
Jane kemudian menundukkan kepalanya menghindari sorot tajam yang dilemparkan Satya padanya.
"Aku sudah memanggilmu beberapa kali, tapi kau terus mengabaikannya. Jadi terpaksa aku kemari dan menemuimu langsung." Ujar Satya di hadapan Jane yang masih berdiri canggung.
Sial. Batin Jane.
Ternyata boss nya ini bisa senekat ini untuk menemuinya langsung di ruang divisinya. Dan itu akan menajdi masalah besar jika karyawan lain tahu, karena meskipun ini masalah pekerjaan, dalam struktur perusahaan Jane tidak ada sangkut pautnya dengan Satya, karena semua pekerjaan Jane diserahkan pada miss Cleo bukan pada Satya langsung. Jelas alasan itu tidak mungkin digunakan untuk berkilah.
"Maaf, pak. Saya hanya sedang melakukan tugas saya sebagai karyawan." Kata Jane setelah berpikir dan menggunakan alasan sibuk bekerja.
Satya mengamati Jane dari tempatnya berdiri. "Aku yang menyuruhmu, jadi sekalipun kau memiliki tugas segunung kau harusnya mendahulukan perintah atasanmu." Kata Satya mulai menggunakan kuasanya.
Jane hampir saja ingin memutar bola matanya, untung saja belum dan dia tidak ingin dipecat secara tidak hormat dimana seharusnya dia masih bisa resign.
"Tapi apa yang akan bapak bicarakan itu menyangkut masalah pribadi, bukan masalah pekerjaan." Entah keberanian dari mana Jane berkata seperti tadi. Dia merutuki bibirnya yang terlalu lancang.
Satya tersenyum miring. "Memang kau sudah tahu apa yang aku bicarakan nantinya, nona Jane? Dan kau sudah berani menentang atasanmu ini?"
Jane meringis. Benar, dia harusnya tidak menghindar, tapi dia juga bisa membaca bahwa memang Satya ingin membicarakan masalah ONS yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Ikut aku. Sebelum karyawan lain melihatku berdiri bersamamu disini." Satya langsung melangkah kembali masuk ke dalam lift sembari menempelkan ponsel ke telinganya menghubungi seseorang.
Jane mengekori Satya dan ikut masuk ke dalam lift. Kemudian dia tahu siapa yang dihubungi oleh boss besarnya ini, Miss Cleo. Satya berkata ingin meminjam Jane sebentar untuk diskusi soal peraturan perusahaan dan itu di iyakan saja oleh Miss Cleo. Ingin sekali dia berteriak karena Satya menggunakan kekuasaannya untuk memonopoli semua ini.
Baiklah, dia akan segera menyelesaikan semua ini dan pulang ke Bali dengan tenang.
Tapi kemudian tekadnya surut begitu masuk ke dalam ruang kerja Satya yang baru pernah dia jejaki selama bekerja sebagai karyawan pria itu. Dia merasa terintimidasi ketika memasuki ruangan dengan desain warna gelap yang kental seperti coklat, abu-abu, hitam, navy dan hanya ada sedikit warna putih sebagai warna paling terang di ruangan ini. Dan Satya mempersilahkan Jane duduk di sofa yang bisa diduduki oleh 2 orang sedangkan Satya duduk di sofa single dengan posisi 90 derajat dari Jane.
Jane meneguk ludahnya merasa gelisah. Dia duduk dengan tidak tenang karena tatapan Satya yang tidak berubah sejak tadi. seolah men-scan seluruh tubuh Jane bak barcode pada kemasan makanan.
"Jadi.. jadi apa yang akan bapak bicarakan?" Tanya Jane akhirnya setelah mengumpulkan suara dan keberaniannya
Jane mendesah gusar. Benar kan? Satya pasti akan membicarakan hal ini. Setelah menarik nafas untuk menenangkan diri, Jane mendongak menatap satya
"Karena saya yakin tidak perlu pertanggungjawaban. Dan yang bapak khawatirkan bahwa akan ada akibat dari kejadian malam itu tidak akan pernah ada." Ujar Jane tenang dan tegas.
Alis Satya terkenyit. Dia tidak mengerti dengan maksud Jane. "Dari mana kau tahu bahwa kau tidak akan hamil? Kau ingat.. aku tidak menggunakan pengaman dan jelas semua pria lebih menyukai benih mereka masuk ke dalam tempat yang memang seharusnya."
Kini giliran alis Jane yang terkenyit. To much information. Batinnnya.
__ADS_1
Dia tidak mengerti kenapa dia justru membicarakan hal seperti ini dengan bossnya. Tidak pernah ada dibayangannya bahwa dia akan duduk di ruangan kerja Satya dan membicarakan hal yang sangat mustahil antara karyawan dan atasan. Karena ketika Jane masuk kerja di perusahaan ini Satya sudah menikah, semua perempuan yang berharap punya kisah cinta bersama boss yang tampan dan kaya pun kandas. Dan Jane pun saat itu sudah bersama dengan Tomy yang ternyata sangat brengsek!
Jane mendengus mengingat soal Tomy yang menghancurkan hatinya.
"Apa menurutmu nona Jane? Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau tidak akan hamil—"
"Karena saya memang tidak bisa mengandung." Potong Jane tegas, sepertinya memang dia harus segera memberithukan ini pada Satya sehingga pria ini tidak akan merong-rongnya lagi untuk menawarkan pertanggung jawaban yang sama sekali tidak Jane butuhkan.
Satya terdiam ditempatnya mendengar apa yang baru saja Jane katakan. Dia menegakan posisi duduknya. Rasa tidak enak menyebunya. Dia merasa bersalah karena harus mendengar hal yang mungkin sangat tidak nyaman untuk dibagi kepada orang lain.
"maaf.. ''
"Tidak apa-apa, pak. Saya mengerti niat baik bapak yang ingin mempertanggung jawabkan apa yang terjadi malam itu. tapi sayangnya saya tidak membutuhkannya, karena setelah malam itu tidak akan ada akibat yang akan timbul. Jadi bapak tenang saja." Potong Jane lagi sebelum Satya meminta maaf.
Satya menghela nafasnya, dia masih merasa bersalah karena sudah mendengar soal 'kemandulan' Jane. "Tetap saja saya harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya lakukan. Saya tidak ingin menjadi laki-laki brengsek karena sudah melakukan hal buruk tanpa memperbaikinya."
Jane tersenyum mendengar perkataan Satya yang terdengar tulus. "Terimakasih. Tapi sepertinya bapak bisa mempertanggungjawabkan malam itu dengan cara lain.. jika bapak tidak keberatan."
"apa itu?! tanya satya penasaran..
__ADS_1