
Di sebuah ruangan yang bernuansa putih dengan beberapa alat penopang sebuah kehidupan, seorang pria tengah memegangi tangan istrinya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Pria itu tak beranjak sedikitpun dari kursi di sebelah ranjang istrinya, dia masih terus berharap bahwa akan ada keajaiban yang mampu membuat istri tercintanya itu bangun dan kembali seperti dulu untuk mendampinginya hingga mereka tua dan maut yang memisahkan.
Di belakang pria itu ada dokter dan kedua belah keluarga yang tak tega melihat Satya, pria itu yang bersikeras menolak untuk mencabut alat-alat yang selama sebulan ini tetap membuat Prita, istri dari Satya tetap bernafas.
Prita yang diagnosa mengidap kanker payudara sudah berusaha semaksimal mungkin melawannya sejak 4 tahun yang lalu. Mulanya pengobatan yang dilakukan berhasil dengan membuang jaringan kanker yang berada di sebelah kiri payudara Prita sehingga wanita itu hanya memiliki 1 payudara yaitu sebelah kanan dan untung saja putrinya dan Satya sudah tidak menyusui lagi sehingga Pria tidak merasa berat untuk melakukan tindakan operasi itu.
__ADS_1
Namun satu tahun yang lalu, Prita harus kembali melakukan kemoterapi pada satu payudaranya yang tersisa. Baik dokter dan Prita serta Satya tidak mengira bahwa ternyata kanker payudara itu sudah menyebar sekalipun sudah diangkat. Prita tidak menyalahkan dokter yang pernah memberitahunya sembuh dari pernyakit mematikan itu, karena manusia memang tidak bisa melawan takdir yang diberikan.
Tapi kali ini keadaan Prita berbeda ketika 3 tahun lalu dia menjalani kemoterapi. Tubuhnya semakin lemah, dia sudah botak, dan menjadi kurus kering. Satya, suaminya sudah merasa sangat sedih melihat penderitaan yang dialami istrinya. Dia sebagai suami tidak bisa berbuat apapun demi bisa menyembuhkan rasa sakit yang selalu dirasakan istrinya itu. Dia merasa tidak berguna sama sekali sebagai seorang pria.
Maka ketika keluarga Prita memintanya untuk melepas alat bantu yang sudah membuat Prita tetap bernafas, Satya marah besar. Karena itu sama saja membunuh Prita karena dia yakin istrinya masih ingin hidup. Walau sebenarnya Prita sudah berpamitan melalui surat yang dituliskan istrinya itu dan dititipkan melalui ibu dari Prita untuk Satya bila waktu dimana keadaan Prita tidak memungkinkan untuk berpamitan sendiri pada Satya.
__ADS_1
Tapi suami mana yang bisa dan rela melepaskan alat bantu itu di tubuh wanita yang dia cintai?
"Satya..sudahlah nak, ibu dan bapak juga sudah rela melepas Prita. Meskipun ini sangat berat karena Prita anak kami satu-satunya.. kami harus merelakan dia." Sonya, ibu Prita kembali memberikan bujukan pada Satya. "Biarkan Prita hidup damai, tidak lagi merasakan sakit yang selama ini dia rasakan.. Ibu mohon.."
"Prita.." Lalu terdengar suara tangis dari Satya yang menyayat hati siapapun yang ada disana. "Prita.." Satya maish menangis dan menggumamkan nama istrinya itu.
__ADS_1