanya Malaliza yang masih dipelukan Vey.


"Kasih tau gak ya...." goda Vey sambil menatap Malaliza dengan candaannya.


"Kasih tau dong." pinta Malaliza sambil merengek bagai anak kecil.


"Nama asliku Rolca Vey Frence namun semua orang lebih akrab memanggilku Vey agar lebih mudah." ucap Vey.


"Ouh kayak Malaliza ya om,kalau lebih bagusnya di panggil Liza?" tanya Malaliza dengan polos.


"Ya begitulah." ucap Vey.


"Sekarang ayo coba panggil namaku!" ucap Vey.


"Eum...Vey." ucap Malaliza gugup,membuat Vey senang.


"Nah itu baru gadis yang penurut,sebenarnya aku punya permintaan padamu apa kau sanggup?" tanya Vey.

__ADS_1


"Apa Vey?" tanya Malaliza.


"Mau gak kamu jadi model art ku,pemesanan ingin sekali kalau aku membuat sebuah karya seni dari orang yang langsung jadi modelku." ucap Vey.


Malaliza langsung mengangguk semangat sambil mengetuk dagunya.


"Kayak waktu Malaliza buat om sama Malaliza bukan yang om kayak b*bi Liza kayak princes?" tanya Malaliza polos membuat Vey memberikan ekspresi datar.


"Sudahku katakan panggil namaku saja,lagian gambaranmu itu tidak ada yang mau membelinya." ucap Vey.


"Jahat sekali padahal tadi Vey yang meminta Liza jadi model." ucap Malaliza cemberut membuat Vey gemas dan mengacak rambutnya.


"Hehe,aku hanya bercanda." ucap Vey.


Akhirnya mereka pun berjalan menuju apartemen Vey yang lumayan jauh dari tempat itu,semilir angin malam tidaklah membuat Malaliza kedinginan karena Vey menggenggamnya kuat membuat lengannya terasa hangat.


"Malam ini jangan pergi lagi." ucap Vey sambil menatap ombak yang sebentar naik ke darat dan larut ke pantai lagi.


"Vey,kenapa saat itu Vey mengatakan bahwa Liza itu beban?" tanya Malaliza sambil menatap Vey dengan penasaran.


Vey menjadi merasa bersalah padahal memang ia merasa begitu,tapi mungkin ini terlalu keterlaluan membuat Vey akhirnya sadar dirinyalah yang salah disini.


"Maaf,saat itu aku sedang kesal dan kekesalanku biasanya membuat orang sakit hati jadi kuharap jika itu terjadi lagi anggaplah angin lalu!" ucap Vey menatap lekat Malaliza.


"Tapi kenapa ya,Liza merasa bahwa itu membuat hati Liza sakit karena rasanya kehadiran Liza itu tidak diharapkan." ucapan Liza sontak membuat Vey membulatkan mata,entahlah perkataan gadis itu membuat Vey tersadar akan sesuatu.


Flashback


"Jadi selama ini adanya Vey apa yah,hanya benalu rasanya hati Vey sakit mendengar ini jika memang Vey tidak diharapkan,baiklah Vey akan pergi!" ucap Vey.


"Vey jangan tinggalkan mamah nak." ujar Algata dengan deraian air mata.


"Maaf mah ayah tidak mengharapkan Vey." ucap Vey melenggang pergi.


"Yah,kenapa kau tidak menghentikan Vey!" ujar Algata.


"Biarkan saja dia senang-senang dengan lukisannya itu aku sudah capek!" ucap Frence.


Flashback off


"Itu naluri manusia,kamu pasti bisa merasakan rasa sakit jika orang lain melakukan atau mengatakan hal yang buruk padamu karena apa, hak manusia itu bahagia bukan bersedih." ucap Vey membuat Malaliza memangut-mangut.


"Ouh ya Liza pingin menggambar lagi ya,kemarin Malaliza tidak sempat simpan gambarnya jadi Liza kehilangan lukisan Liza yang sulit itu." ucap Malaliza sedih.


Bahkan anak tk saja bisa menggambar lukisan buruk rupa itu lebih bagus,apa sulitnya_batin Vey.


"Tidak usah kau gambar nanti aku yang akan menggambarmu jadi kau bisa menyimpan gambar yang lebih bagus." ucap Vey memberi sebuah saran.


"Vey kira Liza gak bisa gambar,Liza tau kemarin Liza salah menggambar Vey tapi Liza yakin setelah ini Liza bisa menggambar Vey dengan wajah sexy." ucap Malaliza sambil meninggalkan Vey sambil menggerutu tidak suka.


Deg.

__ADS_1


Aku jadi tidak yakin usianya 10 tahun_batin Vey.


"Hey tunggu!" teriak Vey berlari mendekat kearah Malaliza yang sudah akan menjauh.


.


.


Sesampainya.


Brakkk


Malaliza duduk di sofa dengan wajah ditekuk.


"Kau marah hm?" tanya Vey yang sudah bisa menebak apa yang terjadi.


"Salahkan Vey yang mengejek Liza sampai Liza marah!" ucap Malaliza masih dengan wajah ditekuk.


"Aku hanya mengatakan hal yang jujur." ucap Vey dengan nada datar.


"Ya,lalu apa belum saja pulih Liza dari hal tadi sekarang Vey buat Liza sedih lagi." ucap Malaliza melipat tangannya.


"Ouh begitu,kau fikir aku ingin menghamburkan uangku karena kau kabur dan tidak bertanggung jawab?" ucap Vey.


"Apa yang Liza lakukan sampai ada uang yang dihamburkan beli ice cream juga enggak." ucap Malaliza sambil mengembungkan pipinya.


"Ouh ya?" ucap Vey menautkan halis.


"Iyalah,Vey gak tau selama ini Liza cuman ngambil dari kulkas dan gak beli!" ucapan Liza membuat Vey merasa kesal.


"Jika aku tidak beli dari supermarket ice cream itu tidak mungkin ada bodoh!" Kesal Vey.


"Tuhkan Vey mengejek lagi,sekarang Liza marah denger ya jangan membujuk Liza karena tidak akan mempan,apapun yang terjadi Liza akan tetap mengunci diri dikamar huh!" Malaliza langsung berjalan kearah kamarnya.


"Syukurlah aku tidak punya adik perempuan jika benar,pastinya akan sama kelakuannya dengan gadis cengeng itu." ucap Vey memegang pangkal hidungnya.


📲


"Hallo Vey!"


"Ouh Jovi ada apa?"


"Vey bosku meminta art nya dikirim 3 hari lagi dan harus sudah beres bersama modelmu jika tidak kau akan mendapatkan nama buruk karena tidak bisa menyelesaikan tugas!"


"Ouh baiklah nanti akan aku kirim hasilnya."


Tutt


"Sial besok aku harus membereskannya,tapi....argghh kenapa harus si cengeng itu yang menjadi modelku." Vey mengacak rambutnya frustasi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2