
Jane merasa dirinya sudah gila . karena
menumpuk kebohongan pada Satya. Dan kenapa
juga mereka bisa berakhir b******U seperti tadi dan
Jane masih saja merasakan sapuan bibir Satya di
atas bibirnya dan tangan pria itu yang menyentuh
tubuhnya.
"Aishh."
Jane membuat rambutya yang berantakan
karena belum di sisir menjadi semakin kusut. Dia
menyandarkan kepalanya di kemudi mobil dan
merutuki pertahanan dirinya yang amat lemah. Tapi
selidaknya dengan kebohongan yang dia ciptakan
dalam kurun waktu kurang dari 5 menit itu bisa
membuat Satya menjauh darinya. Mungkin mereka
Juga tidak akan bertemu lagi jika tidak karena
sebuah kebetulan.
Tapi kenapa kini hatinya merasa tidak siap
karena ucapannya tadi yang meminta Satya untuk
bersikap biasa saja padanya mulai sekarang
Jane melihat ke seleruh luas ruangan
kamarnya. Kini kamar itu terlihat kosong karena
barang-barangnya sebagian sudah dipindahkan ke
Jakarta. Ya, Jakarta. Jane akan pindah ke kota besar
itu untuk mengelola cabang Marsha WO yang
pusatnya ada di Bali. Setelah 1 bulan berlalu, Jane
banyak berpikir untuk menerima tawaran Marsha
mengelola bisnis wanita itu. Meski mamanya masih
belum rela berpisah lagi dengan Jane dan Panji. Tapi
Jane berjanji akan pulang setiap bulan ke Bali
menjenguk mamanya yang tinggal sendirian di Bali.
Tapi Jane bisa lega karena sekarang mamanya
mau menerima seorang laki-laki dihidup mamanya.
Untuk menemani masa tua mamanya dan menua
bersama juga, maka dari Itu Jane mantap pindah ke
Jakarta, karena dia pun harus berkembang
kenyataanya dia butuh banyak biaya untuk
menghidupi Panji ke depannya, dan dia tidak ingin
bergantung pada mamanya. Diaharus bisa
mempertanggung jawabkan pilihannya karena telah
memilih menjadi single parrent.
Lusa dia akan ke Jakarta, Jane dan Panji akan
tinggal di sebuah rumah kecil milik saudara Marsha
yang saat ini tinggal menetap di Singapura dan
menyewakan rumah itu, dan Marsha menyewakan
__ADS_1
rumah saudaranya sebagai fasilitas Jane yang telah
mau menerima tawarannya. Jane sebenarnya heran
juga kenapa Marsha lebih memilih mengelola yang
ada di Bali ketimbang Jakarta karena setahu dirinya
bukankah Marsha dijodohkan dengan pria yang
tinggal di kota metropolitan ini?
"Mamama,"
Dengan langkah kaki kecilnya Panji mengambil
perhatian Jane yang tengah melamun sambil
menatap ke jendela luar. Tadi Panji sedang bermain
di ruang tengah bersama pengaruhnya tapi bocah itu bosan
Jane menyambut Panji yang kini tertawa-tawa melihat
Jane memasang wajah lucu.
"Mamama.. Panji minta pemen" Dengan
tangan mengadah Panji berdiri di depan Jane.
"Pemen?" Tanya Jane mengikuti cara bicara
Panji.
"Pemen manyis enak, mamama" Panji
merengek kesal karena Jane tidak mengerti
maksudnya.
"Marna engga pegang permen."
Jane memperlihatkan kedua tangannya
ke hadapan Panji
jika Jane tidak memegang permen. Tapi dia tahu
tempat dimana biasanya Jane atau neneknya
menyembunyikan makanan manis itu.
"Eh..eh..mama mau dibawa kemana?"
Panji menarik Jane untuk mengikuti langkah
kecilnya nmenuju dapur. Jane kemudian paham
bahwa Panji pasti tahu tempat dia atau mamanya
menyembunyikan permen yang sengaja dia
sediakan bila Panji dan teman-temannya yang
masih tetangga mereka main kemari,
"Itu mamama., buka itu." Sampai di dapur
Panji menunjuk nunjuk kabinet yang letaknya ting
sehingga bocah kecil itu tidak akan bisa mengambil
permen kesukaannya.
"Nggak bisa." Jane berpura-pura tidak bisa
meraih kenop pintu kabinet di hadapan Panji.
Bica!"
"Engga, ini" Jane berpura pura lagi. Lalu Panji
memukul paha Jane dengan kesal dan
matanya sudah memerah dan berkaca-kaca.
"Mama Panji mau pemen Huaaa" Dan
__ADS_1
rengekan itu sudah menjadi tangisan hlsteris
Bukannya langusng mengambilkan apa yang
Panji mau agar tangisannya berhenti, Jane justru
melihat saja Ponjl menangis karena dia selalu
merasa gemas ketika melihat anaknya itu dengan
wajah memerah. Tapi karena tidak tega, dia segera
menggendong putranya dan mengambilkan satu
permen rasa coklat.
"Tapi janji sama mama kalau habis makan
harus gosok giginya." Ujar Jane di hadapan anaknya
sebelum menyerahkan permen itu,
Dengan masih sesenggukan setelah menangis,
Panji mengangguk angguk lalu menyembunyikan
wajahnya di leher Jane karena malu dilihat oleh
mamanya.
"Masa anak mama cengeng sekali sih.."
DRRTT DRRTT
Jane membawa Panji ke sofa dan mendudukan
Panji disana bersebelahan dengannya. dia meralh
ponsel dil saku celananya dan mellhat ada panEgilan
dari Dennis, pria yang rutin menghubunginya
hampir setlap hari.
"Halo, ada yang bisa saya bantu? "sapa Jane
begitu membuka panggilan.
Terdengar suara kekehan dari seberang
"Tolong sampaikan pada wanita bermana Jane
Saraswatika untuk segera sampai di Jakarta." Balas
Denis menyambut gurauan Jane
"Hahaha.. kalau lancar lusa aku sudah di
Jakarta, Den."
"Janji ya.. aku sudah kangen sama Panji.. dan
Juga kangen karmu."
Bukan sekali dua kali Jane mendengar kalimat
rindu dari pria yang dia kenal sebagai anak dari
dokter yang pernah memvonisnya mandul itu. Denis
memang sudah sejak pertama kali mereka
berkenalan dengan tidak ditutup-tutupi berusaha
menarik perhatian Jane. Hampir setiap hari jika pria
itu tidak sibuk Denis akan menghubunginya entah
lewat pesan chat atau telepon seperti ini. Pria tu
Juga seminggu sekali akan membelikan Panji
mainan yang diklrim langung dari Jakarta dan rutin
melakukan video an bersama Panji yang senang
__ADS_1