
"Mau makan apa, sayang?" Tanya Satya pada seorang bocah kecil dengan rambut di kuncir dua yang duduk di kursi sebelahnya.
"Mau makan bakso boleh, pa?" Tanya bocah itu dengan wajah berbinar.
Satya yang gemas melihat wajah bocah itu langsung meraup tubuh bocah itu untuk duduk di pangkuannya. "Baiklah... apa pun untuk princess Jasmine.. tapi tidak boleh pakai saus dan harus dihabiskan, ya?"
Jasmine pun mengangguki nasihat papanya dan mengulurkan jari kelingkingnya pada papanya. "Pingky promise.."
Dan Satya dengan terkekeh menyambut tingkah anaknya itu. "Pingky promise." Dan mencium pipi bulat anaknya dengan gemas sampai anaknya tertawa-tawa.
Tawa yang hanya bisa diciptakan oleh seorang Jasmine di wajah Satya, karena setelah Prita, istrinya pergi meninggalkanya selama-lamanya semua binar kebahagiaan seolah ikut terenggut juga. Pria itu menjadi dingin dan pendiam dan hanya berlaku hangat di depan putri satu-satunya dia dan Prita, Jasmine.
Hari-harinya hanya dipenuhi oleh kerja kerja dan kerja tanpa kenal waktu tapi ketika putrinya meminta sesuatu Satya akan melupakan semuanya karena dia saat ini tujuan hidupnya adalah membahagiakan putrinya dan menyiapkan masa depan yang sangat indah untuk putri kecilnya ini. Dia akan mewujudkan apa yang disampaikan istrinya dalam surat yang ditulis Prita. Dia akan mewujudkannya dengan sekuat tenaga.
Namun ternyata semua itu membuat keluarganya khawatir dnegan keadaan Satya yang tidak pernah mau lagi membuka hati untuk wanita manapun. Mama Prita sudah sering menyarankan Satya untuk mencari seorang wanita yang pantas untuknya dan menyayangi Jasmine. Namun Satya selalu menolak dengan halus dan mengatakan bahwa kebahagiaan Jasmine adalah yang terpenting untuk saat ini sebagai alasan penolakan itu. Maka para tetua pun akhirnya menyerah dan menunggu waktu dimana Satya pasti akan membuka dirinya dan kembali menjadi Satya yang mereka kenal sebelumnya.
_#_#_
"aduh.. "
__ADS_1
serempak semua orang yang ada didalam ruangan dimana Jane bekerja menoleh. mereka melihat bos mereka, Marsha yg baru saja keseleo dan hampir saja terjatuh. jika tidak berpegangan dengan meja. beberapa karyawannya langsung mendekat termasuk Jane.
"ngga apa-apa mba?! " tanya Jane melihat bisanya yg masih berusaha berdiri
"sakit sih... tapi ga apa apa ko, hampir keseleo aja".. ucap marshanda
"aku bantu keruangan ya mba"ajak Jane
"eh, ga usah Jane, aku ga apa ko... "
Jane tidak menggubris ucapan bossnya, Jane memapah marsha kedalam ruangan marshamarsha dan melepaskan heelsnya yg 10cm itu.
dengan gesit Jane mengambil kotak P3k dan mengoleskan balsem pada kaki marsha. dan memijit nya perlahan.
"hehehe, keliatan ya?! " jawab marsha
"aku perhatiin dari tadi briefing tuh mba udah keliatan ga konsen. dan pas kita bahas soal pernikahan pejabat kota A mba cuma ngangguk ngangguk aja" jelas jane
marsha menunduk sebentar dan menarik nafas panjang
__ADS_1
"aku dijodohin Jane.. "ucap marsha
mata Jane membelalak,.. wanita secantik marsha saja sudah banyak yg mengantri tinggal pilih masih perlu dijodohkan
"balik kezaman siti Nurbaya lagi deh.. " canda Jane
"mba emang ga suka sama calonnya?! " tanya Jane
marsha mengangkat bahunya
"aku belum. ketemu dia dan ga mau tahu juga tapi mama aku ngancem ga mau minum obat hipertensi nya klo aku nolak".. balas marsha
" em... rumit ya ternyata" jawab Jane, Jane tidak ingin banyak bicara
"iya, lusa kami akan diketemukan dan aku harus kejakarta... "
"oo.. orang jakarta calonnya mba?! "
marsha mengangguk
__ADS_1
"dan dia duda beranak 1 JaneJane, istrinya meninggal 3 tahun yg lalu" jelasnya
sekali lagi mata Jane membelalak