Mantan BossKu

Mantan BossKu
merenung


__ADS_3

Di sebuah lahan luas dengan suasana yang sunyi, Satya bersimpuh di hadapan sebuah tanah merah yang bertabur bunga. Tangisnya sudah berhenti, tapi berganti dengan kesedihan tak terkira di dalam hatinya. Hatinya kembali retak tiap kali mengingat saat dimana alat bantu yang menopang hidup istrinya di cabut semalam.


Ya, atas semua pertimbangan, setelah dia banyak merenung. Satya dengan berat hati memberitahu pada dokter yang selama ini merawat istirnya, Prita untuk melepas alat bantu itu. Meskpi Satya masih belum sepenuhnya rela untuk kehilangan istrinya, dia harus tetap tegar untuk melihat istrinya yang akhirnya terbebas dari rasa sakit. Dia harus bisa menekan egoisnya untuk menahan istrinya tetap hidup meski hanya bisa terbaring tak berdaya di atas ranjang.


Keputusan itu disampaikan Satya semalam, dia mulanya memberitahu orang tua dari Prita lalu orang tuanya dan anaknya. Anaknya dengan Prita yang saat ini berumur 4 tahun, Jasmine yang masih belum memahami sepenuhnya apa yang terjadi menanis melihat ibunya yang tak kunjung bangun dan menemaninya bermain sejak sebulan lalu. Hati Satya semakin teriris melihat Jasmine meronta menangis dalam dekapannya ketika Satya memberitahu bahwa ibunya telah meninggalkan mereka.


Tapi jika itu yang terbaik, Satya akan melakukannya demi Prita yang sudah berjuang keras melawan penyakit kanker payudara yang dideritanya sejak 4 tahun lalu. dia sudah tidak tega melihat istrinya yang kesakitan bahkan ketika istrinya itu sudah koma, dia beberapa kali mengalami serangan jantung. Dan itu semakin membuat hati Satya hancur berkeping-keping. Dia sebagai suami wanita itu hanya bisa menangis tiap kali melihatnya, dia merasa dirinya pecundang

__ADS_1


"Apa kamu nggak kesakitan lagi, sayang?" Satya mengusap nisan yang terbuat dari kayu bertuliskan nama istrinya yang meninggal diusia yang cukup muda.


"Aku tahu..aku tahu kamu sudah berjuang sangat keras untuk sembuh.. tapi jika ternyata Tuhan lebih sayang kamu, aku bisa apa.. setiap kamu sakit aku hanya bisa menangis, aku nggak bisa apa-apa.." Satya sudah kehabisan air matanya, namun sejak tadi dia sudah merintih menahan sesak dadanya karena kehilangan wanita yang dicintainya, ibu dari anaknya.


"Sayang... jangan khawatir, sesuai pesan kamu..aku akan hidup baik dan membesarkan anak kita dengan baik juga.. aku janji. Aku janji akan tetap mencintai kamu..dan nggak ada lagi wanita lain yang bisa menggantikan."


Ternyata masih tersisa satu tetes airmata di mata Satya. Bulir airmata itu kemudian jatuh ke atas tanah merah itu. Satya bergerak mencium nisan dari kuburan istrinya. Sesaat kemudian dia beranjak dari simpuhnya dan berdiri. Tidak tegak, karena rasanya semua ini masih berat untk Satya hadapi. Kedepannya, tidak ada lagi Prita yang tersenyum padanya, tidak ada lagi Prita yang bermain bersama anaknya.. dan itu adalah hal terberat bagi Satya untuk lalui.

__ADS_1


Dengan langkah pelan, Satya mulai meninggalkan tanah luas itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan datang, agar Prita tidak kesepian.


sementara di laen tempat


Jane membuka pintu apartemennya dan menemukan Sandra, temannya sejak dia berkuliah di Jakarta berdiri di depan pintu appartemennya.


"Loe putus sama Tomy?" Tanya Sandra lalu masuk ke dalam tempat tinggal Jane yang sudah dianggapnya rumahnya sendiri.

__ADS_1


Jane maish diam dan tidak berniat menjawab. Dia berjalan menuju sofa dan mendudukan dirinya disana lalu memejamkan mata.


__ADS_2