
"Loe.. loe bukan pelakor sih.. tapi ini.. istrinya kan baru meninggal.. dan elo.." Sandra terbata-bata menyampaikan maksudnya pada Jane.
"Iya, gue tahu.. tapi sumpah! Waktu itu gue lagi mabok dan yang gue inget Pak Satya nyamperin gue yang duduk di sebelahnya di deket barstool!" Jelas Jane.
"Dan loe nggak kenal atasan loe itu pas loe mabok?"
"Kagak.. pas gue duduk di sebelahnya pun gue nggak tahu kalo itu dia. Arghhh.. kacau!!" Teriak Jane frustasi.
Sandra hanya bisa tersenyum miris. Masalah ONS yang dilakukan Jane ini sepertinya akan berbuntut panjang menurut feelingnya, tetapi feelingnya ini biasanya akan terjadi begitu menyangkut soal sahabatnya ini.
Trus loe mau gimana sekarang? Secara.. loe bisa kapan aja ketemu dia dan gue yakin hari ini pun loe udah ketemu dia secara empat mata 'kan?" Tanya Sandra.
"Iya.. dia ngembaliin kartu gue yang jatuh di apartemennya.. dan berawal dari kartu itu pak Satya akhirnya tahu siapa gue dan dimana dia bisa ketemu gue."
__ADS_1
"Hidup loe kok drama korea banget sih." Komentar Sandra mendengar cerita Jane.
"Setidaknya drama korea masih punya happy ending.. lah gue?" Jane menunduk lesu. "Gue kayaknya harus resign.."
"Loe yakin bakal resign?"
"Dari pada gue ketemu pak Satya terus.. dan gue menghidar terus dari dia.. lebih baik sekalian gue menghilang. Biar soal ONS itu dia lupain sebagai mimpi pas dia tidur aja."
Jane menatap Sandra. Mereka saling bertatapan seolah berbicara lewat mata mereka.
"Gue rasa itu yang terbaik." Ucap Sandra.
Jane mengangguk anggukan kepalanya. "Ya.. gue rasa juga gitu. Besok gue akan bikin surat resign, jadi gue bisa langsung out 2 minggu lagi."
__ADS_1
Sandra bergerak ke arah Jane dan meraih tubuh sahabatnya itu untuk dipeluknya.
"Pulang bukan berarti kalah kok.. tapi menemukan kembali kenyamanan itu yang terpenting." Tutur Sandra sembari mengusap punggung Jane lembut.
_#_#_
Pagi hari sekali waktu jarum jam masih menunjukkan pukul 7.15 WIB, Jane sudah memasuki ruangan divisinya. Ini berarti masih 45 menit lagi sebelum jam masuk kantornya, tapi dia sudah menghidupkan komputernya dan mencari file surat pengunduran diri dan langsung mencetaknya di printer yang ada diruangan itu.
Setelah mendapat lembaran surat pengunduran dirinya, Jane kemudian mengisi beberapa hal yang harus diisi secara manual yaitu nama dan jabatan serta tanda tangannya. Dalam waktu 10 menit, surat pengunduran diri itu sudah jadi dan tinggal menunggu approve dari manajernya dan juga wakil direktur ke 3, Pak Handoko yang berwenang mengurusi resign dan masuknya pegawai. Untung saja untuk mengurusi resign seperti ini tidak butuh acc dari direktur utama. Jane bersyukur sekali karena dia tidak harus bertemu dengan Satya. Dia pun sudah menetapkan diri untuk terus menghindar dari pria itu sampai waktunya dia keluar 2 minggu lagi tiba.
Mungkin Jane akan dicap bodoh karena menolak seorang yang bertanggung jawab setelah tidur dengannya. tapi Jane sudah trauma, dia tidak ingin lagi dimanfaatkan untuk menjadi pemuas hasrat laki-laki dalam masalah **** hanya karena dia tidak normal seperti wanita kebanyakan.
jane mandul
__ADS_1