Mantan BossKu

Mantan BossKu
39


__ADS_3

Jane merasa dirinya sudah gila . karena


menumpuk kebohongan pada Satya. Dan kenapa


juga mereka bisa berakhir b******U seperti tadi dan


Jane masih saja merasakan sapuan bibir Satya di


atas bibirnya dan tangan pria itu yang menyentuh


tubuhnya.


"Aishh."


Jane membuat rambutya yang berantakan


karena belum di sisir menjadi semakin kusut. Dia


menyandarkan kepalanya di kemudi mobil dan


merutuki pertahanan dirinya yang amat lemah. Tapi


selidaknya dengan kebohongan yang dia ciptakan


dalam kurun waktu kurang dari 5 menit itu bisa


membuat Satya menjauh darinya. Mungkin mereka


Juga tidak akan bertemu lagi jika tidak karena


sebuah kebetulan.


Tapi kenapa kini hatinya merasa tidak siap


karena ucapannya tadi yang meminta Satya untuk


bersikap biasa saja padanya mulai sekarang


Jane melihat ke seleruh luas ruangan


kamarnya. Kini kamar itu terlihat kosong karena


barang-barangnya sebagian sudah dipindahkan ke


Jakarta. Ya, Jakarta. Jane akan pindah ke kota besar


itu untuk mengelola cabang Marsha WO yang


pusatnya ada di Bali. Setelah 1 bulan berlalu, Jane


banyak berpikir untuk menerima tawaran Marsha


mengelola bisnis wanita itu. Meski mamanya masih


belum rela berpisah lagi dengan Jane dan Panji. Tapi


Jane berjanji akan pulang setiap bulan ke Bali


menjenguk mamanya yang tinggal sendirian di Bali.


Tapi Jane bisa lega karena sekarang mamanya


mau menerima seorang laki-laki dihidup mamanya.


Untuk menemani masa tua mamanya dan menua


bersama juga, maka dari Itu Jane mantap pindah ke


Jakarta, karena dia pun harus berkembang


kenyataanya dia butuh banyak biaya untuk


menghidupi Panji ke depannya, dan dia tidak ingin


bergantung pada mamanya. Diaharus bisa


mempertanggung jawabkan pilihannya karena telah


memilih menjadi single parrent.


Lusa dia akan ke Jakarta, Jane dan Panji akan


tinggal di sebuah rumah kecil milik saudara Marsha


yang saat ini tinggal menetap di Singapura dan


menyewakan rumah itu, dan Marsha menyewakan

__ADS_1


rumah saudaranya sebagai fasilitas Jane yang telah


mau menerima tawarannya. Jane sebenarnya heran


juga kenapa Marsha lebih memilih mengelola yang


ada di Bali ketimbang Jakarta karena setahu dirinya


bukankah Marsha dijodohkan dengan pria yang


tinggal di kota metropolitan ini?


"Mamama,"


Dengan langkah kaki kecilnya Panji mengambil


perhatian Jane yang tengah melamun sambil


menatap ke jendela luar. Tadi Panji sedang bermain


di ruang tengah bersama pengaruhnya tapi bocah itu bosan


Jane menyambut Panji yang kini tertawa-tawa melihat


Jane memasang wajah lucu.


"Mamama.. Panji minta pemen" Dengan


tangan mengadah Panji berdiri di depan Jane.


"Pemen?" Tanya Jane mengikuti cara bicara


Panji.


"Pemen manyis enak, mamama" Panji


merengek kesal karena Jane tidak mengerti


maksudnya.


"Marna engga pegang permen."


Jane memperlihatkan kedua tangannya


ke hadapan Panji


jika Jane tidak memegang permen. Tapi dia tahu


tempat dimana biasanya Jane atau neneknya


menyembunyikan makanan manis itu.


"Eh..eh..mama mau dibawa kemana?"


Panji menarik Jane untuk mengikuti langkah


kecilnya nmenuju dapur. Jane kemudian paham


bahwa Panji pasti tahu tempat dia atau mamanya


menyembunyikan permen yang sengaja dia


sediakan bila Panji dan teman-temannya yang


masih tetangga mereka main kemari,


"Itu mamama., buka itu." Sampai di dapur


Panji menunjuk nunjuk kabinet yang letaknya ting


sehingga bocah kecil itu tidak akan bisa mengambil


permen kesukaannya.


"Nggak bisa." Jane berpura-pura tidak bisa


meraih kenop pintu kabinet di hadapan Panji.


Bica!"


"Engga, ini" Jane berpura pura lagi. Lalu Panji


memukul paha Jane dengan kesal dan


matanya sudah memerah dan berkaca-kaca.


"Mama Panji mau pemen Huaaa" Dan

__ADS_1


rengekan itu sudah menjadi tangisan hlsteris


Bukannya langusng mengambilkan apa yang


Panji mau agar tangisannya berhenti, Jane justru


melihat saja Ponjl menangis karena dia selalu


merasa gemas ketika melihat anaknya itu dengan


wajah memerah. Tapi karena tidak tega, dia segera


menggendong putranya dan mengambilkan satu


permen rasa coklat.


"Tapi janji sama mama kalau habis makan


harus gosok giginya." Ujar Jane di hadapan anaknya


sebelum menyerahkan permen itu,


Dengan masih sesenggukan setelah menangis,


Panji mengangguk angguk lalu menyembunyikan


wajahnya di leher Jane karena malu dilihat oleh


mamanya.


"Masa anak mama cengeng sekali sih.."


DRRTT DRRTT


Jane membawa Panji ke sofa dan mendudukan


Panji disana bersebelahan dengannya. dia meralh


ponsel dil saku celananya dan mellhat ada panEgilan


dari Dennis, pria yang rutin menghubunginya


hampir setlap hari.


"Halo, ada yang bisa saya bantu? "sapa Jane


begitu membuka panggilan.


Terdengar suara kekehan dari seberang


"Tolong sampaikan pada wanita bermana Jane


Saraswatika untuk segera sampai di Jakarta." Balas


Denis menyambut gurauan Jane


"Hahaha.. kalau lancar lusa aku sudah di


Jakarta, Den."


"Janji ya.. aku sudah kangen sama Panji.. dan


Juga kangen karmu."


Bukan sekali dua kali Jane mendengar kalimat


rindu dari pria yang dia kenal sebagai anak dari


dokter yang pernah memvonisnya mandul itu. Denis


memang sudah sejak pertama kali mereka


berkenalan dengan tidak ditutup-tutupi berusaha


menarik perhatian Jane. Hampir setiap hari jika pria


itu tidak sibuk Denis akan menghubunginya entah


lewat pesan chat atau telepon seperti ini. Pria tu


Juga seminggu sekali akan membelikan Panji


mainan yang diklrim langung dari Jakarta dan rutin


melakukan video an bersama Panji yang senang


 

__ADS_1


__ADS_2