
Bisa dikira bagaimana stresnya Jane yang harus kehilangan kartu itu dan harus menuggu selama sehari untuk bisa mendapatkan kartu baru. Dan dia jelas akan menerima cibiran dari karyawan lain karena harus repot untuk meminjamkan kartu itu untuk bisa keluar masuk ruangan lain.
Jane belum pernah mengalami itu, tapi teman satu divisinya pernah kehilangan kartu otu juga dan mendapatkan hadiah cibiran dan lirikan sinis dari karyawan lain, termasuk dirinya waktu itu. Ah.. apa ini karma?!
Jane bahkan tidak tahu dimana kartu itu hilang atau terjatuh karena dia emrasa sudah memasukan ke dalam tasnya dengan aman.
Benar saja, selama 45 menit Jane harus menerima dirinya mendengarkan nasehat-nasehat dari manajernya yang merupakan seorang perempuan berusia 38 tahun tapi maish melajang. Miss Cleo nama manajernya itu, otaknya cemerlang namun sepertinya kisah percintaannya tidak secemerlang karirnya juga.
Jane keluar dari ruangan Miss Cleo sembari mengusap telinganya yang sebenarnya tidak apa-apa tapi Jane merasa telinganya kepanasan karena mendengar wejangan yang intinya adalah membuat Jane untuk tidak mengulangi hilangnya kartu tanda pengenal. Untuk kali ini Jane mengakui ini salahnya dan dia tidak akan memberi pembelaan.
Jane segera mengisi formulir kehilangan kartu tanda pengenal yang nantinya akan ditandatangani oleh Miss Cleo dan akan diserahkan pada pihak IT yang mengurusi pembuatan kartu.
__ADS_1
Namun baru saja Jane duduk di kursinya, seorang pria berpakaian jas berwarna hijau tua menghampiri kubikelnya dan mengatakan bahwa ada seorang yang mencarinya.
Jane merasa bingung dengan perkiraan siapa yang mencarinya sepagi ini. Tidak mungkin itu Tomy karena Jane sudah memberikan pihak keamanan kantornya ini foto Tomy dan meminta kerjasama dengan pihak keamanan untuk tidak menerima kunjungan dari pria itu.
Siapa yang mencariku?" Tanya Jane pada pria yang Jane bisa baca dari kartu tanda pengenal yang tergantung di leher bernama Bagas Saputra.
"Saya tidak tahu, saya hanya disuruh untuk menyampaikan bahwa dia menemukan kartu tanda pengenalmu." Jawab Bagas.
Kedua bolela mata Jane langsung membelak karena terkejut sekaligus senang dengan berita yang disampaikan oleh Bagas bahwa seorang telah menemukan kartu sakti miliknya dan Jane akan selamat dari cibiran dan delikan sinis para karyawan Ajisaka Grup juga wejangan yang membuat telinganya panas dari Miss Cleo untuk kedua kalinya.
"Ikut denganku."
__ADS_1
Sebelum mengikuti pria bernama Bagas itu, Jane terlebih dulu meminta ijin dari Miss Cleo dan mengatakan bahwa ada seorang yang dengan baik hati mau mengembalikan kartu tanda pengenalnya dan menyelamatkan dirinya hari ini.
Jane sebenarnya bingung ketika Bagas membawanya untuk naik ke lantai atas gedung kantornya ini bukan turun ke loby karena seharusnya tamu memang di temui di lobi, tapi kenapa Bagas membawanya menuju lantai 15 dimana lantai itu biasanya dikhususnkan untuk rapat.
Apa yang menemukan kartunya ini juga seorang karyawan dari Ajisaka Grup, tapi kenapa harus repot untuk bertemu di ruangan khusus untuk rapat yang sepi dan biasanya mempunyai kunci khusus dimana kunci itu di pegang oleh manajer dari setiap divisi jadi tidak sembarang karyawan bisa masuk.
Mengilangkan praduga dalam pikirannya, Jane mengikuti saja langkah bagas yang membawanya ke arah kiri setelah melewati lorong yang terang oleh sinar matahari yang menembus kaca yang menjadi dinding dari bangunan kantornya ini. Dan sampailah Jane di depan pintu ruang rapat besar yang baisanya di pakai untuk rapat seluruh divisi.
"Kenapa berhenti?" Tanya Jane karena langkah Bagas yang terhenti di depannya.
"Saya hanya akan mengantarmu sampai disini." Lalu Bagas pergi setelah pamit tanpa suara pada Jane.
__ADS_1
Jane kebingungan di depan pintu ruang rapat besar karena dia tidak memiliki kartu untuk bisa membuatnya masuk ke dalam ruangan itu. namun ternyata setelah Jane sekali lagi melihat pintu ruangan itu, Jane menemukan bahwa ruangan itu sudah terbuka sedikit. Dan dengan sekali dorong ke kanan, Jane bisa membuka dengan lebar pintu ruangan rapat besar itu.
Jane melongok untuk melihat situasi dan keadaan yang ada di dalam ruangan besar itu, sepi dan hening. Jane hampir saja mengira ruangan itu kososng dan Bagas hanya mengerjainya saja sebelum dia menemukan seorang berdiri membelakanginya dan menghadap kaca. Seorang pria dengan setelan jas yang Jane tahu itu mahal dan membelinya pun harus mengantri juga mengimpor dari Eropa.