
"Maksud bapak apa ya?" Jane menampilkan senyum canggung seolah dia kebingungan dengan maksud dari pertanyaan Satya.
Mulanya Satya ikut bingung namun kemudian dia terkekeh. Dia tidak menyangka seorang wanita yang baru saja melakukan one night stand dengan orang asing justru mengelak dan pura-pura tidak mengenal pria yang menghabiskan malam dengannya. Sungguh menakjubkan.
Merasa mengerti dengan Jane yang berusaha untuk berpura-pura di hadapannya akhirnya membuat Satya tidak ingin membahas lebih jauh soal malam panas mereka dan memilih untuk membicarakan lagi soal ini nanti, karena lagi pula dia bisa menemui Jane kapanpun karena wanita itu adalah salah satu karyawannya yang hanya berjarak beberapa lantai dengan tempat kerjanya.
Satya merogoh saku celanan kainnya dan mengambil sesuatu yang kemudian ditunjukkannya pada Jane. "Ini kartumu."
Jane mengikuti arah pandang Satya yang menunjukkan padanya kartu tanda pengenal miliknya itu terdapat di tangan kanan yang terulur di hadapannya.
__ADS_1
Dengan canggung dia maju mengambil kartunya itu. namun saat dia akan menarik kartunya dari genggaman Satya, pria itu justru menahan tali yang terikat langsung dengan kartu tanda pengenalnya.
"Aku tahu kau hanya berpura-pura tidak mengenalku. Aku akan membahas hal ini lagi denganmu nanti, karena semua ini harus segera diselesaikan."
Lalu Satya melepaskan tangannya dari tali itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Jane yang terdiam di tempatnya berpijak saat ini.
_#_#_#_#_#_#
Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul jam 5 sore kurang 10 menit lagi. Dan Jane sudah berencana untuk segera pulang begitu jarum jam di tangannya menunjukkan jam 5 sore tepat. Dia tidak ingin membuang waktu untuk kabur dari panggilan Satya yang tadi menghubunginya lewat pesan chat dari aplikasi sejuta umat bahwa dirinya harus menemui Satya selepas jam kerja di ruangannya langsung. Tapi Jane sudah berencana untuk mangkir dari panggilan itu.
__ADS_1
Dia tidak perduli jika itu menentang perintah atasan, toh apa yang akan dibahas oleh mereka itu urusan pribadi dan bukan tentang perusahaan dimana pria itu sebagai pucuk pimpinan. Semoga Satya mengerti dan memahami untuk memisahkan kedua urusan tersebut.
Dan Jane juga sudah berpikir untuk resign dari kantor yang sudah menjadi tempatnya mencari pundi-pundi rupiah selama 3 tahun ini. Meskipun berat karena dia dulu melewati persaingan ketat untuk bisa menjadi salah satu pegawai disini karena fasilitas yang memang memanusiakan karyawan dan gajih yang setara dengan kerja keras pegawainya. Tapi masalah antara dirinya dan sang direktur utama itu sudah tidak bisa di tolerir lagi.
Jane tidak ingin ada rumor menyebar mengenai dirinya dan kemudian akan di cap negatif oleh seisi kantor. Tentu itu akan menjadi bencana dan Jane lebih baik menyingkir lebih dulu sebelum kehidupannya berubah menjadi neraka di tempat ini. Dan dia akan pulang ke Bali tempat mamanya tinggal saat ini. Dia akan mencari kerja disana, dan pasti akan mendapatkan pekerjaan yang bagus berkat riwayat kerjanya yang pernah menjadi karyawan Ajisaka Group.
Jane sudah keluar dari lift di basement. Dia sengaja melewati jalan ini ketimbang melalui lobi untuk menghindari Satya bisa melacaknya. Dan mobil yang dia pesan melalui aplikasi ojek online sudah menunggu di depan kantor.
Jane berdiri di depan appartemen Sandra, dia kemudian memencet tombol password dari appartemen milik sahabatnya itu yang sudah dia hafal di luar kepala. Dia ingin meminta pendapat dari Sandra sekaligus menceritakan semuanya pada Sandra tentang apa yang terjadi ketika sahabatnya itu juga mabuk.
__ADS_1