
TING TONG
Suara bel terdengar nyaring ketika dia
memencet bel yang ada di samping gerbang yang
terbuat dari kayu. Dan dia kemudian bisa melihat
seorang wanita paruh baya keluar dari rumah dan
menuju gerbang.
"Selamat siang, dengan siapa ya?" Tanya
wanita paruh baya itu.
Satya kemudian menunduk sebentar untuk
menyapa dan kembali berhadapan dengan wanita
paruh baya itu.
"Selamat siang, bu. Saya Satya, saya ada perlu
dengan Jane Saraswatika. Saya baru saja ke kantor.
WO nya dan mendapatkan kartu nama ini." Satya
menunjukkan kartu nama itu pada wanita paruh
baya yang masih berdiri di balik pagar demi
keamanan, karena Satya saat ini merupakan orang
asing yang baru ditemuinya.
"Oh.. tamu Jane, kalau begitu masuk." Wanita
paruh baya itu langsung saja bersikap ramah ketika
Satya sekali lagi menunjukkan kartu nama yang
Satya masuk Ke dalam ruma
dipersilahkan oleh wanita paruh baya yang
menyatakan dirinya adalah mama Jane. Pantas
wajah wanita paruh baya ini familiar untuknya.
Begitu dia masuk, suasana yang didapatinya adala
suasana hangat karena dekorasi ruangan yang
justru sangat berbeda dengan luarnya yang tampak
megah.
Satya dipersilahkan duduk di atas sofa ruang
tamu dan mama Jane pamit karena tiba-tiba saja
Suara tangisan anak kecil terdengar tadi. Dia
meletakan keranjang buah yang dibawanya begitu
mendengar Jane sakit di atas meja di hadapannya.
Satya lalu menjadi penasaran dengan suara anak
kecil itu. Hingga 10 menit kemudian dia masih
mendengar suara tangisan anak kecil itu sehingga
membuat nalurinya sebagai ayah yang pernah
merawat anak kecil yang susah untuk diam saat
menangis pun tanpa sadar masuk ke dalam ruang
tengah dan melilhat mama Jane sedang menimang
masih 2 atau 3 tahun. Bocah kecil itu meronta-ronta
digendongan mama Jane dan terus menangis
histeris.
"Mamama! Mamama!" Bocah kecil itu terus
menggumam kata mama sambil menangis.
"Maaf ya.. cucu saya ini baru bangun tidur dah
rewel karena ditinggal mamanya berobat." Kata
mama Jane ketika melihat Satya berada di ambang
pintu batas antara ruang tengah dan ruang tamu.
Ditinggal mamanya berobat?
Entah kenapa kalimat itu mengusik benak
Satya.
"Yang berobat itu.. Jane?" Tanya Satya ragu.
Dia merasakan jantungnya berdebar saat ini.
Wanita paruh baya itu mendekat padanya
sembari membawa Panji bersamanya.
"lya, sudah dua hari Jane terkenal
flu berat jadi dia sedang ke klinik."
__ADS_1
Satya menahan nafasnya mendengar jawaban
mama Jane. Pikirannya langsung kalut ketika dia
menghubungkan antara malam dimana dia
habiskan bersama Jane dengan usia anak Jane
digendongan neneknya ini.
"Putra Jane ini umurnya berapa, bu? Kalau,
saya boleh tahu." Satya dengan susah payah
menelan ludahnya, tidak siap jika dugaannya
semakin menunjukkan kebenaran.
"Namanya Panji, dia umurnya dua tahun lebih."
Jawab mama Jane.
Satya langsung berpegangan pada tembok
begitu mendengar jawaban mama Jane, dia bisa
saja jatuh saat itu karena... karena jika dugaannya
ini benar. maka Panji, bocah kecil yang sudah
berhenti menangis ketika melihat Satya ini adalah
anak kandungnya bersama Jane yang tidak ia
ketahui selama ini. Dalam artian Jane
menyembunyikan fakta ini selama 3 tahun.
Satya tersadar dari lamunannya ketika tangan
seorang menepuki pipinya dan dia menemukan
Panji, bocah kecil yang masih di gendong oleh
mama Jane ini sudah berhenti memangis dan
mengulurkan tangannya pada Satya.
"Uluh..uluh.. cucu nenek minta gendong uncle
ya.." Gumam mama Jane.
"Papapa.." Panji bergumam kecil lalu terkikik
sendiri.
"Bukan papa, sayang.. tapI
Uncle.. paman
Koreksi mama Jane.
"lya, bu?"
"Sepertinya Panji ingin bersama anda, saya
minta tolong jagakan dia sebentar sementara saya
ingin membuatkannya susu dulu."
"Oh, iya bu." Satya kemudian mengambil alih
Panji ke dalam gendongannya dan mendengar
bocah kecil itu bertepuk tangan.
"Senangnya cucu nenek.. tolong titip dulu, ya."
Mama Jane yang sudah berumur itu dengan
gesit melangkahkan kaki menuju dapur yang bisa
terlihat dari ruang tengah ini, Dan Satya membawa
Panji menuju ruang tamu dengan menggendongnya
dan sesekali mengamati wajah Panji dengan
saksama.
Dan setelah itu Satya justru semakin yakin
dengan dugaannya. Wajah Panji ini hampir serupa
dengan wajah Jasmine yang mirip dengannya. Tppi
Satya ingat betul bahwa dia pernah melihat foto
wajahnya ketika balita hampir sama dengan Panji
Apa panji ini betul anaknya?
Anaknya yang sengaja Jane sembunyikan
selama 3 tahun ini?
Jadi Jane tidaklah mandul seperti yang
dikatakan sewaktu mereka membuat kesepakatan?
Karena kemudian dari perbuatan mereka malam itu
hadirlah bocah kecil yang saat ini sangat senang
berada di gendongan Satya?
"Buka..buka..."
__ADS_1
Satya kembali fokus pada Panji yang saat ini
berdiri di depan meja dan memukul-mukul
keranjang buah yang dibawanya dan menarnik-narik
plastik yang membungkusnya.
" Panji mau?" Dan bocah kecit itu merngangguk
dengan polos. Satya kembali merasa bahwa Panji
memang benar anaknya. Dia juga pernah melihat
Jasmine dengan tingkah polah seperti ini.
Satya kemudian membukakan plastik yang
menutupi keranjang buah itu, dia sejenak berpikir
akan memberikan buah apa pada Panji, disana ada
buah jeruk tapi dia tidak ingin Panji sakit perut, lalu
dia melihat pada buah anggur, buah itu pasti lebih
mudah dicerna oleh anak-anak dan rasanya manis.
Satya mengambil satu butir buah anggur dan
mengelapnya dengan sapu tangannya lalu
mengupaskan kulitnya. Dia membiarkan Panji
bermain dengan buah yang ada di keranjang itu
sehingga kini dekorasinya sudah berantakan.
Saat dia hendak menyuapkan buah anggur itu
ke mulut Panji. Tangannya tiba-tiba ditepis oleh
seseorang dan dia melihat itu mama Jane yang
dengan wajah cemas, khawatir berdiri di depannya.
"Maaf, nak. Tapi Panji alergi anggur "
satya tidak enak mama Jane menjelaskan kenapa
sampai menepis tangan Satya.
Satya pun merasa bersalah karena hampir 9ajal
membuat bocah kecil itu mengalami musibah akibal
tindakan teledornya.
"Maaf, bu.. saya tidak tahu. Terimakasih sudah
mengingatkan."
"lya sama-sama, nak. Untung belum terjadi."
Tapi kemudian Satya ingat sesuatu, dia juga
alergi buah anggur ketika kecil. Ini tidak mungkin
cuma kebetulan 'kan?
"Mama pulang...
Baik Satya, mama Jane dan Panji menoleh
ketika mendengar suara Jane dari arah pintu yang
jaraknya tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Mamama.." Gumam Panji dengan riang
melihat mamanya sudah pulang
Namun keriangan itu sungguh berbeda dengan apa yang terpampang diwajah Jane dan Satya saat
ini. Jane menatap apa yang dilihatnya saat ini
dengan terkejut. Satya.. dan Panji anaknya yang
berada di pangkuan pria itu.
" Kamu sudah pulang, Jane. Ini ada tamu yang
cari kamu, sepertinya ada keperluan penting samti-
kesini." Kata mama Jane menyambut Jane pulang
" Tadinya saya kemari hanya ada desikit
keperluan, bu. Tapi sepertinya sekarang saya ada
hal penting untuk bertemu dengan putri anda dan
harus segera diselesaikan."
Jane membeku di tempatnya berdiri menengar
kalimat Satya yang dikatakan padanya dengan sorot
mata tajam mengintimidasi. Dan dia mencengkram
tali tas selempang yang di gunakannya ketika Satya
mengusap kepala Panji dan mencium pipi Panji
dengan mata yang terus menatap ke arahnya.
Satya.. tidak mungkin sudah tahu soal Panji,
__ADS_1
kan?