Mantan BossKu

Mantan BossKu
42


__ADS_3

TING TONG


Suara bel terdengar nyaring ketika dia


memencet bel yang ada di samping gerbang yang


terbuat dari kayu. Dan dia kemudian bisa melihat


seorang wanita paruh baya keluar dari rumah dan


menuju gerbang.


"Selamat siang, dengan siapa ya?" Tanya


wanita paruh baya itu.


Satya kemudian menunduk sebentar untuk


menyapa dan kembali berhadapan dengan wanita


paruh baya itu.


"Selamat siang, bu. Saya Satya, saya ada perlu


dengan Jane Saraswatika. Saya baru saja ke kantor.


WO nya dan mendapatkan kartu nama ini." Satya


menunjukkan kartu nama itu pada wanita paruh


baya yang masih berdiri di balik pagar demi


keamanan, karena Satya saat ini merupakan orang


asing yang baru ditemuinya.


"Oh.. tamu Jane, kalau begitu masuk." Wanita


paruh baya itu langsung saja bersikap ramah ketika


Satya sekali lagi menunjukkan kartu nama yang


Satya masuk Ke dalam ruma


dipersilahkan oleh wanita paruh baya yang


menyatakan dirinya adalah mama Jane. Pantas


wajah wanita paruh baya ini familiar untuknya.


Begitu dia masuk, suasana yang didapatinya adala


suasana hangat karena dekorasi ruangan yang


justru sangat berbeda dengan luarnya yang tampak


megah.


Satya dipersilahkan duduk di atas sofa ruang


tamu dan mama Jane pamit karena tiba-tiba saja


Suara tangisan anak kecil terdengar tadi. Dia


meletakan keranjang buah yang dibawanya begitu


mendengar Jane sakit di atas meja di hadapannya.


Satya lalu menjadi penasaran dengan suara anak


kecil itu. Hingga 10 menit kemudian dia masih


mendengar suara tangisan anak kecil itu sehingga


membuat nalurinya sebagai ayah yang pernah


merawat anak kecil yang susah untuk diam saat


menangis pun tanpa sadar masuk ke dalam ruang


tengah dan melilhat mama Jane sedang menimang


masih 2 atau 3 tahun. Bocah kecil itu meronta-ronta


digendongan mama Jane dan terus menangis


histeris.


"Mamama! Mamama!" Bocah kecil itu terus


menggumam kata mama sambil menangis.


"Maaf ya.. cucu saya ini baru bangun tidur dah


rewel karena ditinggal mamanya berobat." Kata


mama Jane ketika melihat Satya berada di ambang


pintu batas antara ruang tengah dan ruang tamu.


Ditinggal mamanya berobat?


Entah kenapa kalimat itu mengusik benak


Satya.


"Yang berobat itu.. Jane?" Tanya Satya ragu.


Dia merasakan jantungnya berdebar saat ini.


Wanita paruh baya itu mendekat padanya


sembari membawa Panji bersamanya.


"lya, sudah dua hari Jane terkenal


flu berat jadi dia sedang ke klinik."

__ADS_1


Satya menahan nafasnya mendengar jawaban


mama Jane. Pikirannya langsung kalut ketika dia


menghubungkan antara malam dimana dia


habiskan bersama Jane dengan usia anak Jane


digendongan neneknya ini.


"Putra Jane ini umurnya berapa, bu? Kalau,


saya boleh tahu." Satya dengan susah payah


menelan ludahnya, tidak siap jika dugaannya


semakin menunjukkan kebenaran.


"Namanya Panji, dia umurnya dua tahun lebih."


Jawab mama Jane.


Satya langsung berpegangan pada tembok


begitu mendengar jawaban mama Jane, dia bisa


saja jatuh saat itu karena... karena jika dugaannya


ini benar. maka Panji, bocah kecil yang sudah


berhenti menangis ketika melihat Satya ini adalah


anak kandungnya bersama Jane yang tidak ia


ketahui selama ini. Dalam artian Jane


menyembunyikan fakta ini selama 3 tahun.


Satya tersadar dari lamunannya ketika tangan


seorang menepuki pipinya dan dia menemukan


Panji, bocah kecil yang masih di gendong oleh


mama Jane ini sudah berhenti memangis dan


mengulurkan tangannya pada Satya.


"Uluh..uluh.. cucu nenek minta gendong uncle


ya.." Gumam mama Jane.


"Papapa.." Panji bergumam kecil lalu terkikik


sendiri.


"Bukan papa, sayang.. tapI


Uncle.. paman


Koreksi mama Jane.


"lya, bu?"


"Sepertinya Panji ingin bersama anda, saya


minta tolong jagakan dia sebentar sementara saya


ingin membuatkannya susu dulu."


"Oh, iya bu." Satya kemudian mengambil alih


Panji ke dalam gendongannya dan mendengar


bocah kecil itu bertepuk tangan.


"Senangnya cucu nenek.. tolong titip dulu, ya."


Mama Jane yang sudah berumur itu dengan


gesit melangkahkan kaki menuju dapur yang bisa


terlihat dari ruang tengah ini, Dan Satya membawa


Panji menuju ruang tamu dengan menggendongnya


dan sesekali mengamati wajah Panji dengan


saksama.


Dan setelah itu Satya justru semakin yakin


dengan dugaannya. Wajah Panji ini hampir serupa


dengan wajah Jasmine yang mirip dengannya. Tppi


Satya ingat betul bahwa dia pernah melihat foto


wajahnya ketika balita hampir sama dengan Panji


Apa panji ini betul anaknya?


Anaknya yang sengaja Jane sembunyikan


selama 3 tahun ini?


Jadi Jane tidaklah mandul seperti yang


dikatakan sewaktu mereka membuat kesepakatan?


Karena kemudian dari perbuatan mereka malam itu


hadirlah bocah kecil yang saat ini sangat senang


berada di gendongan Satya?


"Buka..buka..."

__ADS_1


Satya kembali fokus pada Panji yang saat ini


berdiri di depan meja dan memukul-mukul


keranjang buah yang dibawanya dan menarnik-narik


plastik yang membungkusnya.


" Panji mau?" Dan bocah kecit itu merngangguk


dengan polos. Satya kembali merasa bahwa Panji


memang benar anaknya. Dia juga pernah melihat


Jasmine dengan tingkah polah seperti ini.


Satya kemudian membukakan plastik yang


menutupi keranjang buah itu, dia sejenak berpikir


akan memberikan buah apa pada Panji, disana ada


buah jeruk tapi dia tidak ingin Panji sakit perut, lalu


dia melihat pada buah anggur, buah itu pasti lebih


mudah dicerna oleh anak-anak dan rasanya manis.


Satya mengambil satu butir buah anggur dan


mengelapnya dengan sapu tangannya lalu


mengupaskan kulitnya. Dia membiarkan Panji


bermain dengan buah yang ada di keranjang itu


sehingga kini dekorasinya sudah berantakan.


Saat dia hendak menyuapkan buah anggur itu


ke mulut Panji. Tangannya tiba-tiba ditepis oleh


seseorang dan dia melihat itu mama Jane yang


dengan wajah cemas, khawatir berdiri di depannya.


"Maaf, nak. Tapi Panji alergi anggur "


satya tidak enak mama Jane menjelaskan kenapa


sampai menepis tangan Satya.


Satya pun merasa bersalah karena hampir 9ajal


membuat bocah kecil itu mengalami musibah akibal


tindakan teledornya.


"Maaf, bu.. saya tidak tahu. Terimakasih sudah


mengingatkan."


"lya sama-sama, nak. Untung belum terjadi."


Tapi kemudian Satya ingat sesuatu, dia juga


alergi buah anggur ketika kecil. Ini tidak mungkin


cuma kebetulan 'kan?


"Mama pulang...


Baik Satya, mama Jane dan Panji menoleh


ketika mendengar suara Jane dari arah pintu yang


jaraknya tidak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Mamama.." Gumam Panji dengan riang


melihat mamanya sudah pulang


Namun keriangan itu sungguh berbeda dengan apa yang terpampang diwajah Jane dan Satya saat


ini. Jane menatap apa yang dilihatnya saat ini


dengan terkejut. Satya.. dan Panji anaknya yang


berada di pangkuan pria itu.


" Kamu sudah pulang, Jane. Ini ada tamu yang


cari kamu, sepertinya ada keperluan penting samti-


kesini." Kata mama Jane menyambut Jane pulang


" Tadinya saya kemari hanya ada desikit


keperluan, bu. Tapi sepertinya sekarang saya ada


hal penting untuk bertemu dengan putri anda dan


harus segera diselesaikan."


Jane membeku di tempatnya berdiri menengar


kalimat Satya yang dikatakan padanya dengan sorot


mata tajam mengintimidasi. Dan dia mencengkram


tali tas selempang yang di gunakannya ketika Satya


mengusap kepala Panji dan mencium pipi Panji


dengan mata yang terus menatap ke arahnya.


Satya.. tidak mungkin sudah tahu soal Panji,

__ADS_1


kan? 


__ADS_2