MALALIZA

MALALIZA
15


__ADS_3

"Kalian kenapa bisa ada disini?" tanya Vey dengan raut wajah tidak senang.


"Mengunjungimu sobat,apalagi yang kami mau." ucap Jev.


"Lebih baik kalian pulang,lagian kalian tau alamatku dari mana?" tanya Vey penuh selidik.


"Kau fikir saja dari mana,siapa orang yang tau selain dirimu?" tanya Jev.


Vey mengepal kedua tangannya menahan emosi yang hendak meluap.


"Cellos kau sangat menyebalkan awas saja." batin Vey.


...


"Uhuk...uhuk.." Cellos terbatuk saat meminum air putih.


"Dokter anda kenapa?" tanya Hendrik khawatir.


"Sepertinya ada yang sedang mengataiku." ucap Cellos.


"Sudahlah jangan difikirkan sekarang kita temui pasien dikamar no 14." ucap Hendrik langsung diangguki Cellos.


"Mungkin hanya perasaan saja." batin Cellos.


...


"Hey bung sudahlah jangan dipermasalahkan,sekarang kau hutang cerita padaku tentang gadis itu." ucap Jev menatap Malaliza yang sedang memainkan ikan bersama Aurel.


"Ck,sejak kapan mereka pergi tanpa mengabariku dulu!" ucap Vey dengan raut wajah tak suka dan duduk disofa dengan lelah.


"Hey bung jangan posesive,dia hanyalah gadis malang." menatap Malaliza iba.


"Sialan kau fikir aku apa?" ucap Vey lantang.


"Hm santailah kau ceritakan tentang dia,katanya dia modelmu?" ucap Jev penasaran.


"Darimana kau tau?" tanya Vey mengangkat sebelah halis.


"Dia yang mengatakannya yang aneh itu kenapa dia seperti gangguan begitu,kau tidak sadar dia seperti bocah bung." ucap Jev menatap Malaliza yang sedang tertawa.


"Kau kepo sekali." ujar Vey dengan nada datar.


"Atau kau penculik?" tebak Jev.


"Aku tidak perduli,lagian apa untungnya bagimu?" tanya Vey.


"Sekedar ingin tau saja,jadi kau mau mengatakannya atau tidak?" tanya Jev.


"Tidak." ucap Vey.


"Kalau begitu aku akan ajak Maudy kesini agar kau tidak semenyebalkan ini." ancam Jev.


"Sial,yasudah aku ceritakan." ucap Vey pasrah dari pada ia diganggu dengan wanita rubah itu,itu lebih mengerikan.

__ADS_1


"Saat aku hendak melukis tiba-tiba kertasku melayang karna angin lalu kertas itu pergi jauh entah kemana saat aku ingin kembali aku tak sengaja menemukannya dipinggir pantai dan membawanya kerumah..."


"Lalu kau apakah dia,apa kalian..."


"Shit,kau dan Cellos sama saja.Bisakah dengarkan dulu hah!" kini Vey mulai kesal menceritakan pada Jev yang bawel.


"Hehe jangan ngegas dong bung,hanya sekedar waspada." ucap Jev terkekeh.


"Hm,lalu aku membawanya kerumah dan menelphone Cellos setelah itu Cellos menyarankan agar membawanya kerumah sakit setelah dia siuman dokter mengatakan dia akan kehilangan memorinya atau disebut amnesia dan putaran memory nya kembali ke masa usia 10 tahun dan dengan kata ia pun tidak bisa mengetahui jati dirinya siapa." ucap Vey dengan santai.


"Tunggu,kenapa bisa begitu biasanya amnesia akan kehilangan memory nya sepenuhnya ataupun tidak dia akan mengingat separuh tapi yang aku bingungkan dia menjadi anak 10 tahun tapi tidak bisa mengingat jati dirinya,padahal anak 10 tahun masih bisa tau dirinya siapa." ucap Jev terkesan bingung.


"Aku juga tidak faham tapi mungkin masalah medis memang serumit itu." ucap Vey menatap Malaliza yang tersenyum dan tertawa mengingatkannya saat gadis itu mencium rambutnya.


Tanpa sadar Jev memperhatikan gelagat Vey yang tersenyum menatap Malaliza.


"Kau menyukai gadis itu?" tanya Jev sambil menyeringai.


"Apaan?" seketika Vey memandang arah lain dengan acuh.


Jev memeluk sahabatnya.


"Akhirnya kau normal sobat aku turut senang apalagi pilihanmu adalah gold." goda Jev.


"Sialan lo." ujar Vey.


Jev pun mengendus.


Brugghh


"Menjauhlah kau seperti anj*ng saja," Vey sangat malu tercyduk karna rasa penasaran ia lupa kalau tidak mandi dan keramas lagi.


"Haha rupanya kau terpikat gadis itu haha..." goda Jev yang dibalas tatapan tajam Vey.


"Kau kesini hanya ingin mengatakan itu saja sobat jika begitu pulang sanah!" ucap Vey mengusir.


"Menyedihkan sekali teman sendiri mengusir." mendrama.


"Mukamu jelek lebih baik jangan sampai jadi artis karna itu merugikan produser." ejek Vey.


"Okeoke aku merasa tersindir,ouh ada hal penting lain yang harus aku katakan padamu.Ini masalah perusahaan Vey,kemarin Cristian sekertaris ayahmu mengatakan bahwa keadaan perusahaan menurun saat Crow mengambil alihnya." ucap Jev.


"Aku tidak tertarik." ucap Vey melenggang pergi.


"Jika kau sudah tidak ada urusan maka pergilah!" ucap Vey santai dan langsung memasuki kamarnya.


Jev hanya menatap sedih ternyata membujuk Vey bukanlah hal yang mudah.


Jev seketika memiliki ide.


"Aurel!!" panggil Jev.


"Ya?" tanya Aurel yang sedang asik bermain bersama Malaliza.

__ADS_1


"Kita pulang!" ucap Jev.


"Om sama tante mau pulang,padahal Liza masih mau main sama tante." ucap Malaliza cemberut.


"Kita akan bertemu lagi kok." ujar Jev.


Seketika wajah Malaliza terlihat senang.



"Benar ya Om." ucap Malaliza.


"Iya,dengan syarat panggil namaku Jev dan dia Aurel." ucap Jev.


"Tapi...."


"Jika mengatakan Vey saja mudah kenapa pada kami tidak?" tanya Jev langsung diangguki Malaliza.


"Ya Jev,Aurel." ucap Malaliza.


"Bagus,malam ini kami akan menjemputmu kita akan pergi kewahana bermain." ujar Jev membuat Malaliza senang.


"Yeahh Malaliza mau,mau Jev." ucap Malaliza.


"Kau menggemaskan sekali." ucap Aurel dan memeluk Malaliza dengan erat.


"Aaa...terimakasih Aurel." ucap Malaliza dengan semangat.


"Pelukannya sudah ayo pulang,ingat malam ini tapi jangan bangunkan Vey oke!" ucap Jev.


"Kenapa?"tanya Malaliza dengan raut wajah bingung.


" Kau mau ikut atau tidak?"tanya Jev lagi.


"Mau,mau." langsung mengangguk dengan cepat karena Malaliza merasa bosan hanya dirumah saja.


"Bagus ikuti perintahku ya,kau memang anak manis." ucap Jev menggandeng Aurel untuk pulang.


Malaliza pun mengikuti mereka sampai mereka menghilang,ia menatap kebun strawbery yang tidak luas hanya beberapa pot saja karna kebunya hanya dihiasi dengan beberapa jenis tumbuhan.


"Aaa cepat tumbuh ya strawbery setelah kau manis aku akan memakanmu." ucap Malaliza terkekeh tanpa sadar Vey berada disana tersenyum melihat tingkah Malaliza yang menggemaskan.


"Kau itu gadis yang menyebalkan tapi kenapa kau bisa mencuri hatiku yang tak dimiliki siapapun dasar pencuri." batin Vey yang masih mengamati dari jauh.


Tiba-tiba datang cahaya setengah dari kalung yang Malaliza pakai Vey jelas melihat itu membuat dia sedikit penasaran.


"Aa...kenapa kalung milikku bercahaya?" ucap Malaliza dan kembali melakukan aktivitas bermainnya.


"Kalung itu,kenapa aku baru merasa ada yang menjadi teka-teki dari kalung yang tak pernah lepas itu sebenarnya siapa Malaliza dan apa kalung itu ada kaitannya dengan dia?" batin Vey dengan rasa penasaran.


"Nanti aku harus menyelidikinya siapa tau aku punya petunjuk siapa Malaliza yang sebenarnya." Batin Vey.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2