
hari demi hari bulan demi bulan waktu terus bergulir di tengah prita berjuang ,melawan penyakit mematikan itu dan Satya terus mendampingi menemani istrinya itu dengan sabar. dia terus berharap bahwa akan ada keajaiban, atas semua usaha dan perjuangan yang dilakukan istrinya itu akan berbuah hasil. dia ingin prita kembali ke Sisinya lagi bermain bersama putri mereka yang saat ini masih kecil masih membutuhkan prita sebagai sebagai Ibunya dan dirinya pun masih membutuhkan Prita terus ada mendampingi nya
maka ketika keluarga prita memintanya, untuk melepas alat bantu yang sudah membuat prita tetap Bernafas. dia marah besar, karena itu sama saja membunuh prita. karena dia yakin istrinya masih ingin hidup, walau sebenarnya prita sudah berpamitan melalui surat yang dituliskan istrinya itu dan titipan oleh ibu dari prita.untuk setia bila waktu di manakah dan prita tidak memungkinkan untuk berpamitan sendiri pada satya
tapi suami Mana yang bisa dan rela melepaskan alat bantu itu di tubuh wanita yang ia cintai.setya tidak bisa .
"Satya... sudah Lah nak. Ibu dan Bapak sudah rela melepas prita. meskipun ini sangat berat karena prita anak kami satu-satunya, kami harus merelakan dia "ucap Sonya ,Ibu Prita kembali memberikan bujukan pada satya
__ADS_1
"biarkan prita hidup damai tidak lagi merasakan sakit yang dialami seperti saat ini, ibu mohon..."ucapnya kembali sambil meneteskan air mata
"prita...."lalu terdengar suara tangis dari satya yang menyayat hati siapapun yang ada disana
"prita... jangan tinggalkan aku" saat ia masih terus menangis dan menggumamkan nama istrinya
di sebuah lahan luas dengan suasana yang Sunyi, Satya ia masih bersimpuh dihadapan sebuah tanah merah yang bertabur bunga. tangisnya sudah berhenti tapi berganti dengan kesedihan tak terkira. di dalam hatinya, hatinya kembali retak setiap kali mengingat saat di mana alat bantu yang menopang hidup istrinya dicabut semalam .ya..... atas semua pertimbangan, setelah banyak direnungkan dia dengan berat hati memberitahu pada dokter
__ADS_1
yang selama ini merawat istrinya prita, untuk melepas alat bantu itu. meskipun saat ia masih belum sepenuhnya rela untuk kehilangan istrinya, dia harus tetap tegar untuk melihat istrinya yang akhirnya terbebas dari rasa sakit .dia harus bisa menekan egoisnya untuk menahan istrinya tetap hidup ,meskipun hanya bisa berbaring tak berdaya di atas ranjang .
keputusan itu disampaikan semalam dia mulanya memberitahu orang tua dari Prita lalu orang tuanya dan anaknya .anaknya dengan prita yang saat ini berumur 4 tahun. Jasmine yang masih belum memahami sepenuhnya Apa yang terjadi, menangis melihat ibunya yang tak kunjung bangun dan tak lagi bermain bersama nya sejak sebulan yang lalu.
hati Satria semakin teriris, melihat Jasmine meronta menangis dalam dekapannya .ketika saat ia memberitahu bahwa ibunya telah meninggalkan mereka. tapi jika itu yang terbaik buat prita, akan dia melakukannya demi Prita ,yang sudah berjuang keras melawan penyakit kanker payudara yang selama 4 tahun lalu. dia sudah tidak tega melihat istrinya kesakitan .bahkan istrinya sudah beberapa kali mengalami serangan jantung dan itu semakin membuat hati semakin hancur berkeping-keping
"Apa kamu nggak sakitan lagi sayang "ucap Satya sambil mengusap Nisan yang terbuat dari kayu bertuliskan nama istrinya yang meninggal dunia di usia yang cukup muda
__ADS_1