
Lagi pula ada alasan lain dia ingin bekerja dalam bidang yang mengurusi segala ***** bengek tentang pernikahan. Hal yang menjadi tabu untuk Jane karena kondisinya. Melihat wajah bahagia, antusias, dan gugup dari calon pengantin dan keluarganya tiap dia mengurusi pernikahan seseorang membuat Jane ikut larut dalam emosi itu dan membayangkan bahwa dirinya suatu saat nanti juga bisa mengalami hal demikian juga.
Tapi sepertinya bayangan itu harus dikubur dalam-dalam. Kondisinya saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk bisa dan pantas mengalami fase ini.
Tapi Jane benar-benar menyukai pekerjaannya ini. Dia yang dulu sangat kaku dengan apapun yang berbau seni, sekarang dia seperti keranjingan dengan apapun yang berbau seni dan otaknya seolah tak pernah kehabisan ide untuk membantu calon pengantin mewujudkan pernikahan impian mereka. maka dari itu Marsha selaku pemilik WO ini sangat menyayangi Jane karena kerja keras wanita itu sehingga ikut mendorong kemajuan WO-nya ini. Meskipun sudah tersebar di 3 daerah cabang Marsha WO masih belum terlalu dikenal dibanding WO lain. Namun kedatangan Jane 2 tahun lalu membuat WO-nya yang pusatnya berada di Bali ini semakin maju. Dia sangat menghargai kerja keras Jane sehingga menempatkan posisi Jane sebagai orang kepercayaannya selain sekertarisnya Devi.
Pukul 1 siang Jane sudah berada di rumahnya lagi dan dia langsung disambut mamanya yang membawa Panji dalam gendongannya yang menangis dan semakin keras tangisannya begitu melihat sosok Jane yang tengah mencuci tangan di pancuran dekat pintu masuk rumah. Jane pun terburu-buru meraih Panji dalam gedonganya, tidak tega melihat Panji yang sudah memerah wajahnya karena pasti sudah lama menangis.
__ADS_1
"Dia nggak mau makan.. dari tadi nangis terus.. mama nggak tega, Jane.. ayo kita langsung berangkat aja periksa."
Jane mengangguk dan memberikan kunci mobilnya pada bli Wayan untuk mengantar mereka menuju klinik anak terdekat dari rumah mereka. DI dalam mobil Jane tidak berhasil menenangkan Panji, anaknya yang berusia 2 tahun ini masih menangis walau tidak sekeras tadi. selain itu Panji juga bergerak gelisah dalam gendongannya membuat Jane kelimpungan. Sang mama yang duduk di sebelahnya juga ikut khawatir melihat keadaan Panji.
Sampai di sebuah klinik yang untungnya sedang sepi, Jane langsung masuk dan menemui dokter perempuan yang langsung mengarahkan Jane untuk membawa Panji ke arah ranjang periksa. Tentu saja Panji tidak mau dan memberontak dalam tangisnya membuat Jane harus berusaha ekstra untuk memegangis Panji ketika sedang diperiksa.
Setelah pemeriksaan itu Jane pulang dengan Panji yang sudah tertidur. Dia pun segera membawa putranya itu ke kamarnya dan membasuh ikut merebahkan diri ketika Panji menggeliat dan merengek akan menangis. Dia akan menemani sebentar hingga Panji benar-benar terlelap dan dia akan segera membersihkan diri.
__ADS_1
Namun setelah Panji terlelap, Jane masih berbaring di samping Panji. Dia menatap wajah anaknya itu dengan saksama melihat rupa anaknya yang mirip dengan seorang yang menyumbangkan benihnya ke dalam rahim Jane sehingga lahirlah Panji 9 bulan kemudian dengan persalinan caesar karena posisi Panji saat itu sedikit susah tapi pembukaan Jane sudah genap sehingga tim dokter memilih jalan operasi untuk mengeluarkan Panji.
Disaat seperti ini, pikiran Jane kadang menerawang kembali pada 3 tahun yang lalu dimana dia bertemu dengan ayah dari anaknya ini. Seorang yang tidak pernah dia duga akan menjadi ayah dari anaknya. Mereka hanya melakukannya satu kali namun langsung ada hasilnya. Dan Jane yang saat itu mengetahui bahwa dirinya mandul amat sangat terkejut ketika dirinya terus memuntahkan apa saja yang dimakannya dan itu membuat mamanya curiga dan lantas membelikan test pack pada Jane dan saat itulah langit seperti runtuh diatas kepalanya. Dua garis yang nampak di test pack itu menjawab semuanya.
Mama Jane tidak tahu bahwa Jane mandul. Jane menyembunyikan fakta tersebut dari mamanya karena tidak ingin membuat beliau khawatir. Namun justru kini dirinya membuat kepala mamanya hampir pecah karena fakta bahwa dia hamil dan Jane yang tidak mau memberitahu siapa pria yang harusnya bertanggung jawab atas kehamilan Jane.
Usia yang ditunjukkan oleh dokter melalui proses USG kala itu adalah 3 minggu. Dan jelas dari situ Jane tahu siapa ayah dari calon bayinya. Karena sudah hampir dua bulan dia tidak berhubungan intim dengan Tomy maka kemudian dia yakin Satya adalah ayah dari calon bayinya. Karena usia calon bayinya dan waktu mereka melakukan ONS sama dan cocok. Jane merasa dilema, apakah dia akan mempertahankan bayi itu atau tidak, dan apakah dia harus memberitahukan kehamilannya ini pada Satya atau tidak.
__ADS_1
Tapi kemudian setelah dia puas menangis dan mengurung diri di dalam kamar seharian. Dia mendapatkan jawaban bahwa dia harus mempertahankan bayi itu sebagai suatu keajaiban yang dia dapatkan setelah dia dinyatakan mandul oleh dokter dan uga memutuskan untuk tidak memberitahukannya pada Satya karena dia sudah mengatakan pada pria itu bahwa pria itu tidak perlu bertanggungjawab, maka Jane akan memegang kata-katanya meski membuat mamanya marah.